QS: Al Maidah (ayat 112 & 113)
Tafsir Al-Maidah
Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an
Ayat 112
(Ingatlah), ketika al-Hawariyyun berkata: Hai Isa Putra Mayram, mampukah Tuhanmu menurunkan buat Kami hidangan dari langit?” Dia menjawab: “Bertakwalah kepada Allah jika betul-betul kamu orang yang beriman.”
Al-Biqa’i menulis bahwa tujuan disebutkan mukjizat Isa as. Pada ayat-ayat yang lalu dianggap cukup sudah untuk menggugah hati orang-orang yang belum beriman agar beriman, dan telah beriman agar bertambah imannya. Pemaparan ayat-ayat ini adalah mendidik umat Islam agar mengagungkan Nabi Saw., sehingga tidak mengajukan pertanyaan dan permintaan yang aneh-aneh atau mengajukan usul-usul yang bukan tempatnya, maka ayat ini menguraikan sikap pengikut-pengikut Nabi Isa as. Yang tidak terpuji setelah sebelumnya memuji mereka seakan-akan mereka benar-benar mendapat wahyu Ilahi (baca kembali ayat 111), kendati kecaman yang diuraikan dalam ayat ini menyangkut para al-Hawariyyun itu sebelum mereka mencapai tingkat menjadikan mereka wajar dipuji.
Ketika al-Hawariyyun yakni para pengikut setia Isa as. Berkata: Hai Isa putra Maryam, mampukah, yakni bisakah atau berkenankah Tuhanmu, atau bisakah engkau memohon tuhanmu agar Dia menurunkan buat kami makanan dalam satu hidangan istimewa yan bukan bersumber dari bumi atau buatan manusia tetapi dari langit?” Dia yakni Isa menjawab: Bertakwalah kepada Allah! HIndarilah siksa Allah dengan jalan tidak memohonkan hal-hal yang anek atau tidak wajar. Jika betul-betul kamu orang yang beriman, niscaya kamu pasti yakin bahwa Dia yang maha Kuasa itu mampu dan niscaya kamu pun yakin pula bahwa aku adalah rasul-Nya, sehingga kamu tidak perlu mengajukan permintaan ini.”
Sahabat-sahabat Nabi Muhammad saw. Tidak meminta bukti (baca: mukjizat) karena mereka telah merasa cukup dengan mendengar redaksi dan kandungan ayat-ayat al-Quran serta melihat kepribadian Nabi Muhammad saw.
Ma’idah adalah wadah yang berisi hidangan atau hidangan/makanan yang dihidangkan. Sementara ulam menilai permintaan pengikut-pengikut Isa as ini merupakan permintaan yang tidak wajar, apalagi dengan berkata mampukah Tuhan-mu? Bukankah seorang beriman pasti yakin akan kekuasaan Allah, Tuhannya? Buakn hanya itu. Dari celah ucapan mereka terlihat juga kurangnya sopan santun pengucapnya ketika berkata Tuhanmu bukan Tuahn tanpa menyebut gelar penghormatan buat beliau. Demikian antara lain pendapat al-Biqa’i. Pendapat ini tidak sepenuhnya didukung banyak ulama tafsir. Karena itu seperti terbaca di atas, ada yang memahami kata yastathi’u rabbuka bukan dalam arti mampukah tetapi dalam arti berkenankah, atau bisakah Dia, sebagaimana ada juga yang memahaminya dalam arti berkenankah engkau, hai Isa, memohon kepada Tuhanmu. Hal ini atas dasar bacaan hal tasthathi’u/apakah engkau mampu dan bacaan rabbaka dalam kedudukan sebagai objek, bukan rabbuka dalam kedudukannya sebagai pelaku.
Memahaminya dalam arti berkenakah Tuhanmu, justru mengandung penghormatan seperti halnya seorang yang bermohon kepada yang dihormati dengan berkata:”Bisakah Bapak pindah ke tempat lain?” Ucapan semacam ini dipahami dalam arti permintaan halus, yang mengandung makna bahwa permintaan ini bukanlah permintaan seorang yang mendesak, tidak pula dimaksudkan untuk merepotkan siapa yang diminta melakukan sesuatu, bahkan seandainya ia tidak bersedia, maka itu pun tidak mengecilkan hati yang meminta. Memang, dari segi penerjemahan harfiah kedudukan rendah kepada yang lebih tinggi darinya, serta yang sebelumnya telah diyakini memiliki kemampuan, maka pengertian harfiah itu, tentu saja telah sirna, baik dalam benak pembicara dan mitra bicara.
Adapun penyebutan nama beliau tanpa gelarnya, menurut yang menolak kesan negatif terhadap pengikut Isa as. Itu, maka menurut mereka hal tersebut dimaksudkan untuk menegaskan bahwa beliau adalah makhluk manusia yang juga mahir melalui seorang ibu, dan dengan demikian beliau bukanlah Tuhan sebagaimana diduga oleh sementara orang. Isa as. Kurang berkenan dengan permintaan mereka, sebagaimana terbaca dalam jawaban beliau di atas.
