Kebiasaan Merokok Menyebabkan Pengentasan Kemiskinan Dapat Mengalami Kegagalan?

Assalammu’alaikum wr. wb.

Seorang nelayan dan pekerja kasar di pasar harian bernama Abdul yang memiliki pengasilan Rp 30.000-60.000 sehari, Dia membelanjakan Rp 18.000

smoking

sehari untuk merokok daripada membeli makanan buat anaknya yang terlihat kurang gizi. Terkadang ketika Abdul tidak memperoleh pendapatan sepeserkan dalam satu hari, dia malah berhutang kepada tukang penjual rokok, dan kata istrinya “Suleha”, penghasilan sehari-hari hanya digunakan untuk membayar hutang. Anak mereka yang paling tua, pada tahun ini seharusnya masuk SMP, tapi Suleha ragu-ragu apakah dia mampu membayar SPP sekolah anaknya. Kalau saja Abdul mau menghentikan kebiasaan merokoknya paling tidak dalam sehari Dia bisa menghemat uang sebesar Rp 12.000, dalam sebulan keluarga miskin ini bisa menabung Rp 360.000 dan akan mampu membayar sekolah anaknya yang SPPnya dalam sebulan Rp 50.000.

Nelayan lainnya, “Ilyas” mengatakan berhenti merokok bagi dia sangat sulit, Dia punya anak berumur 14 tahun dan anaknya hanya bersekolah di sekolah alternatif untuk orang miskin yang bahkan tidak menerbitkan sertifikat kelulusan.  Menurut BPS Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok mencapai 63 juta orang berdasarkan data tahun 2006, dan seorang perokok menghabiskan uang Rp 117.724, sebulan.  Bagi orang miskin pengeluaran untuk merokok mencapai 11,89% dari pendapatan, dan pengeluaran ini menjadi pengeluaran terbesar kedua setelah belanja beras. Orang miskin dalam sebulan menghabiskan uang Rp. 56.188 sebulan dalam setahun saja Rp 675.000, 17 kali lipat dari pada pengeluaran untuk daging, 15 kali lipat dari pengeluaran untuk kesehatan, 9 kali lipat dari pengeluaran untuk pendidikan dan 5 kali lipat untuk nutrisi harian.

Terlebih lagi menurut Dr. Widyastuti Soerojo, kepala Asosiasi pusat kesehatan masyarakat terkait dengan pengendalian merokok, negara telah menghabiskan dana hingga Rp 167 Triliun setahun di tahun 2005, 5 kali lipat dibandingkan dengan penerimaan cukai rokok sebagai pendapatan pemerintah.

Anti-Smoking-CrazeMembahas mengenai merokok sepertinya kedengaran klise, sama seperti berbicara mengenai pornografi/pornoaksi, apalagi kalau merokok adalah hak asasi individu walaupun sebenarnya hak tersebut musti dipertanyakan ketika dia merokok & mengepulkan asap di tempat-tempat umum tak peduli di mana dia berada di dalam gedung, di ruangan ber-AC, ketika bersosialisasi, dan lain-lain.  Penulis sendiri tidak pernah merokok dan selau berusaha bersabar sehingga barangkali sering menjadi korban menghisap asap rokok (perokok pasif) yang ada di mana-mana.  Dulu lebih buruk,  sekarang Alhamdulillah sudah berkurang karena barangkali penulis bukan orang yang suka bersosialisasi…:)

Masih banyak kewajiban sosial pemerintah dan kewajiban bersama misalnya mensukseskan kampanye anti rokok,  pelarangan iklan rokok, penambahan area-area tidak boleh merokok, iklan bahaya meorokok, bahkan institusi keagamaan seperti MUI dapat mengeluarkan fatwa haram merokok karena mudharatnya lebih besar dari manfaatnya, atau tokoh-tokoh masyarakat untuk memberikan contoh yang baik! Karena di negara maju jumlah perokok sudah jauh lebih menurun dibandingkan di negara berkembang.  Belum lagi industri rokok yang memanfaatkan situasi ini, mungkin penulis akan membahas tentang industri rokok dan isu-isu yang terkait dengannya di tulisan selanjutnya.

Di lain pihak menurut hasil penelitian bisa saja pemerintah meningkatkan cukai sebesar 10% bisa saja mengurangi jumlah perokok orang miskin hingga 17% dibandingkan dengan orang yang mampu hanya 4%, walaupun menurut hemat penulis hal ini tidaklah etis karena pemerintah mengambil keuntungan dari nasib buruk kaum miskin, belum lagi pada saat yang lain perokok dari kalangan miskin akan membeli rokok-rokok tak bermerek di pasaran.

