//
you're reading...
Investasi Reksadana

Perilaku “Redemption” Investor Individu pada berbagai jenis produk Reksa dana


Tulisan ini ingin mengenal perilaku redemption yang dilakukan oleh para nasabah dikaitkan dengan kondisi portfolio mereka terutama investasi produk reksa dana. Reksa dana di tahun 2007 mengalami bertumbuhan yang sangat signifikan terutama karena didorong oleh kinerja IHSG yang semakin melonjak dan Suku Bunga Bank Indonesia yang semakin turun. Akan tetapi kekhawatiran akan kejatuhan pasar modal yang disebabkan oleh Sub Prime Mortgage di Amerika Serikat juga menjadi perhatian yang serius bahkan para analis sudah tidak dapat memprediksikan secara akurat dampak yang ditimbulkannya. Ditambah lagi dengan resesi yang kemungkinan terjadi di Amerika Serikat saat ini karena dampak lesunya ekonomi Amerika Serikat terutama pada sektor properti. Seorang investor yang memiliki dana sebesar Rp 22 Miliar yang diinvestasikan pada portfolio ekuitas mendapatkan Gain hingga Rp 1,550 Miliar, Gain tersebut diperoleh sebelum terjadinya crash pada stock Market Thailand pada bulan Desember 2006, dan ketika terjadi crash pada stock market Thailand tersebut stock market di Indonesia mendapatkan imbasnya dengan penurunan index sebanyak 50 point dan hal ini mempengaruhi nilai asset investor tersebut sehingga mengalami penurunan sebesar Rp 510 juta sehingga asset tersebut masih memberikan profit hingga Rp 1,040 Miliar walaupun nilai asset mengalami rebound dari sisi Gain hingga mencapai nilai Rp 1,79 Miliar sampai pada saat interview dilakukan. Satu kejadian penurunan atau Loss nilai asset menjadikan investor menjadi berpikir ulang, bayangkan apa yang terjadi apabila Loss terjadi sebelum Gain di dapat tentunya investor akan mengalami luka yang lebih dalam dibandingkan kasus di atas, hal ini dikonfirmasi oleh Nicholas Barberis dan Ming Huang (2001). Investor tersebut adalah Loss Aversion berdasarkan prospect theory (Khaneman & Tversky 1979). Penulis secara sederhana ingin melihat perilaku para investor ini melalui pola uji statistik dan ekonometrik, dan melihat pengaruh variabel yang sengaja penulis modifikasi terhadap besaran redemption. Dalam literatur-literatur behavioral finance disebutkan bahwa perilaku redemption yang mendominasi pada stock di pasar modal umumnya yaitu melakukan realisasi keuntungan terlalu dini apabila harga stock tersebut mengalami kenaikan, dan melakukan penahanan realisasi kerugian apabila harga stock tersebut mengalami penurunan, yang kita kenal disposition effect.
Fenomena Psikologis
Bagaimana Psychology mempengaruhi pengambilan keputusan dalam sektor Financial[1] dapat dijabarkan melalui tabel di bawah:
Tabel 1
Fenomena Psikologis
Fenomena Psikologis
Contoh Pengambilan Keputusan Financial yang Salah
Kerugian yang Diderita oleh Individu
1. Bias:

Excessive Optimism
Investor berpikiran optimis bahwa mereka mendapatkan tingkat pengembalian seperti pasar
Menyebabkan tingkat pengembalian yang rendah karena lingkungan seperti inflasi, fee, dan pajak telah memakan keuntungan yang didapatnya
Over Confidence
Melakukan trading terlalu sering
Menyebabkan tingkat pengembalian yang buruk
Confirmation bias
Investor hanya mencari informasi yang memberikan sokongan terhadap keputusan investasi yang dibuatnya
Mendapatkan tingkat pengembalian yang tidak diharapkan karena perubahan keadaan
Illusion of Control
Menyebabkan investor gagal dalam merencanakan rencana pensiunnya
Investor lebih menyukai asset class tertentu seperti equity dibandingkan bond karena mereka lebih menyukai untuk mengambil risiko yang tinggi dan tidak dapat melakukan kontrol pada perilakunya
2. Heuristics:

Representativeness
Melakukan penelitian track record pada fund manager berdasarkan performa sebelumnya misalnya 6 bulan atau satu tahun menggunakan data statistik yang tidak mencukupi yang menyatakan bahwa performa sebuah fund tergantung dari hasil alokasi atau pemilihan yang jitu fund manager tersebut
Investor cenderung meniadakan kemungkinan bahwa sebuah fund dapat memiliki performa yang stabil walaupun beberapa analis memprediksikan bahwa fund tersebut memiliki kemungkinan menimbulkan kerugian
Fenomena Psikologis
Contoh Pengambilan Keputusan Financial yang Salah
Kerugian yang Diderita oleh Individu
Availability
Memilih investasi berdasarkan informasi yang tersedia kepada mereka
Tidak mendapatkan hasil investasi yang terbaik karena perusahaan investasi dengan tingkat pengembalian yang tertinggi tidak banyak melakukan iklan publik
Anchoring
Investor cenderung membuat forecast pada sebuah asset class berdasarkan tingkat pendapatan saat ini
Mengurangi nilai investasinya karena adanya forecast pertumbuhan yang bias
Affect
Bergantung pada intuisi dibandingkan dengan valuasi yang formal
Mengurangi nilai perusahaan karena mengambil projek yang memiliki NPV negatif
3. Framing Effects

