//
you're reading...
globalization, macro economics

Konferensi Tingkat Tinggi G20 "Persimpangan Jalan Globalisasi, Peranan Negara Berkembang & Kerjasama Multilateral"?

Disadur dari Tulisan Para Penulis Kolom Ekonomi: Martin Wolf, Ben Hall, Jean Eaglesham, dan Jonathan Wheatly

Beberapa pemimpin dari Uni Eropa (seperti Gordon Brown dan Nicolas Sarkozy) dan Bank Dunia (Robert Zoellick) menginginkan adanya kesepakatan baru yang dikenal dengan “New Bretton Woods”. Tentu sangatlah mudah untuk mengungkapkan keinginan tersebut akan tetapi, juga sepertinya mudah mengapa krisis ini membuat orang-orang berpikir seperti itu.
Seperti yang terjadi pada tahun tahun 1944 untuk membuat kesepakatan mengenai hubungan perdagangan dan finansial antara negara-negara industri dan merupakan momen kelahiran IMF dan Bank Dunia ketika itu (IBRD) dan negara-negara anggota wajib untuk mengadopsi sebuah kebijakan moneter dan menggunakan fixed exchange rate yang di back up dengan emas. Walaupun kesepakatan ini berakhir pada tahun 1971 ketika pemerintah US meninggalkan sistem konversi US dollar ke emas yang kemudian US Dollar dijadikan semacam reserve currency

Melihat sejarah The Great Depression pada tahun 1930 dikuatkan oleh disintregrasi kesepakatan ekonomi dan menguaknya nasionalisasi. Akan tetapi juga pada masa ini timbul revolusi dalam pemikiran di bidang ekonomi yaitu “never again” merupakan kesepakatan para negosiator di pertemuan Bretton Wood, New Hampshire. Dan karena kebersamaan dalam krisis finansial kita memiliki motivasi untuk mengatakan yang sama
Kemudian, tidak perlu menunggu waktu tenang untuk berpikir cemerlang. Jika ketika itu mereka mengalami peperangan. Konferensi Bretton Woods berpuncak di bulan Juli 1944 dan perang dunia belum lagi selesai. Jika pada saat itu mereka bisa berperang dan mendesain ulang ekonomi global pada saat yang bersamaan artinya kita bisa melawan krisis dan melakukan desain ulang institusi global secara berasamaan.

Isu berikutnya adalah sistem finansial global tidak lagi berfungsi. Yang paling terancam pada arus reformasi sekarang ini adalah pemeliharaan ekonomi dunia yang terbuka atau globalisasi yang menawarkan kesempatan kepada banyak orang. Kemudian yang terancam juga hubungan multilateral atau kerjasama di antara negara-negara. Tidak ada yang lebih baik dari kerjasama yang efektif diantara negara-negara yang mengutamakan proteksi terhadap negaranya karena masyarakatnya mengalami rasa takut dan phobia berlebihan.

Akhirnya yang terjadi saat ini adalah pertemuan antara macro economi global yaitu membicarakan megenai uang, nilai tukar uang, dan neraca perdagangan serta finansial global seperti arus capital, kerapuhan finansial dan penularan guncangan (contagion). Hubungan kerjasama sangat penting untuk dijaga akan tetapi seperti yang dikatakan oleh Robert Zoellick presiden Bank Dunia pada tanggal 6 Oktober lalu “Kita harus melakukan modernisasi hubungan multilateral dan pasar karena perubangan ekonomi dunia.”

Lalu bagaimana ini dapat dilakukan? kita harus mulai dengan tantangan sebenarnya.

Pertama-tama adalah ketidakmampuan untuk mendapatkan pembelian dari kebijakan negara-negara yang mengalami neraca pembayaran yang surplus. Ini merupakan keprihatinan John Maynard Keynes di tahun 1944. Ironisnya problem pada waktu itu adalah neraca surplus pada negara Amerika Serikat. Hari ini, kejatuhan dan ketidakmampuan rumah tangga di US dan beberapa negara maju untuk menanggulangi surplus yang sangat besar pada negara-negara seperti China, Jerman, Jepang, dan negara-negara pengekspor minyak. Negara-negara ini selalu mengkritisi negara-negara lain yang membelanjakan uang yang akan dipinjam. Ternyata negara yang dulunya mengalami surplus, pada hari ini tidak dapat melakukan apa-apa tanpa belas kasihan negara yang kini mengalami surplus neraca.

