Assalammu’alaikum wr. wb.
Barangkali Al-Ghazali (Algazel in English) merupakan salah satu idola saya saat ini. Beliau adalah seorang filosof di abad kesebelas dilahirkan pada tahun 1058 dan meninggal di tahun 1111 Masehi.
Dalam umur yang relatif muda (53 tahun) beliau sudah meninggal tetapi telah meninggalkan begitu banyak karya yang bermanfaat sepanjang masa. Beliau telah menulis karya hingga 72 karya, belum lagi karya-karya termasuk tentang beliau yang tidak dalam buku namun tersebar bisa mencapai 457 karya. Barangkali kalau saya menulis karya walaupun harus mencurahkan segala tenaga dengan ribuan referensi, 10 karya pun saya belum tentu bisa mencapainya, dan karya yang orisinal serta memiliki pengaruh sepanjang masa barangkali 1 karya pun belum tentu.
Beberapa julukan yang diberikan kepadanya seperti Hujattul Islam (Proof of Islam) dan Zainuddin.
Saya begitu terkesima dengan karya-karya beliau adalah salah satu karya yang ditulisnya “The Revival of Religious Sciences” (Ihya’ul Ulumuddin) dan jika semua ilmu Islam hilang maka, Islam dapat diambil kembali dari ihya’ul Ulumuddin. Dalam buku ini beliau menuliskan bahwa ilmu pengobatan / kedokteran dan Matematika merupakan fard khifayah atau menjadi kewajiban komunitas. (Pemikiran Sosio Ekonomi Al-Ghazali)
Pemikiran akan skepticism ” My mind can only go so far the rest is my emotions” sepertinya quote ini begitu menjelaskan akan keterbatasan kita di dalam memahami semua ada yang ada di dunia. Skepticism merupakan salah satu filosofi dalam melihat dunia, dia mengajari kita untuk tidak terlalu bergantung kepada logika, mengajari kita untuk lebih open mind, dan tidak taqlid (mengikuti kepercayaan / pendapat / keyakinan secara brutal.:) ). Filosofi skepticism di jaman andalusia juga pernah terjadi. Pada saat itu terjadi perdebatan antara school of avicennian (Ibn Rushd) dengan Ash’ari (Al-Ghazali), dimana Al-Ghazali menulis buku Tahafut al Falasifa (Incoherence of Philosphoper). Avicennian yang mehubungkan antara filosofi aristotle dengan ajaran religi melalui logika yang ditentang dalam buku Tahaful al Falasifa.
Namun intinya adalah bahwa pemahaman kita hanya terbatas, seperti filosofi dari Plato yang cenderung untuk salah narasi atau membaca peta sehingga telalu fokus pada bentuk-bentuk yang murni dan terdefinisi dengan baik misalnya seperti bentuk segitiga, pandangan-pandangan sosial, seperti utopia, bahkan nasionalitas. Konstruksi-konstruksi serba nyata ini memenuhi pikiran kita sehinggak kita memberikan perhatian yang lebih besar kepada hal-hal itu dibandingkan kepada hal-hal lainnya yang tidak terdefinisi dengan baik.
Model-model ini mirip dengan obat penyakit yang memiliki potensi untuk manjur, meskipun jarang, namun dapat menghadirkan efek-efek samping yang sangat berbahaya, akan tetapi sulitnya adalah 1) kita tidak mengetahui sebelumnya (baru setelah kejadian) di mana peta akan keliru, 2) kesalahan tersebut dapat mengantar ke akibat-akibat yang buruk. (baca: Black Swan).
Insya Allah Bersambung
Wallahu’alam bi showab
Diskusi
Belum ada komentar.