Ayat 113
” Mereka berkata:”Kami ingin memakan hidangan itu dan (supaya) tenteram hati kami dan (supaya) kami yakin bahwa engkau telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan.”
Namun jawaban sekaligus tuntunan yang beliau sampaikan pada ayat yang lalu itu, tidak disambut baik oleh para pengikutnya, sebagaimana terbaca dalam jawaban mereka yang diabadikan pada ayat ini.
Bagi yang memahaminya dalam arti positif, ayat di atas dipahami sebagai berikut: Mereka berkata:”Kami bukan memintanya untuk menghilangkan keraguan kami, tetapi kami memintanya karena kami lapar sehingga kami ingin memakan hidangan itu untuk memperoleh berkatnya dan supaya tenteram hati kami, ketentaraman hati yang serupa dengan yang diharapkan oleh Nabi Ibrahim as. Ketika bermohon diperlihatkan bagaimana Allah menghidupkan yang mati (QS al-Baqarah :260) dan supaya kami tidak hanya sampai pada tingkat percaya tetapi mencapai tingkat yakin dengan Ain dan Haq al-Yaqin bahwa engkau, wahai Isa, telah berkata benar kepada kami, dalam segala hal yang engkau sampaikan dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan dengan mata kepala, bukan hanya dengan mata hati tentang betapa kuasa-Nya Allah menurunkan hidangan itu.”
Bagi yang memahaminya dalam arti negatif, maka cukup dengan berkata ayat di atas menunjukkan bahwa mereka menolak ajakan Isa as. Agar beriman, mereka meminta untuk makan, dan ingin lebih yakin karena selama ini mereka belum yakin bahwa Nabi mereka Isa as. Telah menyampaikan kebenaran.
Apapun makna yang Anda pilih dari kata mampukah Tuhanmu, dan apapun kesan yang Anda peroleh dari jawaban di atas, yang pasti adalah bahwa pengikut-pengikut Isa as. Bermohon agar dianugerahi bukti yang jelas tentang kebenaran Isa as. Sebagaimana ditegaskan oleh ayat di atas. Ini menunjukkan betapa berbeda pengikut-pengikut setia Isa as. Dengan sahabat-sahabat Nabi Muhammad saw.
Tidak ditemukan satu teks keagamaan pun – baik dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah yang menginformasikan bahwa ada seorang sahabat Nabi Muhammad saw. Yang bermohon atau menuntut bukti kebenaran/mukjizat dari beliau. Kalau ada yang menuntut bukti, maka mereka belum menjadi pengikut beliau. Atau dengan kata lain, mereka adalah orang-orang kafir dan musyrik. Hal ini dijelaskan, diantaranya oleh QS:al-’ankabut: 50 berbunyi: Mereka (orang-orang kafir Mekah) berkata:”Mengapa tidak diturunkan kepdanya mukjizat-mukjizat (yang bersifat indrawi) dari tuhannya?” Katakankah:”Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata.” Ini berbeda dengan pengikut-pengikut Isa as. Sebagaimana tebaca di atas bahkan jawaban yang diajarkan kepada Nabi Muhammad saw. Untuk disampaikan kepada umatnya berbeda dengan sabda Isa as. Kepada umatnya. Nabi Isa as. Menjawab: ”Janganlah percaya padaku jika aku tidak mengerjakan pekerjana Bapa,” yakni jangan percaya kalau aku tidak memaparkna mukjizat.
“Masyarakat yang dijumpai oleh Isa as. Membutuhkan bukti-bukti itu karena mereka belum mencapai tingkat kedewasaan berpikir yang memadai.”
Para nabi sebelum Nabi Muhammad saw. Termasuk Isa as. Selalu mengaitkan kenabian dan kerasulan dengan hal-hal yang bersifat supra rasional, baik berbentuk sihir, gaib, mimpi, dan lain-lain. Masyarakat mereka termasuk masyrakat yang dijumpai oleh Isa as. Membutuhkan bukti-bukti itu karena mereka belum mencapai tingkat kedewasaan berpikir yang memadai. Menurut Nazmi Luke, seorang pendeta Mesir, dalam bukunya Muhammad ar-Rasul wa ar-Risalah, sama dengan membujuk anak kecil untuk makan, padahal jika ia telah dewasa maka ia pasti akan makan tanpa dibujuk. Pendeta tersebut lebih lanjut berkomentar bahwa menghidupkan orang mati, mengembalikan penglihatan orang buta dan lain-lain yang bersifat supra rasional merupakan hal-hal yang sangat mengagumkan, tetapi tidak berarti apa-apa jika itu dimaksudkan untuk membuktikan bahwa dua tanbah dua sama dengan lima. Jika demikian, menjadi sangat wajar jika umat Isa as. Meminta bukti dan wajar pula sahabat-sahabat Nabi Muhammad saw. Tidak memintanya karena mereka telah merasa cukup dengan mendengar redaksi dan kandungan ayat-ayat al-Quran serta melihat kepribadian Nabi Muhammad saw.
Diskusi
Belum ada komentar.