Tantangan kedua
adalah negara yang memberikan pembiayaan sangat mudah yang memberhentikan pembiayaan dapat terlihat dari capital inflow yang sudah sering kita lihat dimana bank dan peminjam mata uang asing lainnya memberhentikan pembiayaan kepada para debitur terutama negara-negara berkembang. Banyak negara-negara tersebut berusaha menumpuk cadangan devisa mata uang asing yang sangat mahal. Hingga bulan Agustus tahun ini saja total cadangan mata uang asing telah mencapai US$ 5,500 Miliar, dan US$ 260 Miliar tersedia malalui IMF. Akan tetapi instrumen ini tidak efisien karena dari tahun ke tahun terus meningkat sekitar 17% per tahun. Cadangan Devisa Mata Uang asing ini digunakan oleh negara-negara tersebut untuk mempertahankan diri dari krisis, walaupun cadangan devisa tersebut membutuhkan biaya mahal untuk mempertahankan dan seharusnya cadangan tersebut dapat digunakan untuk hal lain seperti memberikan subsidi bahan pangan dan layanan kepada masyarakat miskin.

Tantangan ketiga adalah bagaimana membuat sistem finansial menjadi lebih stabil dan tidak mudah terguncang oleh perubahan atau minat risiko dari berbagai pembiayaan, yang tidak masuk akal dibandingkan dengan tidak ada pembiyaan sama sekali, walaupun sebenarnya hal ini masuk akal. Menurut Stephen King di forum ekonomi Financial Times, usaha keras pemerintah untuk memaksakan penyelamatan bank agar dapat membiayai pada debitur domestik walaupun harus mengorbankan pinjaman mereka kepada negara berkembang

Tantangan terakhir adalah membuat arsitektur institusi global yang lebih terlegitimasi dibandingkan yang ada hari ini. Bretton Woods Institution seperti IMF dan Bank Dunia telah didominasi oleh negara barat dalam soal dana, yaitu Amerika Serikat sebear 17,1% daripada quota dan Uni Eropa sebesar 32,4% pada bulan Mei 2007. Dilain pihak China hanya memiliki 3,7% dan India hanya 1,9%. Hal ini memang sama sekali tidak sepadan. Dan persistensi group 7 negara sebagai grup koordinator ekonomi dunia, terutama 3 diantara mereka yaitu Jerman, Perancis, dan Itali yang tidak memiliki mata uang yang independen. Group 20 negara yang konferensi tingkat tingginya akan digelar di Washington pada tanggal 15 November terlihat terlalu besar, Mr. Zoellick menyarankan G14 yang akan menambahkan negara-negara seperti Brazil, China, India, Mexico, Rusia, Saudi Arabia, dan Afrika Selatan.

Pertemuan di Sao Paulo Brazil yang diadakan untuk menyiapkan proposal untuk pertemuan tingkat tinggi di Washington hari Sabtu ini tanggal 15 November 2008 dengan hadirnya pemimpin dari negara-negara G20, negara-negara baik berkembang maupun maju yang terbesar. Akan tetapi komunike setelah pertemuan di ibukota Brazil tidak memberikan kesepakatan tentang bagaimana untuk mendesain ulang institusi finansial dunia untuk meningkatkan peranan negara berkembang.

Guido Mantega, menteri luar negeri Brazil dan ketua G20 tahun ini, mengatakan bahwa anggota grup seharusnya menjadi badan yang dapat mengambil keputusan untuk negara dan pemerintah.

Mantega juga mengeluhkan bahwa negara-negara berkembang yang diundang pada meeting G7 hanya pada sesi rehat saja.

