
Assalammu’alaikum Wr. Wb.
Ini adalah pertanyaan sepanjang masa, tidak pernah ada jawaban yang sangat memuaskan walaupun dari sudut pandang ilmu pengetahuan, sudah terdapat jawaban-jawaban yang empiris yang kemudian dilengkapi lagi dari sisi agama termaktub dalam ajaran-ajarannya.
Orang-orang dengan pendapatan Rp 500 juta per tahun lebih bahagia dibandingkan dengan orang-orang yang memiliki pendapatan 24 juta per tahun. Namun orang-orang yang memiliki pendapatan Rp 3 Miliar per tahun tidak lebih berbahagia dibandingkan dengan yang memiliki pendapatan Rp. 500 juta per tahun.
Kalau Anda sudah menonton film “Slumdog Millionaire”? Film ini menceritakan kehidupan orang miskin yang tinggal di daerah kumuh di Mumbai, dan kemudian cerita berlanjut ketika seorang pemuda miskin menjadi yatim piyatu sehingga terpaksa menjadi anak jalanan. Dan bagaimana suasana di India terutama di perkotaan seperti Mumbai (dalam film tersebut) yang terasa berat. Sama dengan kondisi negara republik yang juga tidak lebih ringan, banyaknya pengangguran dan angka kemiskinan yang tinggi merupakan fenomena tersendiri. TV hiburan “Who wants to be a Millionnaire” menjadi favorit pemirsa televisi, karena acara tersebut menjanjikan ketegangan, sedikit pertaruhan, dan ketenaran karena ditayangkan di TV dengan iming-iming hadiah uang yang besar. Barangkali kalau ada produser film yang membuat film tentang kehidupan keras dan nyata di Jakarta, film tersebut juga akan mendapatkan Oscar seperti film Slumdog Millionaire.
Menurut Survey yang dilakukan oleh Daniel Gilbert secara global untuk mengetahui pendapat orang-orang mengenai level kebahagiaan mereka menggunakan ukuran skala 1-7, dimana skala 1 berarti “Tidak puas dengan kehidupan Saya”, sedangkan skala 7 bararti “Sangat puas dengan kehidupan saya”. Ternyata orang-orang yang homeless yang disurvey di India memberikan skala 2,9 terhadap kondisi mereka, namun mereka yang hidup dan tinggal di daerah kumuh melakukan rating terhadap diri mereka pada skala 4,6. Orang-orang yang hidup di Greenland yang tidak memiliki kehidupan mewah atau peternak sapi di daerah Kenya yang tidak memiliki listrik atau air bersih merating diri mereka pada skala 5.8. Milyuner yang disurvey di Amerika Serikat merating diri mereka pada skala 5,8. Menurut penulis ”Stumbling happiness” Daniel Gilbert (2006) orang-orang dengan pendapatan Rp 500 juta per tahun lebih bahagia dibandingkan dengan orang-orang yang memiliki pendapatan 24 juta per tahun. Namun orang-orang yang memiliki pendapatan Rp 3 Miliar per tahun tidak lebih berbahagia dibandingkan dengan yang memiliki pendapatan Rp. 500 juta per tahun.
Membandingkan uang dengan kebahagiaan tidak semudah yang diperkirakan. Kebahagiaan sifatnya tidak materiil (baca: immaterial) sedangkan uang sifatnya materiil. Banyak sudah para ilmuwan, ekonom berbicara mengenai uang dan kebahagiaan. Dulu memang banyak yang berkata bahwa kebahagiaan dapat diukur dengan tingkat pendapatan seseorang, namun dengan berjalannya waktu dan apalagi kita berbicara mengenai ajaran spiritual, ternyata uang tidak selamanya membawa kebahagiaan (lihat hasil survey di atas), malahan bisa jadi uang menjadi sumber malapetaka, dan untuk mencegahnya uang harus dimanfaatkan untuk hal-hal yang lebih dari sekedar mencari keuntungan pribadi (baca: irrational exuberance).
Kalau kita membandingkan sesuatu, maka paling mudah adalah membandingkan sesuatu yang sama. Sebagai contoh uang yang sifatnya materiil bisa dibandingkan dengan makan dan minum yang sifatnya juga materiil. Kita makan dan minum dengan menu yang sama setiap saat, tentunya bosan. Kita juga lapar mata ketika melihat berbagai jenis makanan yang tersedia di sebuah pesta perkawinan, dan inginnya semuanya dicicipi akan tetapi, apa daya kapasitas perus kita terbatas, baru mencoba dua-tiga menu sudah terasa kekenyangan. Beberapa individu dapat memoderasi nafsu ini namun, beberapa yang lain belum tentu bisa. Kenikmatan makan dan minum menjadi berkurang ketika kita mulai merasa cukup (baca: kenyang), sehingga kita tidak butuh lagi asupan makanan dan minuman yang malah dapat menimbulkan akibat buruk seperti penyakit (baca: A Theory of Human Motivation oleh Abraham Maslow).
Lain lagi ceritanya ketika uang pada saat kita butuhkan untuk membeli kebutuhan dasar, sangat berkolerasi langsung misalnya untuk membeli rumah, kendaraan, sandang, kebutuhan sehari-hari, kebutuhan anak sekolah, asuransi kesehatan, asuransi jiwa. Kita akan merasa lebih bahagia ketika kita dengan susah payah dapat memenuhi kebutuhan dasar ini yang juga digambarkan oleh teori di atas yang ditulis lebih dari 65 tahun yang lalu.
Menurut Diener dan Seligman, “Ketika kebutuhan dasar kita terpenuhi, kebahagiaan tidak melulu mengenai perbedaan jumlah pendapatan, akan tetapi lebih sering karena faktur-faktor seperti hubungan sosial dan kecintaan akan pekerjaannya.”Peneliti lain menambahkan ”Kesadaran bahwa kehidupan memiliki arti seperti keberadaannya di lingkungan masyarakat, atau dalam sebuah kelompok/grup, atau hidup di alam demokrasi yang menghargai hak-hak manusia serta aturan hukum.”
(afwan)
Insya Allah bersambung…
Diskusi
Trackbacks/Pingbacks
Pingback: IB Blogger Competition» Blog Archive » Marketing Therapy Perbankan Syariah di Masa Krisis - Juli 26, 2009