Dalam kenyataannya track record fund manager pada reksa dana sangat penting. Menurut Wall Street Journal columnist Jonathan Clements yang menyatakan bahwa performa di masa lalu dapat menjadi guide untuk hasil di masa yang akan datang walaupun, petunjuk ini merupakan petunjuk yang sangat sulit untuk dibaca. Mengapa performa masa lalu sangat sulit untuk dapat dievaluasi? Menurut Shefrin[1], dalam sebuah permainan lempar koin dimana ada tiga tipe koin yaitu emas, perak dan perunggu. Andaikan bahwa hanya koin perak yang paling adil. Koin emas memiliki kelebihan berat pada sisi head, dan koin perunggu memiliki kelebihan berat pada tail. Secara spesifik koin emas memiliki kemungkinan mendapatkan head yaitu 55:45 sedangkan koin perunggu memiliki kemungkinan mendapatkan tail yaitu 55:45. Apabila investor dapat melihat fund manager yang dapat melempar dadu dan mendapatkan head 7 kali dari 10 kali lemparan dibandingkan dengan pasar yang memiliki kemungkinan 5 kali dari 10 kali lemparan, adalah masuk akal di masa yang akan datang investor akan mendukung fund manager tersebut apalagi si fund manager tersebut memegang koin emas. Akan tetapi investor tidak mengetahui fund manager mana yang memegang koin emas. Sehingga apabila investor hanya dibekali dengan performa di masa lalu dalam hal ini track record maka berapa kemungkinan manajer tersebut melempar dengan koin emas? Kemungkinan terkecil adalah 33.3 persen karena sepertiga dari fund manager secara acak diberikan koin emas. Kemungkinan tertinggi tentunya 100 persen, akan tetapi kemungkinan tertinggi tersebut juga terlalu tinggi karena pemegang koin perak juga dapat melakukan lemparan head sebanyak 7 kali. Jawaban yang benar adalah 46.5 persen, tentunya angka ini lebih baik dibandingkan dengan 33.3 persen, tetapi jauh dibawah kemungkinan tertinggi yaitu 100 persen. Dan berapa kemungkinan bahwa fund manager ini dengan track record 7 kali lempar head dari 10 kali lempar akan dapat mengalahkan pasar pada kesempatan berikutnya? Angka tersebut adalah 41 persen lebih baik dibandingkan 38 persen, walaupun perbedaannya tidak signifikan. Kemudian berapa kesempatan pelempar koin melakukan paling sedikit sama baiknya dengan yang mereka lakukan pada kesempatan sebelumnya dalam 10 kali lemparan? Kemungkinan dapat melakukan pengulangan performa di masa lalu adalah hanya 20 persen. Walaupun para manajer memiliki perbedaan pada kemampuan mereka untuk mendapatkan performa yang cemerlang, memilih pemenang di masa yang akan datang berdasarkan track record adalah sangat sulit dikarenakan rules of chance. Pemegang koin emas tercampur bersama dengan pelempar koin lainnya termasuk koin perak dan perunggu, dan banyak manajer yang melempar koin perak dan perunggu dapat mengalahkan pasar. Sehingga memilih manajer dengan koin emas dari koin perak dan perunggu merupakan sebuah seni bukan ilmu pengetahuan. Para investor memiliki kecenderungan heuristic untuk melakukan isolasi terahadap manajer yang memiliki performa, akibatnya mereka menitikberatkan terlalu banyak pada kemampuan atau skill para manajer dan kurang mempertimbangkan hal yang disebut sebagai keberuntungan. Jika skill merupakan faktor pada performa reksa dana, maka kita berharap bahwa performa yang cemerlang di masa lalu dapat berulang kembali. Fund manager yang sukses seharusnya secara konsisten mendapatkan performa yang cemerlang, paling tidak secara rata-rata. Goetzmann and Roger Ibbotson (1994a) melakukan dokumentasi hot-hand effect dimana performa cemerlang berulang. Daryll Hendricks, Hayendu Patel, dan Richard Zeckhauser (1993) juga menemukan bahwa performa cemerlang berkelanjutan. Mark Carhart (19997) memberikan bukti yang paling jelas bahwa keberlanjutan sebuah karakter. Hanya Elton Gruber, Sanjiv Das, dan Matt hlavka (1993), menemukan bahwa tidak ada bukti mengenai alpha yang positif.
Penulisan yang dilakukan oleh Carthart memberikan potret yang paling nyata mengenai performa reksa dana yang konsisten. Penulisan dilakukan pada periode tahun 1962 hingga 1993 dan mengumpulkan semua dana ekuitas yang diketahui pada periode tersebut. Carhat membagi fund tersebut menjadi 10 group berdasarkan tingkat pengembalian yang mereka peroleh pada 12 bulan sebelumnya dikurangi semua beban biaya dan transaction cost tetapi tidak memasukkan charges penjualan. Kemudian melakukan penulisan pada para manajer yang menempati 10 persen teratas pada setiap tahun. Jika para manajer reksa dana memiliki skill pelemparan koin yang sama maka kita berharap bahwa para manajer tersebut memberikan performa yang tidak berbeda pada tahun berikutnya. Dengan kata lain performa yang cemerlang pada para manajer tersebut dapat berulang.
Bahkan para manajer dengan performa terbaik ini memiliki kemungkinan dua kali untuk menjadi performa terbaik pada tahun berikutnya dibandingkan dengan manajer lainnya. Hal apakah yang menjelaskan fenomena hot-hand pada satu tahun periode tersebut. Carhart menggunakan pengukuran risiko disamping proxy pada market portfolio, juga menggunakan size, book-to-market, dan short-term momentum variable sebagai factor. Walaupun berdasarkan Shefrin[2] size dan book-to-market merupakan faktor yang dapat melihat mispricing dibandingkan risiko. Grinblatt, Titman, dan Wermers menemukan bahwa manajer reksa dana memiliki kecenderungan untuk memperlihatkan perilaku herding ketika harga stock beranjak naik, mereka membeli past winners pada saat yang bersamaan. Akan tetapi mereka tidak menunjukkan perilaku herding yaitu menjual pass losers. Bagaimana dengan stock yang memiliki momentum jangka pendek karena tingkat pengembaliannya. Menurut Carhart (1997) apakah manajer mengikuti strategi momentum? Para manajer tersebut secara kebetulan telah memiliki stock yang merupakan winner pada masa lalu. Karena tingkat pengembalian stock-stock tersebut di atas rata-rata pada tahun berjalan, maka para manajer telah memiliki stock dalam kategori pemenang, dan mereka menikmati tingkat pengembalian yang lebih tinggi pada tahun tersebut tanpa tambahan transaction cost pada portfolio ini.
Diskusi
Belum ada komentar.