Asuransi Syariah Apakah Menguntungkan?

Background
Tulisan ini ingin mengupas mengenai ekonomi syariah khususnya yang berkaitan dengan asuransi syariah dan diproyeksikan akan booming dalam waktu dekat ini terutama di tahun 2008. Kekuatan dari ekonomi Islama adalah pada karakteristik yang dimiliki oleh sistemnya antara lain kejelasan dan kemudahan, fitur yang membedakan dari system konvensional. Menggunakan data yang berasal dari Bank Indonesia, pada tahun 2005 sudah terdapat 78 perusahaan takaful yang beroperasi di seluruh dunia. Dengan menggunakan asumsi bahwa di tahun 2000 total gross premium Takaful adalah senilai USD 530 Juta, pertumbuhan rata-rata per tahun 1995-2000 adalah 63% maka diperkirakan the present gross premium Takaful telah mencapai USD 5 Miliar yang memberikan coverage terhadap aset senilai USD 20 Miliar. Sedangkan aset asuransi syariah di Indonesia pada saat ini hanya mencapai Rp 960 Miliar (1.01%) dari total aset asuransi di Indonesia yang pada bulan desember 2006 telah mencapai Rp 94,83 Triliun.
Definisi Akad
Di dalam ekonomi syariah semua transaksi bisnis harus menggunakan akad yang memiliki definisi ”pertalian ijab yang dilakukan oleh salah satu pihak yang menadakan kontrak dengan qabul yang diucapkan oleh pihak lain”. Misalnya: Amin berkata: Saya menjual buku ini dengan harga Rp 100,-. Lantas Burhan menjawab: saya beli buku itu dengan harga tersebut. Beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat pelaksanaan akad adalah pertama, bahwa akad mengingat mengikat kedua belah pihak untuk melaksanakan kewajiban mereka masing-masing secara timbal balik. Kedua Term & Conditionnya sudah secara rinci dan spesifik. Ketiga, Bila kewajiban tidak dapat dipenuhi maka sanksi yang diterima sesuai dengan kesepakatan awal aqad. Terakhir, akad membuka kemungkinan untuk adanya berbagai jenis khiyar (opsi) sebagai tanda kebebasan transaksi antara para pihak. Akad sendiri memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi guna kelancaran transaksi bisnis antara pihak-pihak yang berkepentingan seperti yang sudah disinggung di atas. Berdasarkan tujuan Akad dapat dibagi menjadi dua macam yaitu Akad Tijari yang dimaksudkan untuk mencari dan mendapatkan keuntungan dimana rukun dan syarat telah dipenuhi. Yang kedua adalah Akad Tabarru’ yang dimaksudkan untuk menolong dan murni semata-mata untuk tujuan sosial (baca: Ridha dan Pahala dari Allah Ta’ala).
Transaksi Asuransi Syariah
Di dalam asuransi syariah ada 3 jenis akad yang dilakukan yaitu akad pertama antara peserta dengan perusahaan sebagai pemegang amanah. Kemudian akad kedua adalah antara peserta kepada ahli waris atau penerima manfaat. Yang terakhir adalah akad antar perusahaan dengan pihak pengelola dana. Seperti di ekonomi konvensional, prinsip-prinsip investasi masih dipegang yaitu adanya return & risiko. Akad peserta dengan perusahaan asuransi syariah ada dua produk yaitu produk yang hanya mengandung unsur risiko yang terdiri dari akad Mudharabah, Wakalah, dan Tabarru’. Akad Mudharabah adalah akad kerjasama antara pemilik dana (baca: shohibul maal) yang menyediakan seluruh kebutuhan modal dengan pihak yang mengelola usaha (mudharib) untuk melakukan suatu kegiatan usaha bersama dan keuntungan yang diperoleh dibagi menurut perbandingan (baca: nisbah) yang disepakati. Sedangakan Akad Wakalah adalah akad pemberian kuasa dari peserta kepada perusahaan asuransi untuk mengelola dana peserta dan/atau melakukan kegiatan lain sebagaimana disebutkan dengan atau tanpa imbalan pemberian fee (baca: ujrah). Sedangakan Akad Tabarru’ sudah dijelaskan di atas. Produk kedua adalah produk yang mengandung unsur risiko dan investasi yang terdiri dari dua akad yaitu akad Mudharabah dan akad Wakalah. Akad kedua yaitu antara peserta dengan ahli waris atau penerima manfaat, return yang diperoleh dapat dihibahkan misalnya dalam bentuk education plan, dapat diwaqafkan, atau dapat sebagai dana untuk dibagikan kepada ahli waris, dan merupakan pembayaran sisa pembiayaan/hutang. Kemudian akad ketiga antara perusahaan asuransi syariah dengan pengelola dana bisa memiliki prinsip-prinsip simpanan, bagi hasil, jual beli, sewa, pengambilan fee, dan biaya administrasi.
Jenis-Jenis Produk Asuransi Syariah
Konsep pengelolaan dana juga dapat dibagi menjadi dua yaitu mekanisme kerja produk-produk non-tabungan, sebagai berikut:

