Assalammu’alaikum Wr Wb.
Dalam rangka menyambut Pertemuan tingkat tinggi G 20 yang akan berlangsung di London Inggris pada tanggal 1 April 2009 dan dihadiri oleh para pemimpin dari 20 negara termasuk negara-negara Eropa, Brazil, Australia, Rusia, China, Afrika Selatan, India, dan Indonesia. Mereka akan ditemani oleh para menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari masing-masing negaranya. Ada pembicaraan yang menarik oleh peraih nobel ekonomi Prof. Dr. Joseph E. Stiglitz.
Sebenarnya berbicara mengenai ekonomi dunia sepertinya seperti berbicara di atas awang-awang dan hanya para ekonom yang memahami, mungkin karena suasana krisis di dunia belum sepenuhnya dirasakan oleh Indonesia seperti di tahun 1997-1998. Namun demikian angin itu akan segera datang cepat atau lambat, dan apabila tidak bersiap badai krisis juga akan menimpa negara republik yang kita cintai ini.
Ada sebuah cerita dimana seekor sapi muda merasa sangat berbahagia dimana setiap hari si pemilik selalu memberikan makanan rumput berkualitas tinggi, dan yang dia perlu lakukan setiap harinya hanya makan/minum cukup dan istirahat. Dia tidak pernah terbayang (barangkali karena seekor sapi:) ) bahwa ketika sebuah hari besar tiba seperti hari lebaran, maka pada saat itu juga si sapi akan segera disembelih tanpa dia sadari sebelumnya karena si pemilik begitu baiknya setiap hari selama 6 bulan memberi makan kepadanya. Dia tidak pernah mengira bahwa hari itu akan tiba.
Bisa jadi cerita di atas juga akan menimpa kepada kita, karena kita tidak sadar bahwa the day of reckoning akan tiba dan kita belum sempat melakukan apapun karena kita mengira hal tersebut tidak akan terjadi.
Dr. Stiglitz menjelaskan bahwa ketidakadilan membiarkan pembuat kebijakan untuk melakukan penciptaan akan kebutuhan deregulasi dan kebijakan moneter yang kendor untuk menstimulisasi ekonomi yang menghasilakn likuiditas yang berlebihan sehingga menyebabkan bubble KPR di Amerika Serikat di tahun 2003 sampai dengan tahun 2007.
Ketika saya membaca hasil interview antara Presiden Barack Obama dengan Financial Times menunjukkan masih belum ada langkah-langkah nyata yang radikal untuk merubah keadaan yang diharapkan pada kelompok G20. Langkah-langkah radikal tersebut dapat dibaca pada sambutan pidato Prof. Dr. Joseph E. Stiglitz di Shanghai tanggal 17 Maret 2009, berikut adalah cuplikannya:
Peraih Nobel Ekonomi 2001, Prof. Dr. Joseph E. Stiglitz berbicara di depan pemirsa di Shanghai 17 Maret 2009 menyerukan akan adanya perubahan fundamental pada orde ekonomi dunia melaui system global reserve baru dan pembentukan institusi multilateral di luar IMF dan World Bank untuk mengembalikan ekonomi dunia ke kondisi semula.
Indonesia sendiri berusaha melepaskan tekanan dari US Dollar melalui BCSA (Bilateral Currency Swap Agreement) dengan China sehingga kebutuhan akan US Dollar akan sedikit menurun dan memberikan diversifikasi valas.
Menurut beliau sumber dari kekacauan ini adalah ketidakadilan ekonomi sebagai sumber permasalahan sehingga menyebabkan krisis.
Ketidakadilan ekonomi telah menyebabkan krisis KPR yang menyebabkan krisis finansial dan sistem reseve US dollar yang menyebabkan Amerika Serikat mengekspor krisis dan menjadi krisis global.
Ketidakadilan ekonomi memiliki arti bahwa kita memindahkan uang dan aset dari orang-orang yang seharusnya tidak mampu yang dipaksa membelanjakannya kepada orang-orang kaya yang tidak mau membelanjakan uang atau aset mereka. Orang-orang ini dipaksa untuk berbelanja dan diberikan pinjaman oleh lembaga keuangan (bank maupun non-bank), Dr. Stiglitz menjelaskan bahwa ketidakadilan membiarkan pembuat kebijakan untuk melakukan penciptaan akan kebutuhan deregulasi dan kebijakan moneter yang kendor untuk menstimulisasi ekonomi yang menghasilakn likuiditas yang berlebihan sehingga menyebabkan bubble KPR di Amerika Serikat di tahun 2003 sampai dengan tahun 2007.
