//
you're reading...
filosofi, renungan

A Short Story About Little Happiness


Assalammu’alaikum Wr. Wb.

“My major hobby is teasing people who take themselves & the quality of their knowledge too seriously & those who don’t have the courage to sometimes say: I don’t know.…” (You may not be able to change the world but can at least get some entertainment & make a living out of the epistemic arrogance of the human race).– quoted by Nassim Nicholas Taleb

Saya sedikit tergelitik salah satu cerita pendek pada hasil karya tulisan Nassim Nicholas Thaleb yang menceritakan mengenai seseorang pengacara yang bernama Mac yang telah sukses sebagai lulusan universitas terbaik di Amerika Serikat (Yale & Harvard) dan tinggal di kawasan elit di upper Manhattan (New York)  namun harus bercerai dengan istri pertamanya yang bernama Janet, karena Janet tidak merasa bahagia dan kurang perhatian dari suamiya.

Padahal dibandingkan dengan teman-temannya terutama dari bangku SMA, Mac termasuk dalam kategori 99,5% tersukses dari sisi karir dan material, kemudian dibandingkan dengan teman-teman kuliahnya  mungkin Ia masuk golongan di atas 60% dalam hal kesuksesan. Dan tentunya Mac termasuk golongan tersukses apabila dibandingkan koleganya sebagai seorang warga negara Amerika Serikat.

Namun prestasi karir seperti ini  menjadi biasa saja ketika Mac & Janet pindah ke kawasan elit di Upper Manhattan.  Lokasi tempat tinggal ini memang  tidak jauh dari tempat kerjanya si Mac, dan  Mac sangat terbantu karena lokasi yang strategis.

Barangkali istrinya (menurut penulis) tidak melihat kesuksesan dari sisi kesuksesan yang telah dicapai tetapi melihat kesuksesan Mac relatif pada lingkungan tempat tinggalnya di kawasan Upper Manhattan.  Orang-orang yang tinggal di lokasi itu termasuk sukses dan tidak ada satu pun orang-orang yang tinggal di daerah itu dikenal sebagai pecundang.

Performa Mac tentunya menjadi biasa-biasa aja dan istrinya meninggalkannya, bahkan kemudian Janet menikah dengan orang lain yang memiliki profesi yang sama seperti Mac namun nampaknya Janet merasa lebih bahagia.

randomness1Menurut Penulis (baca: Nassim Nicholas Taleb) si  istri tidak dapat membedakan antara kemungkintan-kemungkinan (probabilitas) dan keacakan (randomness) dalam kehidupan, sehingga si istri terperangkap dalam keacakan dalam kehidupannya.  Kalau saja  dia bisa memahami adanya kemungkinan-kemungkinan  yang telah dicapai oleh Mac, sebagai contohya apabila si Mac tinggal di wilayah lain yang tidak se-glamour Upper Manhattan barangkali keluarga Mac dan Janet terlihat paling berhasil dan Janet akan menghargai kesuksesan suaminya itu.

Namun siapa tahu di balik semua itu barangkali memang sebenarnya manusia mudah terperangkap dengan “fakta nyata”yang dihadapkan padanya, serta tidak dapat dengan mudah melihat sesuatu yang abstrak di luar fakta yang ada. Bagaimana dengan Anda, apakah Anda akan mengambil sikap yang sama seperti Janet?

Wallahu’alam bi showab

Tentang ghifi

I am glad that I have wonderful friends around me who always make me smile and accept me with warm heart. But my family is the reason that I am here, My wife and my daughter are the most important people in my life. I hope that friends will make me rich in life and they are always there for me when I need them.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 293 pengikut lainnya.