mekanisme kerja produk-produk tabungan,sebagai berikut:

Apabila melihat mekanisme kerja kedua jenis produk-produk di atas maka ada pengembalian dalam bentuk surplus dan return yang menjadi bagian dari peserta dan perusahaan asuransi. Bahkan pada produk-produk yang mengandung tabungan maka return yang diperoleh oleh peserta ditambah dengan surplus dari account khusus (baca: tabarru’) dan keuntungan ini tidak diperoleh apabila peserta membeli produk konvensional.
Nilai Tambah
Beberapa nilai tambah yang diperoleh oleh peserta dari para peserta adalah yang pertama Good Corporate Governance yaitu dari mulai pembuatan produk harus disetujui terlebih dahulu oleh Dewan Syariah Nasional – MUI dan pengelola dana adalah perusahaan asuransi serta manajemen investasi syariah atau pun yang memiliki divisi syariah serta di dalam operasionalnya perusahaan pengeloa diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah – MUI untuk memastikan Syariah Compliance pada pengelola dana. Sistem pembukuan harus mengikuti kaedah syariah serta harus adanya transparansi informasi kepada pihak-pihak yang memiliki kepentingan. Kepesertaan juga bersifat terbuka dan tidak ada diskriminasi baik secara suku, agama maupun kelompok.
Instrumen-Instrumen Investasi Syariah
Apabila kita berbicara mengenai perbankan maka dunia perbankan tidak bisa dipisahkan dari asuransi, dan apabila kita berbicara mengenai asuransi maka tidak bisa kita pisahkan asuransi dengan pasar modal. Saat ini sudah cukup banyak instrumen investasi syariah yaitu saham-saham yang masuk ke dalam Jakarta Islamic Index dan Daftar Efek Syariah yang dikeluarkan oleh Bapepam, obligasi syariah ijarah maupun mudharabah korporasi ditambah lagi di awal tahun 2008 akan diikuti oleh obligasi syariah pemerintah setelah undang-undang sukuk disetujui oleh DPR, serta pasar uang yang terdiri dari Deposito Mudharabah dan Sertifikat Wadiah Bank Indonesia.
Instrumen-instrumen lainnya yang makin marak seperti Islamic REITs yaitu kesempatan berinvestasi pada real estate bagi investor melalui pasar modal serta kesempata untuk melakukan diversifikasi baik secara lokasi maupun spesialisasi real estate tersebut. Islamic REITs baru ada di Malaysia akan tetapi hal tersebut tidak menutup kemungkinan bagi investor dari Indonesia untuk berinvestasi pada pasar tersebut.
Islamic Financial Planning
Asuransi syariah merupakan produk yang sangat bagus apabila kita berbicara mengenai Financial Planning baik untuk dana pensiun, pendidikan anak, dana ibadah haji maupun umroh. Asuransi Syariah berbicara dua hal yaitu produk investasi dan produk proteksi yang merupakan dua sisi dari perencanaan keuangan jangka panjang melalui produk-produk yang halal dan sudah sesuai dengan syariah.