Robert Zoellick mengatakan bahwa terdapat ketidaksepakatan mengenai peranan dari perekonomian negara berkembang untuk dapat bermain menyelesaikan permasalahan krisis finansial dan ekonomi saat ini, sampai pada kemampuan dimana mereka seharusnya menggunakan peranan anggaran belanja pemerintah untuk menstimulasi pertumbuhan, membantu untuk mengkompensasi resesi di negara-negara kaya.

Yang menarik dari agenda G14 ini adalah terlihat sangat familiar dibandingkan dengan para partisipan di Bretton Woods dengan satu pengecualian. Keynes akan ketakutan mengetahui bahwa dunia telah membiarkan jin kapitalis liberal keluar dari botolnya. Karena hal inilah maka pembiayaan eksternal sangat dibutuhkan dibandingkan sebelumnya, Mengapa jumlah cadangan devisa mata uang asing begitu besar yang diakumulasikan dan mengapa krisis finansial sekali lagi terjadi secara global dibandingkan lokal. Dia akan menambahkan bahwa seorang bankir yang hebat bukanlah orang yang dapat memprediksikan bahaya dan memiliki kemampuan untuk menghindarinya, namun ternyata bankir hanyalah seorang pengrusak yang terperosok di dalam jalan yang konvensional dan orthodox bersama teman-temannya sehingga tidak ada satu orang pun yang dapat menyalahkan bankir tersebut. Dan kita memiliki banyak bankir seperti itu. Dia akan menambahkan bahwa insititusi yang tidak memiliki kapitalisasi yang cukup atau yang tidak likuid tidak akan mengalami guncangan besar secara finansial.

Dan apakah ada hal-hal yang bisa dilakukan untuk menghadapi tantangan tersebut? Tentulah ada banyak kemungkinan dan sangatlah penting untuk merubah arsitektur global paling tidak merespon perubahan prioritas ekonomi. Sama pentingnya yaitu dengan memberikan sumber finansial kepada IMF untuk mendukung fasilitas pembiayaan jangka pendek. Tetapi tentunya terlalu optimistik untuk mempercayai institusi tersebut akan dapat memberikan peringatan dini akan timbulnya krisis. Walaupun institusi tersebut dapat memberikan peringatan namun negara-negara yang terpengaruh tidak akan bayak melakukan respon terhadap peringatan tersebut.

Penulis juga pesimis terhadap perbankan sebagai perangkat yang ketinggalan jaman yang sepatutnya memberikan layanan yang penting kepada ekonomi daripada menjadi mesin judi yang memberikan kesempatan untuk melakukan perjudian. bankir diberikan lisensi untuk melakukan kegiatan judi menggunakan uang rakyat. Bisnis yang menguntungkan sekaligus bisnis yang tidak dapat dibuat mengikuti aturan yang dibuat.

Mudah-mudahan penulis salah dan berharap bahwa pertemuan tingkat tinggi G20 akan membuat agenda untuk melakukan reformasi yang serius dengan cara membuat working group yang dapat memberikan proposal yang radikal serta efektif. Pada hal-hal yang terjadi saat ini adalah merupakan kesempatan terakhir bagi ekonomi dunia yang terbuka dan dinamis. Pertama-tama kita harus dapat melalui krisis hari ini. Kemudian kita harus mencegah kehancuran finansial tidak akan terjadi. Jika bukan kita lalu siapa lagi? Jika bukan sekarang lalu kapan lagi?

Tentang ghifi

I am glad that I have wonderful friends around me who always make me smile and accept me with warm heart. But my family is the reason that I am here, My wife and my daughter are the most important people in my life. I hope that friends will make me rich in life and they are always there for me when I need them.

Diskusi

Satu Tanggapan to “Konferensi Tingkat Tinggi G20 "Persimpangan Jalan Globalisasi, Peranan Negara Berkembang & Kerjasama Multilateral"?”

  1. Jika negara berkembang bekerja sama pasti akan semakin maju

    Posted by Cara Membuat Facebook | September 6, 2010, 10:09 am

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

Gravatar
WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.