
Diambil dari Riset ETF di Indonesia yang diterbitkan oleh Bapepam
Ingin mencari sebuah alternative investasi selain reksa dana conventional? Saham yang resikonya tinggi? Atau obligasi (bond) yang mahal biaya investasinya? Mudah? Murah? Serta likuid dapat diperdagangkan kapan saja, serta memberikan imbal hasil yang tidak kalah dibandingkan kedua instrumen di atas? Exchange Traded Funds (ETF) adalah produk yang relatif baru di dunia pasar modal. ETF pertama kali dikembangkan di Kanada di sekitar tahun 1990-an. Instrumen ini merupakan instrumen yang murah yang dapat mengakses eksposur pasar secara luas (atau juga sempit bila memang dibutuhkan).
ETF pada dasarnya adalah penggabungan karakteristik dari dua produk yakni reksa dana berbentuk terbuka dan saham. Namun tidak seperti reksa dana, investor tidak membeli atau menjual kembali unit penyertaannya kepada manajer investasi. Investor justru membeli unit penyertaan atau saham ETF di suatu bursa. Meskipun ETF diperdagangkan sama halnya seperti saham, namun ETF memiliki struktur yang sama dengan reksa dana yang merepresentasikan kepemilikan atas efek-efek dalam portofolio.
Faktor utama yang mendorong perkembangan ETF secara pesat adalah efisiensi harga. Harga ETF sangat mendekati nilai aktiva bersihnya sebagai akibat investor mengetahui nilai aktiva bersih portofolio ETF yang diumumkan manajer investasi secara harian dan investor mengetahui secara lengkap portofolio dari ETF itu sendiri. Di samping itu, ETF juga memiliki struktur biaya yang relatif lebih rendah dari reksa dana.
Produk ETF yang berkembang demikian pesat di sejumlah negara ini akan juga dikembangkan di pasar modal Indonesia. Untuk itu perlu kajian mendalam berkaitan dengan peraturan yang dibutuhkan guna penerapan ETF. Selain itu diperlukan kesiapan pelaku pasar modal dalam penciptaan dan perdagangan ETF.
Pasar modal Indonesia sejak tahun 1996 telah mengembangkan Reksa Dana sebagai salah satu instrumen yang didesain untuk menjangkau investor ritel. Industri reksa dana ini diharapkan dapat menjadi ujung tombak dalam memperkuat serta memperluas basis investor. Sepanjang kurun waktu tahun 2000-2003 perkembangan reksa dana menujukkan peningkatan yang siginifikan, namun pada tahun 2004 peningkatan NAB reksa dana menunjukkan perkembangan yang melambat atau mengalami titik kejenuhan. Hal ini memerlukan inovasi-inovasi baru dalam pengembangan reksa dana. Salah satu inovasi yang dapat dilakukan adalah dengan mengembangkan reksa dana yang dapat diperdagangkan di bursa (exchange traded funds).
Di Amerika Serikat, sejak diperkenalkan tahun 1993 perkembangan nilai dana kelolaan ETF menunjukkan tingkat pertumbuhan yang signifikan dan sampai dengan akhir Juni 2005 jumlah ETF yang sudah tercatat dan diperdagangkan sebanyak 171 buah dengan total dana kelolaan sebanyak US$242,6 milliar. Peningkatan nilai asset yang luar biasa tersebut dikerenakan ETF memiliki karakteristik yang lebih menarik dibandingkan dengan reksa dana konvesional. Mempertimbangkan kedua hal tersebut, perlu dilakukan studi tentang kemungkinan penerapan perdagangan Exchange Traded Funds di Pasar Modal Indonesia.
Karena karekterisitiknya yang unik, berinvestasi dalam ETF memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan berinvestasi dalam Reksa Dana antara lain :
1. Diversifikasi Penuh (Full diversification)
ETF memiliki keunggulan dari sisi penyebaran resiko investasi (diversifikasi) karena satu unit penyertaan/saham ETF mewakili sekumpulan saham yang ada dalam indeks acuan, dengan demikian maka dengan memiliki 1 unit penyertaan/saham ETF, maka pemodal
dapat memperoleh gain atau loss yang sama dengan indeks acuan (underlying indeks) tanpa membeli seluruh saham yang ada dalam indeks yang menjadi acuan.
2. Likuiditas (liquidity)
Karena ETF diperdagangkan di Bursa Efek seperti halnya saham, maka ETF memiliki keunggulan dalam hal likuiditas, artinya pemodal dapat melakukan penjualan unit penyertaan/saham ETF setiap saat sepanjang jam perdagangan bursa. Disamping itu karena terdapat mekanisme penyediaan likuiditas yang dilakukan oleh market maker dalam perdagangann ETF di bursa, maka investor tidak perlu khawatir akan terjadinya kekurangan likuiditas.