Perilaku “Redemption” Investor Individu pada berbagai jenis produk Reksa dana

Tulisan ini ingin mengenal perilaku redemption yang dilakukan oleh para nasabah dikaitkan dengan kondisi portfolio mereka terutama investasi produk reksa dana. Reksa dana di tahun 2007 mengalami bertumbuhan yang sangat signifikan terutama karena didorong oleh kinerja IHSG yang semakin melonjak dan Suku Bunga Bank Indonesia yang semakin turun. Akan tetapi kekhawatiran akan kejatuhan pasar modal yang disebabkan oleh Sub Prime Mortgage di Amerika Serikat juga menjadi perhatian yang serius bahkan para analis sudah tidak dapat memprediksikan secara akurat dampak yang ditimbulkannya. Ditambah lagi dengan resesi yang kemungkinan terjadi di Amerika Serikat saat ini karena dampak lesunya ekonomi Amerika Serikat terutama pada sektor properti. Seorang investor yang memiliki dana sebesar Rp 22 Miliar yang diinvestasikan pada portfolio ekuitas mendapatkan Gain hingga Rp 1,550 Miliar, Gain tersebut diperoleh sebelum terjadinya crash pada stock Market Thailand pada bulan Desember 2006, dan ketika terjadi crash pada stock market Thailand tersebut stock market di Indonesia mendapatkan imbasnya dengan penurunan index sebanyak 50 point dan hal ini mempengaruhi nilai asset investor tersebut sehingga mengalami penurunan sebesar Rp 510 juta sehingga asset tersebut masih memberikan profit hingga Rp 1,040 Miliar walaupun nilai asset mengalami rebound dari sisi Gain hingga mencapai nilai Rp 1,79 Miliar sampai pada saat interview dilakukan. Satu kejadian penurunan atau Loss nilai asset menjadikan investor menjadi berpikir ulang, bayangkan apa yang terjadi apabila Loss terjadi sebelum Gain di dapat tentunya investor akan mengalami luka yang lebih dalam dibandingkan kasus di atas, hal ini dikonfirmasi oleh Nicholas Barberis dan Ming Huang (2001). Investor tersebut adalah Loss Aversion berdasarkan prospect theory (Khaneman & Tversky 1979). Penulis secara sederhana ingin melihat perilaku para investor ini melalui pola uji statistik dan ekonometrik, dan melihat pengaruh variabel yang sengaja penulis modifikasi terhadap besaran redemption. Dalam literatur-literatur behavioral finance disebutkan bahwa perilaku redemption yang mendominasi pada stock di pasar modal umumnya yaitu melakukan realisasi keuntungan terlalu dini apabila harga stock tersebut mengalami kenaikan, dan melakukan penahanan realisasi kerugian apabila harga stock tersebut mengalami penurunan, yang kita kenal disposition effect.
Fenomena Psikologis
Bagaimana Psychology mempengaruhi pengambilan keputusan dalam sektor Financial[1] dapat dijabarkan melalui tabel di bawah:
Tabel 1
Fenomena Psikologis
Fenomena Psikologis
Contoh Pengambilan Keputusan Financial yang Salah
Kerugian yang Diderita oleh Individu
1. Bias:

Excessive Optimism
Investor berpikiran optimis bahwa mereka mendapatkan tingkat pengembalian seperti pasar
Menyebabkan tingkat pengembalian yang rendah karena lingkungan seperti inflasi, fee, dan pajak telah memakan keuntungan yang didapatnya
Over Confidence
Melakukan trading terlalu sering
Menyebabkan tingkat pengembalian yang buruk
Confirmation bias
Investor hanya mencari informasi yang memberikan sokongan terhadap keputusan investasi yang dibuatnya
Mendapatkan tingkat pengembalian yang tidak diharapkan karena perubahan keadaan
Illusion of Control
Menyebabkan investor gagal dalam merencanakan rencana pensiunnya
Investor lebih menyukai asset class tertentu seperti equity dibandingkan bond karena mereka lebih menyukai untuk mengambil risiko yang tinggi dan tidak dapat melakukan kontrol pada perilakunya
2. Heuristics:

Representativeness
Melakukan penelitian track record pada fund manager berdasarkan performa sebelumnya misalnya 6 bulan atau satu tahun menggunakan data statistik yang tidak mencukupi yang menyatakan bahwa performa sebuah fund tergantung dari hasil alokasi atau pemilihan yang jitu fund manager tersebut
Investor cenderung meniadakan kemungkinan bahwa sebuah fund dapat memiliki performa yang stabil walaupun beberapa analis memprediksikan bahwa fund tersebut memiliki kemungkinan menimbulkan kerugian
Fenomena Psikologis
Contoh Pengambilan Keputusan Financial yang Salah
Kerugian yang Diderita oleh Individu
Availability
Memilih investasi berdasarkan informasi yang tersedia kepada mereka
Tidak mendapatkan hasil investasi yang terbaik karena perusahaan investasi dengan tingkat pengembalian yang tertinggi tidak banyak melakukan iklan publik
Anchoring
Investor cenderung membuat forecast pada sebuah asset class berdasarkan tingkat pendapatan saat ini
Mengurangi nilai investasinya karena adanya forecast pertumbuhan yang bias
Affect
Bergantung pada intuisi dibandingkan dengan valuasi yang formal
Mengurangi nilai perusahaan karena mengambil projek yang memiliki NPV negatif
3. Framing Effects

Loss Aversion
Investor menjual winning portfolio terlalu dini karena rasa takut bahwa labanya akan hilang kecuali mereka melakukan penjualan
Memiliki konsekuensi portfolionya mendapatkan tingkat pengembalian yang rendah
Fenomena Psikologis
Contoh Pengambilan Keputusan Financial yang Salah
Kerugian yang Diderita oleh Individu
Aversion to sure a Loss
Investor melakukan hold pada nilai investasi yang turun terlalu lama
Memiliki konsekuensi bahwa portfolio mengalami tingkat pengembalian yang negatif
Sumber: Pompian, Michael M., (2006), Behavioral finance and Wealth Management, New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.
Kaedah yang umum dipakai di bidang behavioral finance terutama riset yang dilakukan oleh Daniel Kahneman and Amos Tversky (1979), disertai dengan fenomena perkembangannya yang dilengkapi dengan perkembangan industri reksa dana secara umum dan hasil survey atau wawancara yang dilakukan oleh Investment Company Institute (ICI) kepada investor individu yang mengambil keputusan redemption pada reksa dana. Tulisan ini dalam penelitiannya menggunakan metodologi regresi yang dikombinasikan dengan metodologi non-parametrically hazard rate yang dikembangkan oleh Han dan Hausman(1990), Meyer(1990) untuk melihat kemungkinan penjualan reksa dana pada periode setelah melakukan pembelian pada kondisi baik mendapatkan NAB naik maupun kondisi buruk mendapatkan NAB turun.
Perilaku Redemption pada Reksa Dana
Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh Investment Company Insitute, ada dua kategori pemilik reksa dana yang melakukan kegiatan redemption yaitu pemilik yang menjual sebagai share mereka yang disebut sebagai partial redemption dan pemilik yang menjual semua share yang mereka miliki yang disebut sebagai full redemption. Berdasarkan hasil riset di atas hampir semua kegiatan redemption yang dilakukan oleh shareholder dalam mengambil keputusan untuk menjual dana mereka adalah didasarkan oleh kemauan sendiri. Untuk full redemption mencapai 71% dan partial redemption mencapai 82%. Hal ini menunjukan peranan dari financial adviser dan informasi yang dipublikasikan melalui publik tidak terlalu memberikan pengaruh dalam pengambilan keputusan[2].
Gambar 1‑1
The Role of Financial Advisers and Published Financial Information in the Redemption Decision