Loss Aversion
Investor menjual winning portfolio terlalu dini karena rasa takut bahwa labanya akan hilang kecuali mereka melakukan penjualan
Memiliki konsekuensi portfolionya mendapatkan tingkat pengembalian yang rendah
Fenomena Psikologis
Contoh Pengambilan Keputusan Financial yang Salah
Kerugian yang Diderita oleh Individu
Aversion to sure a Loss
Investor melakukan hold pada nilai investasi yang turun terlalu lama
Memiliki konsekuensi bahwa portfolio mengalami tingkat pengembalian yang negatif
Sumber: Pompian, Michael M., (2006), Behavioral finance and Wealth Management, New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.
Kaedah yang umum dipakai di bidang behavioral finance terutama riset yang dilakukan oleh Daniel Kahneman and Amos Tversky (1979), disertai dengan fenomena perkembangannya yang dilengkapi dengan perkembangan industri reksa dana secara umum dan hasil survey atau wawancara yang dilakukan oleh Investment Company Institute (ICI) kepada investor individu yang mengambil keputusan redemption pada reksa dana. Tulisan ini dalam penelitiannya menggunakan metodologi regresi yang dikombinasikan dengan metodologi non-parametrically hazard rate yang dikembangkan oleh Han dan Hausman(1990), Meyer(1990) untuk melihat kemungkinan penjualan reksa dana pada periode setelah melakukan pembelian pada kondisi baik mendapatkan NAB naik maupun kondisi buruk mendapatkan NAB turun.
Perilaku Redemption pada Reksa Dana
Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh Investment Company Insitute, ada dua kategori pemilik reksa dana yang melakukan kegiatan redemption yaitu pemilik yang menjual sebagai share mereka yang disebut sebagai partial redemption dan pemilik yang menjual semua share yang mereka miliki yang disebut sebagai full redemption. Berdasarkan hasil riset di atas hampir semua kegiatan redemption yang dilakukan oleh shareholder dalam mengambil keputusan untuk menjual dana mereka adalah didasarkan oleh kemauan sendiri. Untuk full redemption mencapai 71% dan partial redemption mencapai 82%. Hal ini menunjukan peranan dari financial adviser dan informasi yang dipublikasikan melalui publik tidak terlalu memberikan pengaruh dalam pengambilan keputusan[2].
Gambar 1‑1
The Role of Financial Advisers and Published Financial Information in the Redemption Decision