3. Transparansi (transparency)
Karena ETF merupakan efek yang tercatat dan diperdagangkan di Bursa Efek, maka jenis reksa dana ini memiliki tingkat transparansi yang tinggi. Hal ini tercermin dengan tersedianya informasi mengenai pergerakan dari indeks acuan serta pergerakan harga dari saham konstituen yang membentuk indeks bagi publik sepanjang hari, dan informasi tersebut dapat diakses dengan mudah melalui media cetak maupun elektronik, bahkan dapat diakses setiap saat (real time) melalui internet atau fasilitas yang disediakan oleh penyedia infomasi bursa seperti Bloomberg, RTI dan lain-lain. Disamping itu informasi mengenai perdagangan dan pergerakan harga unit/saham ETF serta kuotasi harga dari pembeli dan penjual tersedia sepanjang hari secara real time.
4. Minimum investasi yang kecil (low minimum investment)
Jumlah minimum dana yang dibutuhkan untuk berinvestasi dalam ETF biasanya lebih kecil bila dibandingkan dengan jumlah minimum investasi dalam reksa dana biasa karena unit penyartaan/saham
ETF diperdagangkan dalam satuan lot yang kecil dapat dicapai oleh investor.
5. Biaya transaksi yang rendah (low transaction cost)
Seperti halnya transaksi saham biasa, pemodal yang melakukan pembelian dan penjualan unit penyertaan/saham ETF harus melalui perusahaan pialang (broker) dan akan dikenakan biaya komisi oleh perusahaan tersebut yang apabila dibandingkan dengan biaya pembelian (subscription) atau pelunasan (redemption) reksa dana biasa, maka biaya transaksi unit/saham ETF jauh lebih kecil .
6. Eksposur global (Global Exposure)
Beberapa ETF menginvestasikan dana kelolaannya dalam indeks efek yang berasal dari luar negeri, hal ini memberikan kesempatan bagi investor retail untuk berinvestasi di pasar modal luar negeri, dengan demikian memiliki eksposur efek yang berasal dari luar negeri.
7. Mengakses berbagai macam sektor dan indeks (access to sectors and indeks)
Salah satu fitur yang menjadi daya tarik dari ETF adalah kemampuannya menyediakan variasi yang luas dari berbagai sektor dan indeks, bahkan saat ini terdapat berbagai jenis ETF dengan acuan (benchmark) yang berasal dari berbagai jenis kategori seperti kapitalisasi (kecil, menengah dan besar), style (Growth, Value dan Core), global dan internasional (sektor atau negara spesifik) serta sektor dan industri di Amerika.
8. Kemampuan melakukan tracking keseluruhan segmen pasar (ability to track an entire market segment)
ETF didisain untuk mengikuti (menyamai) indeks atau sektor yang dijadikan acuan dengan tracking error sekecil mungkin. Manajer
Investasi pengelola ETF dapat melakukan replikasi indeks secara keseluruhan dengan memiliki setiap efek pembentuk indeks tersebut dengan bobot yang sama dalam indeks, atau dalam kasus tertentu mereka dapat melakukan optimalisasi (mengkonstruksi portfolio efek yang akan mengikuti indeks sedekat mungkin tanpa memiliki setiap efek dalam indeks).
9. Keyakinan (convenience)
ETF ditransaksikan di bursa efek melalui perusahaan pialang (broker) sepanjang jam perdagangan bursa (trading hours) dan diselesaikan (settled) dengan cara dan dalam rentang waktu yang sama dengan transaksi saham biasa (T+3)
Disamping itu, dari sisi pengelolaan reksa dana, ETF memiliki kelebihan dibandingkan dengan reksa dana biasa antara lain :
1. Biaya pengelolaan yang efisien (cost efficiency)
Dikarenakan ETF dikelola secara pasif, maka tugas pengelolaan yang harus dilakukan oleh Manajer Investasi dan Bank Kustodian tidak terlalu banyak. Manajer Investasi memiliki peran yang penting pada saat penentuan indeks yang akan dijadikan dasar (underlying) bagi ETF, selebihnya tidak banyak kegiatan yang dilakukan kemudian. Oleh karena itu biaya tahunan (annual fee) yang dikenakan atas jasa pengelolaan ETF cenderung lebih kecil apabila dibandingkan dengan reksa dana biasa.
Disamping itu biaya operasi (operating expense) yang dikeluarkan oleh ETF lebih kecil jika dibandingkan dengan reksa dana biasa, bahkan dengan reksa dana indeks (index fund) yang memiliki indeks acuan (underlying index) yang sama dengan ETF. Hal ini disebabkan ETF diperdagangkan di Bursa Efek, sehingga tidak terdapat biaya-biaya untuk pelayanan kepada pemegang unit/saham (front-end expense) yang dibebankan kepada reksa dana
misalnya sentral pelayanan telepon (telephone service centre), biaya pencetakan konfirmasi pembelian dan penjualan kembali dan laporan bulanan kepada nasabah serta biaya transfer dana. Disamping itu, karena ETF dikelola secara pasif, tidak terdapat biaya transaksi pembelian atau penjualan saham yang mendasari ETF.