Sumber: Investment Company Institute, 1993, “Understanding Shareholder Redemption Decisions”.
Hanya sekitar 14-15% pemilik dana yang melakukan full redemption yang terpengaruh oleh financial consultant maupun informasi publik dan hanya 6-8% pemilik dana yang melakukan partial redemption yang terpengaruh.
Berdasarkan hasil riset investor individu tidak akan melakukan redemption kecuali mereka memiliki alasan yang kuat. Alasan yang kuat dalam hal ini termasuk (i) keinginan untuk melakukan rebalancing pada portfolio mereka karena keinginan pribadi atau adanya perubahan pada matrix covariance asset return, (ii) keinginan untuk memenuhi kebutuhan likuiditas, dan (iii) keinginan untuk melakukan eksploitasi keuntungan pajak.
Investor Individu melakukan aktivitas trading yang terlalu sering[3] biasanya memperoleh average return yang paling rendah setelah dikurangi biaya transaksi. Hal yang lebih menarik lagi yaitu laki-laki yang secara aktif melakukan trading stock memiliki performa yang jauh lebih buruk dibandingkan dengan perempuan. Investor individu juga seringkali tidak mengakui Loss yang diderita dan aktivitas trading dipengaruhi oleh performa di masa lalu serta price pattern di masa lalu. Menurut hasil riset[4], perilaku full redemption dengan perilaku partial redemption sangat berbeda dalam hal pengambilan keputusan. Riset itu menyebutkan bahwa pengambilan keputusan reksa dana yang dijual melalui sales force dalam hal ini perbankan sebagai contoh, untuk full redemption dipengaruhi oleh alasan strategi investasi mencapai 77% sedangkan untuk partial redemption dipengaruhi oleh kebutuhan dana mencapai 81%. Khusus untuk pengambilan keputusan full redemption memiliki alasan, yaitu:
(i). Ingin melakukan investasi reksa dana pada perusahaan lain mencapai prosentase 30%
(ii). Merasa prihatin terhadap kondisi investasi atau kondisi pasar mencapai prosentase 19%
(iii). Ingin menginvestasikan uangnya pada produk investasi selain reksa dana mencapai prosentase 18%
Berikutnya berdasarkan hasil riset[5], alasan mengapa perilaku full redemption memilih share pada reksa dana tersebut adalah:
(i). Tingkat pengembalian yang diharapkan pada reksa dana tersebut lebih rendah dari pada tingkat pengembalian yang diharapkan pada investasi lainnya mencapai prosentase 46%
(ii). Dana tersebut merupakan sumber likuiditas yang paling nyaman mencapai prosentase 20%
Kemudian berdasarkan hasil riset[6], aktivitas reinvestasi yang dilakukan oleh full redemption yaitu sebagai berikut:
(i). Investasi kembali pada reksa dana mencapai prosentase 67% bagi tenaga penjual seperti perbankan.
(ii). Investasi kembali pada produk investasi lainnya mencapai prosentase 38% bagi tenaga penjual seperti perbankan.
(iii). Investasi kembali pada produk saving deposit mencapai prosentase 20% bagi tenaga penjual seperti perbankan.
Hasil penelitian
Hasil penelitian menunjukkan, investor individu yang menjadi nasabah beberapa fund yang dijual melalui agen seperti bank mengambil keputusan melakukan redemption adalah secara eksklusif didorong oleh penurunan performa dananya. Hal ini dapat disimpulkan berdasarkan data harian individu investor untuk kemudian data direkonstruksi berdasarkan Gain, loss, daily return dan daily outflow.
Penelitian ini tidak menemukan hubungan yang signifikan antara kenaikan NAB dengan perilaku redemption, hal ini terkait dengan persepsi investor individu untuk mengejar dan membeli reksa dana yang memiliki performa ”relative” lebih baik.
Temuan lainnya juga menunjukkan bahwa besaran volatilitas jenis reksa dana tertentu lebih besar dibandingkan dengan jenis reksa dana lainnya. Sebagai contoh reksa dana pendapatan tetap yang memiliki alokasi aset kelolaan hingga 44% di tahun 2005 (Gambar 1-1) dan 36.7% di tahun 2006 (Gambar 1-2)[7], dengan semakin besar alokasi aset kelolaan maka semakin besar pula ”bubble” pada reksa dana tersebut karena hazard rate pada semua jenis reksa dana yang deteliti yang terdiri dari reksa dana saham, pendapatan tetap, dan campuran memiliki kemiripan pola, maka semakin besar daily return khususnya pada jenis reksa dana pendapatan tetap, semakin besar pula volatilitasnya. Sebagai contoh ketika bubble pada reksa dana tersebut meletus seperti yang terjadi pada tahun 2005, maka pengaruh terbesar yang dirasakan adalah pada reksa dana pendapatan tetap ini.
Gambar 1‑2
Alokasi Aset Kelolaan Reksa Dana Periode Desember 2005 (dalam Rp triliun)