Sumber: Investment Company Institute, 1993, “Understanding Shareholder Redemption Decisions”.
Hanya sekitar 14-15% pemilik dana yang melakukan full redemption yang terpengaruh oleh financial consultant maupun informasi publik dan hanya 6-8% pemilik dana yang melakukan partial redemption yang terpengaruh.
Berdasarkan hasil riset investor individu tidak akan melakukan redemption kecuali mereka memiliki alasan yang kuat. Alasan yang kuat dalam hal ini termasuk (i) keinginan untuk melakukan rebalancing pada portfolio mereka karena keinginan pribadi atau adanya perubahan pada matrix covariance asset return, (ii) keinginan untuk memenuhi kebutuhan likuiditas, dan (iii) keinginan untuk melakukan eksploitasi keuntungan pajak.
Investor Individu melakukan aktivitas trading yang terlalu sering[3] biasanya memperoleh average return yang paling rendah setelah dikurangi biaya transaksi. Hal yang lebih menarik lagi yaitu laki-laki yang secara aktif melakukan trading stock memiliki performa yang jauh lebih buruk dibandingkan dengan perempuan. Investor individu juga seringkali tidak mengakui Loss yang diderita dan aktivitas trading dipengaruhi oleh performa di masa lalu serta price pattern di masa lalu. Menurut hasil riset[4], perilaku full redemption dengan perilaku partial redemption sangat berbeda dalam hal pengambilan keputusan. Riset itu menyebutkan bahwa pengambilan keputusan reksa dana yang dijual melalui sales force dalam hal ini perbankan sebagai contoh, untuk full redemption dipengaruhi oleh alasan strategi investasi mencapai 77% sedangkan untuk partial redemption dipengaruhi oleh kebutuhan dana mencapai 81%. Khusus untuk pengambilan keputusan full redemption memiliki alasan, yaitu:
(i). Ingin melakukan investasi reksa dana pada perusahaan lain mencapai prosentase 30%
(ii). Merasa prihatin terhadap kondisi investasi atau kondisi pasar mencapai prosentase 19%
(iii). Ingin menginvestasikan uangnya pada produk investasi selain reksa dana mencapai prosentase 18%
Berikutnya berdasarkan hasil riset[5], alasan mengapa perilaku full redemption memilih share pada reksa dana tersebut adalah:
(i). Tingkat pengembalian yang diharapkan pada reksa dana tersebut lebih rendah dari pada tingkat pengembalian yang diharapkan pada investasi lainnya mencapai prosentase 46%
(ii). Dana tersebut merupakan sumber likuiditas yang paling nyaman mencapai prosentase 20%
Kemudian berdasarkan hasil riset[6], aktivitas reinvestasi yang dilakukan oleh full redemption yaitu sebagai berikut:
(i). Investasi kembali pada reksa dana mencapai prosentase 67% bagi tenaga penjual seperti perbankan.
(ii). Investasi kembali pada produk investasi lainnya mencapai prosentase 38% bagi tenaga penjual seperti perbankan.
(iii). Investasi kembali pada produk saving deposit mencapai prosentase 20% bagi tenaga penjual seperti perbankan.
Hasil penelitian
Hasil penelitian menunjukkan, investor individu yang menjadi nasabah beberapa fund yang dijual melalui agen seperti bank mengambil keputusan melakukan redemption adalah secara eksklusif didorong oleh penurunan performa dananya. Hal ini dapat disimpulkan berdasarkan data harian individu investor untuk kemudian data direkonstruksi berdasarkan Gain, loss, daily return dan daily outflow.
Penelitian ini tidak menemukan hubungan yang signifikan antara kenaikan NAB dengan perilaku redemption, hal ini terkait dengan persepsi investor individu untuk mengejar dan membeli reksa dana yang memiliki performa ”relative” lebih baik.
Temuan lainnya juga menunjukkan bahwa besaran volatilitas jenis reksa dana tertentu lebih besar dibandingkan dengan jenis reksa dana lainnya. Sebagai contoh reksa dana pendapatan tetap yang memiliki alokasi aset kelolaan hingga 44% di tahun 2005 (Gambar 1-1) dan 36.7% di tahun 2006 (Gambar 1-2)[7], dengan semakin besar alokasi aset kelolaan maka semakin besar pula ”bubble” pada reksa dana tersebut karena hazard rate pada semua jenis reksa dana yang deteliti yang terdiri dari reksa dana saham, pendapatan tetap, dan campuran memiliki kemiripan pola, maka semakin besar daily return khususnya pada jenis reksa dana pendapatan tetap, semakin besar pula volatilitasnya. Sebagai contoh ketika bubble pada reksa dana tersebut meletus seperti yang terjadi pada tahun 2005, maka pengaruh terbesar yang dirasakan adalah pada reksa dana pendapatan tetap ini.
Gambar 1‑2
Alokasi Aset Kelolaan Reksa Dana Periode Desember 2005 (dalam Rp triliun)

Sumber: E-monitoring Bapepam, yang diolah
Gambar 1‑3
Alokasi Aset Kelolaan Reksa Dana Periode Desember 2006 (dalam Rp triliun)
Sumber: E-monitoring Bapepam, yang diolah
Kemudian bagi penulis, adalah tantangan untuk mengetahui bagaimana dan seperti apa struktur behavior investor individu di dalam mengambil keputusannya seperti yang dialami oleh industri reksa dana di 2-3 tahun terakhir yang kemudian dikaitkan dengan perubahan besaran hazard rate yang signifikan. Sedangkan bagi akademisi, hal ini semakin menguatkan kesimpulan bahwa industri reksa dana Indonesia memiliki bentuk pasar yang sangat dipengaruhi oleh kondisi makro ekonomi negara tersebut. Bagi pelaku industri reksa dana adalah waktu yang tepat untuk melakukan diversifikasi produk dan meningkatkan kompetensinya karena begitu cepat perkembangan industri ini, ditambah lagi dengan investor yang semakin menuntut untuk mendapatkan produk dan layanan nilai tambah dari industri ini.
[1] (Mehra dan Prescott 1985, Benartzi dan Thaler 1995). Shleifer (2000), halaman 2
[2] Understanding Shareholder Redemption Decisions by Investment Company Institute
[3] “Do Individual Investors Learn from Their Trading Experience?” by Gina Nicolosi, Liang Peng, Ning Zhu
[4] “Understanding Shareholder Redemption Decision” by Investment Company Institute
[5] Ibid, halaman 19
[6] Ibid, halaman 26
[7] Bapepam

Tentang ghifi

I am glad that I have wonderful friends around me who always make me smile and accept me with warm heart. But my family is the reason that I am here, My wife and my daughter are the most important people in my life. I hope that friends will make me rich in life and they are always there for me when I need them.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 293 pengikut lainnya.