Program pengentasan kemiskinan tentunya akan menjadi tidak ringan karena pemerintah berkewajiban memberikan akses kepada pelayanan kesehatan di satu sisi, sedangkan di sisi lain pemerintah juga harus bekerja keras untuk menyelesaikan permasalahan rokok, gizi buruk, penyalahgunaan miras, dan lain sebagainya.

Wallahua’lam bi showaabsmoking-cartoon

Insya Allah Bersambung

Sumber: The Jakarta Globe


Kronologi Krisis Keuangan Dunia Abad 20

Kronologi Krisis Keuangan Dunia Abad 20 (Roy & Glyn Davies, 1996 & Francisco LR dan Luis R Batiz,1985)

1860-1921 Peningkatan Jumlah Bank di amerika s/d 19 Kali Lipat

1907 Krisis Perbankan Internasional dimulai di New York

1913 US Federal Reserve Sistem

1914 – 1918 Perang Dunia I

1920 Depresi Ekonomi di Jepang

1922 – 23 German mengalami hyper inflasi. Karena takut mata uang menurun nilainya, gaji dibayar sampai dua kali dalam sehari.

1927 Krisis Keuangan di Jepang (37 Bank tutup); akibat krisis yang terjadi pada bank-bank Taiwan

1881 – 1901 Jumlah Bank bertambah 20 kali lipat

1929  30 The Great Crash (di pasar modal NY) & Great Depression (Kegagalan Perbankan); di US, hingga net national product-nya terbangkas lebih dari
setengahnya.foreclosed_farm_Great_Depression

1931 Austria mengalami krisis perbankan, akibatnya kejatuhan perbankan di German, yang kemudian mengakibatkan berfluktuasinya mata uang internasional. Hal ini membuat UK meninggalkan standar emas.

1944 – 66 Prancis mengalami hyper inflasi akibat dari kebijakan yang mulai meliberalkan perekonomiannya.

1944 – 46 Hungaria mengalami hyper inflasi dan krisis moneter. Ini merupakan krisis terburuk eropa. Note issues Hungaria meningkat dari 12000 million (11 digits) hingga 27 digits.

1945 – 48 Jerman mengalami hyper inflation akibat perang dunia kedua.

1945 – 55 Krisis Perbankan di Nigeria
Akibat pertumbuhan bank yang tidak teregulasi dengan baik pada tahun 1945

(1950-1972) Periode tidak terjadi krisis
Lebih kurang akibat Bretton Woods Agreements, yang mengeluarkan regulasi
disektor moneter relatif lebih ketat (Fixed Exchange Rate Regime). Disamping itu
IMF memainkan perannya dalam mengatasi anomali-anomali keuangan di dunia. Jadi regulasi khususnya di perbankan dan umumnya di sektor keuangan, serta penerapan rezim nilai tukar yang stabil membuat sektor keuangan dunia (untuk sementara)

1971 Kesepakatan Breton Woods runtuh (collapsed). Pada hakikatnya perjanjian ini runtuh akibat sistem dengan mekanisme  bunganya tak dapat dibendung untuk tetap mempertahankan rezim nilai tukar yang fixed exchange rate.

1971-73 Kesepakatan Smithsonian
(1 Ons emas = 38 USD). Dicoba untuk menenangkan kembali sektor keuangan dengan perjanjian baru. Namun hanya bertahan 2-3 tahun saja.

1973 Amerika meninggalkan standar emas. Akibat hukum “uang buruk (foreign exchange) menggantikan uang bagus (dollar yang di-back-up dengan emas)-(Gresham Law).

1973 -… mengglobalnya aktifitas spekulasi sebagai dinamika baru di pasar moneter konvensional akibat penerapan floating exchange rate system. Periode
Spekulasi; di pasar modal, uang, obligasi dan derivative.

1973 – 74 Krisis Perbankan kedua di Inggris; akibat Bank of England meningkatkan kompetisi pada supply of credit.

1974 Krisis pada Eurodollar Market; akibat west German Bankhaus ID Herstatt gagal mengantisipasi international crisis.

1978-80 Deep recession di negara-negara industri akibat boikot minyak oleh OPEC, yang kemudian membuat melambung tingginya interest rate negara-negara industri.

1980 Krisis Dunia ketiga; banyaknya hutang dari negara dunia ketiga disebabkan oleh oil booming pada th 1974, tapi ketika negara maju meningkatkan interest rate untuk menekan inflasi, hutang negara ketiga meningkat melebihi kemampuan bayarnya.

1980 Krisis Hutang di Polandia; akibat terpengaruh dampak negatif dari krisis hutang dunia ketiga. Banyak bank di eropa barat yang menarik dananya dari bank di eropa timur.

1982 Krisis Hutang di Mexico; disebabkan outflow kapital yang massive ke US, kemudian di-treatments dengan hutang dari US, IMF, BIS. Krisis ini juga menarik Argentina, Brazil dan Venezuela untuk masuk dalam lingkaran krisis.