Sumber: E-monitoring Bapepam, yang diolah
Gambar 1‑3
Alokasi Aset Kelolaan Reksa Dana Periode Desember 2006 (dalam Rp triliun)
Sumber: E-monitoring Bapepam, yang diolah
Kemudian bagi penulis, adalah tantangan untuk mengetahui bagaimana dan seperti apa struktur behavior investor individu di dalam mengambil keputusannya seperti yang dialami oleh industri reksa dana di 2-3 tahun terakhir yang kemudian dikaitkan dengan perubahan besaran hazard rate yang signifikan. Sedangkan bagi akademisi, hal ini semakin menguatkan kesimpulan bahwa industri reksa dana Indonesia memiliki bentuk pasar yang sangat dipengaruhi oleh kondisi makro ekonomi negara tersebut. Bagi pelaku industri reksa dana adalah waktu yang tepat untuk melakukan diversifikasi produk dan meningkatkan kompetensinya karena begitu cepat perkembangan industri ini, ditambah lagi dengan investor yang semakin menuntut untuk mendapatkan produk dan layanan nilai tambah dari industri ini.
[1] (Mehra dan Prescott 1985, Benartzi dan Thaler 1995). Shleifer (2000), halaman 2
[2] Understanding Shareholder Redemption Decisions by Investment Company Institute
[3] “Do Individual Investors Learn from Their Trading Experience?” by Gina Nicolosi, Liang Peng, Ning Zhu
[4] “Understanding Shareholder Redemption Decision” by Investment Company Institute
[5] Ibid, halaman 19
[6] Ibid, halaman 26
[7] Bapepam

Kepemimpinan pada Projek yang Sulit

Project Manager harus menjadi pemimpin. Kepemimpinan adalah mudah ketika hal-hal lainnya berjalan baik. Hanya ketika pada saat sulit menjadi seorang pemimpin yang baik bisa menjadi berat. Dan waktu tersebut sangat dibutuhkan kepemimpinan yang kuat. Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat dijadikan acuan bagi Anda untuk memimpin tim pada projek dengan tingkat kesulitan tinggi.
· Keep your eyes on the big picture: Pada saat waktu yang berat, emosi anggota tim terlalu focus pada permasalahan. Seorang pemimpin harus tetap focus pada visi untuk menyelesaikan objektif yang ingin dicapai oleh projek Detil jangka pendek adalah penting bagi peran manager. Ketika Anda melakukan manajemen pada detil, kepemimpinan Anda focus pada big picture dan makna yang Anda berikan. Jangan terlalu fokus pada detil, Terus menerus memberikan kepemimpinan yang baik.
· Maintain team cohesion: Ketika keadaan mejadi berat, bahkan anggota tim yang paling loyal mejadi pesimis. Anggota tim terlalu emosi untuk mulai menyerang orang2 yang dianggap musuhnya dan bahkan salang menyerang antara anggota tim yang ada. Mereka mulai mempertanyakan satu sama lain dan mencari kesalahan antara satu sama lain. Seorang pemimpin harus melawan tekanan tersebut dan membantu anggota tim untuk bertahan bersama.
· Be the first to sacrifice: Ketika ada luka yang dapat dibagi, seorang pemimpin harus melakukannya. Jika tim membutuhkan bekerja overtime, seorang project manager harus bekerja over time juga. Jika anggota tim harus datang di hari sabtu, project manager juga harus berada di tempat juga. Jangan hanya berbagi luka, tetapi rasakan luka tersebut lebih dari yang anda bagi (tidak seluruhnya).
· Remain Calm: Kepanikan adalah merupakan emosi yang biasa pada maunsia dan tidak ada seorangpun yang kebal terhadapnya. Seorang pemimpin harus memikirkan masalah dan tetapi rasional. Menjaga ketengan memungkinkan seorang pemimpin dapat mengambil keputusan yang baik kepada semua anggota tim. Panik hanya menyebabkan kehancuran dan perasaan tenang mendorong kepada keberhasilan.
· Motivate: Pada saat yang berat dan menantang, orang cenderung untuk habis tingkat kesabarannya. Mereka tidak melihat jalan keluar dari masalah. Seorang projek manager harus focus pada bagaimana memotivasi anggota tim dan hasil kerja dapat memberikan hal yang baik. Seorang pemimpin harus selalu positif dan menjaga anggota tim selalu positif.
· Create small wins: Ketika terjadi hal yang tidak diinginkan, anggota tim mulai berpikir bagaimana mereka dapat keluar dari masalah. Seorang project manager harus mencara cara untuk menang, walaupun sedikit dan bersifat sementara. Dengan kemenangan2 kecil, seorang pemimpin akan membangun rasa kepercayaan diri dan attitude yang positif.
· Keep a sense of humor. Hampir semua kehidupan dapat ditertawakan. Seorang project manager harus mencari kesempatan bersama tim untuk bergembira, tertawa pada diri masing2 dan pada situasi tersebut.