Dalam laporan hasil riset yang dilakukan oleh James M. Poterba dan John B. Shoven dari National Bureau of Economic Research (NBER) yang dipaparkan dalam working paper-nya yang berjudul “Exchange Traded Funds: A New Investment Option For Taxable Investor” disimpulkan bahwa dari tiga reksa dana yaitu SPDR Trust (SPY), Ishares S&P 500 (IVV), dan Vanguard Index 500 Fund (VFINX) yang memiliki indeks acuan yang sama yakni Indeks S&P 500, dua fund yang pertama yang merupakan ETF Indeks diketahui memiliki rasio biaya operasi (operating expense ratio) yang lebih kecil dibandingkan dengan reksa dana indeks. Dalam laporan riset tersebut diketahui bahwa rasio biaya operasi dari SPDR Trust (SPY) Ishares S&P 500 (IVV) adalah masing-masing sebesar 0.12% dan 0.09%, sedangkan Vanguard Index 500 Fund (VFINX) yang merupakan reksa dana indeks terbesar memiliki rasio biaya operasi sebesar 0,18%.
2. Biaya pajak yang lebih efisien (tax efficiency)
Dalam reksa dana biasa, apabila terjadi pelunasan kembali (redemption), maka manajer investasi harus menjual sebagian efek yang mendasari reksa dana untuk memenuhi kebutuhan uang tunai untuk membayar permintaan pelunasan oleh nasabah. Apabila terdapat capital gain dari transaksi penjualan efek tersebut maka akan dikenakan pajak atas capital gain. Dalam ETF, apabila
sewaktu-waktu nasabah menjual unit/saham ETF yang dimilikinya, maka ia dapat menjualnya melalui bursa efek, dengan demikian ETF tidak harus menjual underlying efek jika terjadi redemption.
Jika terdapat permintaan penjualan kembali yang dilakukan investor institusi, maka akan dilakukan dengan cara in-kind (membayar penjualan kembali dengan efek yang mendasari ETF, yang menyebabkan ETF terhindar dari kewajiban membayar pajak atas capital gain. Namun demikian reksa dana ETF tetap harus melakukan jual beli saham yang terdapat dalam indeks acuan untuk menyesuaikan apabila terjadi perubahan dalam komposisi indeks yang menjadi acuan, misalnya terjadi aksi korporasi (corporate action) dari perusahaan yang menjadi pembentuk indeks misalnya merger, right issue, stock split atau reverse stock split. Begitu pula apabila terdapat pembagian deviden dari perusahaan yang sahamnya berada dalam portofolio ETF. Dalam hal ini ETF dapat melakukan pembagian (distribusi) dividen kepada para pemegang unit penyertaan/saham ETF atau dapat melakukan investasi kembali (reinvest) atas dana yang berasal dari pembagian dividen.
Apabila Anda tertarik untuk berinvestasi di ETF silakan hubungi broker bursa terdekat atau yang terpercaya yang sudah menjadi langganan Anda.

Pasar Modal Syariah Indonesia dan Performanya
Januari 8, 2008 pada 1:05 pm (and comments, slide presentation)
Apabila melihat performa dari Jakarta Islamic Index selama 7 tahun terakhir sejak tahun 2000 memberikan imbal hasil sebesar 750% masih di atas LQ 45 yang hanya memberikan imbal hasil sebesar 643% dan IHSG Index yang hanya memberikan imbal hasil sebesar 559.54%.
Kapitalisasi Pasar JII ditahun 2007 telah mencapai Rp. 1.101 Triliun terdiri dari 30 saham yang didukung oleh reksadana syariah sebanyak 24 reksa dana dengan asset under management mencapai Rp 1.879,9 Milyar (Reksa dana secara keseluruhan telah mencapai Rp 90 Triliun).
Average Return Arithmetic sebagai berikut:
1. IHSG: 33.37% per tahun
2. LQ 45: 35.22% per tahun
3. JII: 38.04% per tahun
Sedangkan Average Return Geometric sebagai berikut:
1. IHSG: 30.94% per tahun
2. LQ 45: 33.21% per tahun
3. JII: 35.80% per tahun
Dari data di atas, JII telah mengalahkan LQ 45 (pada tulisan M.T. Ferdy Reza yang lalu LQ 45 telah memberikan imbal hasil yang lebih baik dari non-LQ 45) maka tidak ada salahnya JII adalah pilihan investasi terbaik di pasar modal Indonesia saat ini.
2 Komentar