Assalammu’alaikum wr. wb.
Seorang eksekutif IT sebuah perbankan memiliki mimpi bahwa layanan e-channel di banknya bisa memiliki kapasitas dan response time seperti perusahaan-perusahaan seperti Google, Facebook, dan Yahoo dimana seluruh pengguna di seluruh dunia dapat mengakses situs-situs tersebut secara lokal dalam bahasa setempat dilengkapi oleh layanan yang prima.
Namun mimpi itu barangkali tidak akan menjadi kenyataan dalam waktu dekat dikarenakan perbedaan visi antara industri keuangan yang menganggap bahwa IT merupakan cost center, sedangkan perusahaan IT menganggap investasi di IT merupakan asset yang dapat memberikan bisnis. Dunia keuangan mengitung sekecil mungkin uang sen yang mereka keluarkan untuk investasi bahkan mereka menerapkan efisiensi dalam segala hal, sedangkan perusahaan IT menerapkan efisiensi dalam bentuk produk dan revenue yang dihasilkan.
Investasi IT di Indonesia masih dianaktirikan, mungkin karena disamping mahal, Indonesia masih hanya berperan sebagai konsumen bukan inovator, sehingga produk-produk IT masih sebagian besar harus diimpor, walaupun kondisi sekarang sudah jauh lebih baik ketika PC/notebook sudah bisa diproduksi sendiri oleh negara republik ini.
Kembali ke topik, ketika Anda memiliki 5 bisnis unit dan 100 aplikasi (baca: produk), beberapa menginginkan layanan sangat cepat, yang lainnya tidak, maka tim yang tergabung dalam service governance group akan menentukan aplikasi apa mendapatkan sumber daya apa.
Teknologi mengalami evolusi menurut peneliti dari Gartner, Bittman, dan teknologi ini bukanlah sesuatu yang mudah untuk diimplementasikan
Private cloud akan mengambil alih dalam beberapa tahun ke depan, namun kemungkinan hal ini terjadi hanya pada perusahaan IT besar. Bagi perusahaan IT kecil barangkali belum tentu memiliki economies of scale dan belum tentu menguntungkan. Dalam 5 tahun ke depan prosentasi bisnis kecil yang mendapatkan sumber daya komputernya dari provider cloud eksternal cukup besar, menurutnya.
Nantinya setiap perusahaan akan memiliki kapasitas yang sifatnya fix in-house dan memiliki akses ke kapasitas eksternal dari provider ketika mereka membutuhkannya. Seperti overdraft protection di sebuah akun nasabah sebuah bank.
Jika korporasi mengalami permintaan yang mendadak, maka meta operating system dan service governor akan mengatur ekstra kapasitas untuk dialokasikan dari sumber luar. Pemakai tidak akan dapat membedakan layanan mana yang berasal dari dalam dan mana yang dari luar perusahaan. Data center akan membedakan layer layanan yang diberikan sedangkan pengguna hanya melihat interface service based.
Ketika terjadi evolusi pada public cloud, perusahaan akan memiliki banyak pilihan. Hari ini layanan cloud computing memberikan elastisitas yaitu kemampuan untuk menambah sumber daya dan mengurangi sesuai kebutuhan kapanpun.. Sebagai contoh Amazon cloud computing service disebut denagn Elastic Compute Cloud (EC2)
Tetapi elastisitas itu sendiri masih menjadi pertanyaan, karena ketika para pengguna misalnya ingin menambah sedikit kapasitas melalui EC2 maka Amazon akan memberikan charge tambahan untuk masing-masing virtual server, sehingga konsumen harus membeli kapasitas yang besar di depan.
Menurut Bittman vendor cloud harus memberikan layanan kapasitas ketika ada kebutuhan konsumen. Namun demikian hal ini hanya salah satu dari banyak isu yang harus diselesaikan dalam rangka pembangunan private dan public cloud.
Membutuhkan waktu yang sedikit lama untuk cloud mencapai maturitynya di segala area dan memberikan solusi yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan.
Apakah Anda setuju dengan pendapat tersebut?
Diskusi
Belum ada komentar.