Ketidakadilan ini tidak hanya terjadi di Amerika Serikat namun hampir di seluruh dunia. Jumlah rumah kosong dan orang-orang yang gelandangan sangat besar di Amerika Serikat, dan masalah kemiskinan, pengangguran di negara berkembang yang artinya bahwa “sistem supply dan demand tidak bekerja“, hal ini perlu dirubah!!
Prof. Stiglitz menyerukan dunia untuk mengubah arah ekonomi pada jalan yang konsisten dengan visi ke depan dan menyelesaikan permasalahan kebutuhan jangka panjang bukan menciptakan kembali sistem yang sudah gagal.
China sebaliknya memiliki rencana 5 tahunan yg. kesebelas kalinya untuk membangun ekonomi yang inovatif untuk merekstrukturisasi ekonomi untuk lebih ramah lingkungan dan memfokuskan ekonomi dari ketergantungan ekspor kepada konsumsi dalam negeri dan investasi.
negara-negara berkembang di kawasan Asia, telah menimbun cadangan US dollar secara berlebihan yang menimbulkan adanya penurunan aggregate demand, dan menurut Prof. Stiglitz disebabkan oleh manajemen buruk IMF pada krisis finansial di Asia di tahun 1997 hingga 1998. Dan ditambah degan adanya penurunan konsumsi negara-negara berkembang dan diikuti / diimbangi oleh konsumsi berlebihan di Amerika Serikat.
Jelas hal ini merupakan fenomena aneh pada ekonomi global yang menyebutkan bahwa negara-negara terkaya harus melakukan konsumsi melebihi kemampuannya untuk menjaga agar ekonomi global tetap dapat bertumbuh.
Di lain pihak, adalah sebuah ironi ketika krisis global menyebar dari Amerika Serikat menuju dunia secara keseluruhan. Menyebabkan masyarakat di negara berkembang mereka mengkoleksi valas US Dollar walaupun sebenarnya nilainya makin menurun.
Menurut Prof. Stiglitz sistem global reserve hanya pada satu currency menyebabkan masalah karena seluruh dunia harus melihat ekonomi berbasiskan satu mata uang dimana negara miskin meminjamkan uang kepada negara kaya pada suku bunga hampir nol persen dibandingkan dengan membelanjakan di dalam negerinya.
Hal ini menyebabkan berlebihnya menurunnya aggregate demand dunia dan Prof. Stiglitz menyerukan adalanya diversifikasi sistem global reserve atau penciptaan sistem reserve yang bersifat regional seperti pada inisiatif Chiang Mai yang merekomendasikan Cina, Jepang dan Korea untuk mengkontribusikan 80 persen pool of fund yang akan digunakan untuk membantu 10 negara di Asia pada saat krisis atau ketika dibutuhkan.
Pada saat yang bersamaan Prof. Stiglitz juga menyerukan adanya institusi multilateral yang baru di luar IMF dan Bank Dunia. Beliau melihat IMF bukanlah institusi yang baik untuk diberi uang karena mentalitas Wall Street yang memaksakan deregulasi dan kebijakan pro-cyclical yang menyebabkan masalah pada ekonomi dunia. Hal ini menyebabkan banyak negara tidak bersedia bekerja sama dengan IMF yang menyebabkan usaha untuk mendesain paket stimulus global menjadi kurang penting.
Beliau juga mengatakan adanya sebuah kebutuhan untuk melakukan diversifikasi cara untuk disbursement/expenditure termasuk di dalamnya pertimbangan untuk penciptaan fasilitas baru, insititusi baru, dan pengaturan peminjaman baru serta sistem manajemen baru, yang memberikan pertimbahan lebih baik kepada baik negara-negara berkembang maupun negara-negara donor. Dia mencontohkan inisiatif yang dilakukan di negara-negara Asia untuk menciptakan AMF (Asian Monetary Fund) yang terjadi juga di Amerika Selatan, yang pada akhirnya memerikan dukungan terhadap diversifikasi bagi negara-negara berkembang.
Prof. Stiglitz juga beranggapan bahwa Cina memiliki peranan yang sangat penting di dalam krisis finansial untuk membantu negara-negara berkembang. Cina dan negara-negara lainnya akan dengan cepat menciptakan fasilitas baru untuk mendapatkan uang dan membelanjakannya dalam rangka membantu negara-negara lain yang membutuhkannya. Hal ini sangat konsisten dengan prinsip-prinsip deplomasi Cina dan kebutuhan makro ekonominya.
Diskusi
Belum ada komentar.