Kegalauan masyarakat akan hancurnya pasar modal global dan mata uang termasuk ruipiah membuat saya tertarik untuk berbicara soal ini. Seperti yang sudah pernah dikatakan oleh imam al-Ghazali pada abad ke 11-12, telah memperingatkan bahwa “Memperdagangkan uang ibarat memenjarakan fungsi uang, jika banyak uang yang diperdagangkan, niscaya tinggal sedikit uang yang dapat berfungsi sebagai uang.” Dalam konsep Islam, uang tidak termasuk dalam fungsi utilitas karena manfaat yang kita dapatkan bukan dari uang itu secara langsung, melainkan dari fungsinya sebagai perantara untuk mengubah suatu barang menjadi barang yang lain.
Dengan mahalnya komoditas US Dollar karena dipergunakan oleh pemerintah amerika untuk malaksanakan bail out pasar kredit yang mengalami krisis sehingga harga mata uang dollar terhadap negara lain cenderung menguat. Termasuk Indonesia yang memiliki sistem nilai tukar mengambang (floating rate), seperti yang pernah dibahas oleh Joseph E. Stiglitz bahwa liberalisasi capital dan fiancial market akan menyebabkan dana investor masuk dan keluar sesukanya. Masuk ketika negara tersebut dalam keadaan booming dan terkadang dana tersebut tidak diperlukan yang seringkali menyebabkan bubble pada ekonomi negara tersebut karena dana digunakan sesuai dengan appetite market, sedangkan pada saat resesi dana tersebut akan keluar dari negara yang bersangkutan dimana dana tersebut sangat dibutuhkan.
Tentunya dampak terhadap Indonesia akan mudah ditebak terutama pada pasar modal, dan pasar nilai tukar. Salah satu hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah Indonesia adalah dengan mencegah spekulasi besar (dalam hal ini institusi pemerintah seperti Pertamina, PLN, Jamsostek, Taspen, Perbankan dan lain-lain) untuk tidak membeli US dollar ke market hanya untuk spekulasi.
Pemerintah memanfaatkan departemen seperti BI, BPK, KPK, Bapepam, dan departemen yang terkait untuk dapat bekerja sama mencegah terjadinya spekulasi di lingkungan institusi pemerintah. Karena ketika mereka melakukan kegiatan spekulasi dampaknya sangat siknifikan terhadap market.
Pemerintah dapat melakukan beberapa hal seperti mencairkan dana APBN di akhir tahun ini untuk membayar berbagai macam subsidi listrik dan BBM. Kalangan Perbankan BUMN juga dapat digunakan sebagai tangan pemerintah untuk menahan diri dan bersikap lebih konservatif yaitu tidak dengan mudah memberikan kredit valas kepada para debiturnya.
BI juga merupakan the last resort bagi penyelamatan mata uang rupiah yang memang merupakan tugas utamanya untuk menjaga kestabilan mata uang rupiah. Mereka bisa saja secara berkesinambungan melakukan likuidasi cadangan US Dollar sesuai dengan kebutuhan pasar, sehingga tidak menyebabkan pasar panik untuk membeli dollar terutama untuk kebutuhan ekspor atau kegiatan usaha riil lainnya.
Beberapa langkah di pasar merupakan solusi yang paling rasional untuk diambil sehingga keadalan market di Indonesia akan lebih stabil walaupun kecenderungan untuk pasar modal adalah masih bearish dan untuk mata uang rupiah mengalami pelemahan.
Kita berharap kondisi seperti sekarang ini hanya berlangsung sementara menunggu langkah-langkah yang akan diambil oleh US Treasury dalam waktu dekat ini.
Bersambung…
Wallahu ’alam bi showab
ghifi.blogspot.com
Diskusi
Belum ada komentar.