Ketika seorang projek manager memperlihatkan leadership, pada akhirnya anggota tim akan mengikuti walaupun tidak serta merta. Seorang project manager adalah pada posisi yang tepat untuk memimpin dan bertanggung jawaba dan mengembalikan projek pada tempatnya kembali.

Selamat melakukan manajemen projek

Contoh Struktur Direktori yang dapat Membantu melakukan manajemen dokumentasi projek

Tip:
Seorang projek manager pada projek besar harus melakukan planning di depan bagaimana mereka menginginkan dokumentasi mereka untuk diorganisasi, disimpan dan dilihat di kemudian hari. Berikut adalah cara untuk membut setting directory dokumen

Projek besar biasanya megenerate banyak sekali dokumen. Jika kita tidak berhati-hati dokumen2 tersebut akan mudah menjadi disorganized dan membutuhkan usaha ekstra dari tim untuk menemukan, menyimpan, melakukan manajemen. Seorang projek manajer pada projek yang besar harus melakukan planning di depan bagaimana mereka menginginkan dokumen mereka untuk diorganisasikan, disimpan dan dilihat dikemudian hari.

Banyak aspek pada manajemen dokumentasi projek. Satu hal yang kita butuhkan adalah bagaimana kita mendefinisikan sebuah direktori atau struktur folder yang dapat memberikan panduan kepada anggota tim untuk menentukan lokasi tertentu untuk menyimpan dokumentasi.

Step pertama adalah mendefinisikan sebuah tampilan logic bagaimana dokumentasi dapat diorganisasikan. Tampilan logic berarti bahwa Anda menempatkan sebuah draft untuk diberikan feedback. Dan ketika anda telah sepakat mengenai tampilan tersebut, Anda dapat mengimplementasikannya dalam sebuah struktur direktori yang spesifik atau menggunakan sebuah tool. Struktur dimaksud harus mudah dimengerti dan mudah digunakan. Kami merekomendasikan bahwa repository dokumen harus terdiri dari 4 area utama:

§ Project Deliverables: Sebuah directory yang menyimpan semua projek yang terkai dengan deliverable. Kemudian dipecah lagi menjadi subfolder yang memberikan panduan lebih jauh mengenai lokasi dimana dokumen spesifik harus disimpan.

§ Project Management Deliverables: adalah sebuah direktori untuk menyimpan semua deliverable yang terkait dengan project management (Charter, Status Reports, Communication Pan, etc.)

§ Reference: Direktori ini digunakan untuk menyimpan dokumentasi yang digunakan sebagai input dalam project seperti definisi arsitektur, chart organisasi client, material training, grafis, dan lain2

§ Work Area: Merupakan area yang termasuk dalam direktori dimana setiap anggota tim dapat menggunakan untuk mengerjakan pekerjaannya. Setiap anggota tim dapat melakukan organisasi direktori mereka dengan cara apapun yang masuk akal kepada mereka. Tidak ada struktur standar

Berikut adalah contoh direktori bagaimana anda dapat menggnakan 4 area di atas untuk membuat sebuah template direktori yang dapat digunakan di semua projek.

Project ABC (place your project name here)
\Project Deliverables
\Final\Draft\Work in Progress
\Project Management Deliverables
\Project Definition\Communications\Presentations\Financial Information\Logs\Miscellaneous\Workplans\Status \Meeting Minutes\Reports
\Reference
\Tutorials\Templates\Other Reference Material
\Workarea
\Team member 1\Team member 2\(etc..)