1987 The Great Crash (Stock Exchange), 16 Oct 1987 di pasar modal US & UK. Mengakibatkan otoritas moneter dunia meningkatkan money supply.

1994 Krisis di Mexico; kembali akibat kebijakan finansial yang tidak tepat.

1997 Krisis Keuangan di Asia Tenggara; krisis yang dimulai di Thailand, Malaysia kemudian Indonesia, akibat kebijakan hutang yang tidak transparan. Krisis Keuangan di Korea; memiliki sebab yang sama dengan Asteng.

1998 Krisis Keuangan di Rusia; jatuhnya nilai Rubel Rusia (akibat spekulasi)

1998 Krisis Keuangan di Brazil

1999 Krisis Keuangan di Argentina

2001 Krisis Finansial karena insiden 11 September

2007 Krisis keuangan yang disebabkan oleh Sub-Prime Mortgage, institusi keuangan raksasa seperti Merrill Lynch, Bear Sterns, JP Morga, Goldman Sach, Lehman Brothers, dan lain-lain disebabkan oleh kegagalan Hedge Fund (dana investasi yang tersedia bagi investor tertentu yang dibolehkan oleh regulator untuk melakukan kegiatan investasi dan trading lebih luas dibandingkan dengan dana investasi lainnya, dan membayar sejumlah fee kepada manajer investasinya), yang dengan hedge fund ini dibentuklah surat berharga derivative berdasarkan level tertentu ( middle-level) tagihan (receivable) surat utang KPR (mortgage) dalam mata uang US Dollar yang kemudian nasabah KPR tersebut kehilangan kemampuannya dalam membayar (loss solvency). Peperangan Amerika Serikat di Afghanistan dan Iraq menyebabkan defisit APBN sehingga nasabah KPR tidak memiliki tunjungan sosial yang diberikan pemerintah dalam kondisi normal. subprime mortgage modern

Wallahua’lam bi showaab

Ekonomi Neoliberalisme Sebuah ‘Kesalahkaprahan’ Pemahaman? Bagian II

Assalammu’alaikum Wr. Wb.

capitalismKembali pada topic diskusi diatas, walaupun begitu, saat ini kritisi kelemahan system keuangan tidak hanya focus pada paradigma pasar bebas (privatisasi) yang dominan dimiliki oleh Klasik, tetapi juga pada pondasi Kapitalisme, yaitu credit system dan prilaku serakah yang ter-legal-kan oleh Kapitalisme (misalnya perusahaan sekuritas hanya mengandalkan assessment dari perbankan terhadap credit risk dalam menerbitkan surat-surat berharganya). Dengan credit system dan ciri prilaku spekulatif-nya, system keuangan konvensional modern dikritisi secara alami memiliki fragility. Prilaku serakah pada gilirannya membuat kecenderungan-kecenderungan dimana fenomena dan kebijakan ekonomi kehilangan esensinya sebagai alat pengentasan masalah perekonomian. Dalihnya ekonomi semakin maju, tetapi masalah esensi ekonomi seperti kemiskinan, pengangguran atau bahkan kriminalitas ternyata semakin meningkat disekitar kita.

Sejauh ini suara para akademisi yang meneriakkan something wrong with the system!, semakin menguat dan nyaring terdengar. Tidak heran semakin inovatif solusi yang coba ditawarkan oleh mereka. Jurnal-jurnal ilmiah mulai diwarnai dengan isu ini, setelah sekian lama media-media tersebut lebih banyak berdiskusi di ranah microeconomics. Mari kita perhatikan perkembangan-perkembangan selanjutnya, sembari juga terus berupaya, merenung, berdiskusi dan mencoba mewujudkan sesuatu untuk ekonomi yang lebih baik.

Harapannya madzhab baru yang muncul dan mulai dilirik konsepsinya, walaupun tak penting namanya untuk saat ini,  dalam jangka pendek diharapkan ekonom barat terinspirasi oleh mekanisme ekonomi yang digerakkan oleh produktifitas real dengan prilaku ekonomi yang lebih bermoral.  Arah itu sudah terlihat kok, didahului oleh artikel Rational Fool-nya Amartya Sen tahun 70-an, dan kini ada angin segar yang diusung oleh Joseph E Stiglitz (bahkan sudah ada yang menisbahkan madzhab tersendiri bagi pemikiran beliau, Stiglitzian!!). Silakan baca buku beliau “towards a new paradigm of monetary system”, “Roaring Nineties” atau yang paling fenomenon “Globalization and its discontents”Pyramid_of_Capitalist_System

Rational Fool menawarkan paradigma baru prilaku ekonomi yang mengedepankan simpati dan empati, meskipun pemikiran Sen ini “mandeg” karena tak ada tools yang practicable yang tersedia di ranah kapitalisme ingat memang Moral sudah ditendang jauh-jauh hari sebelum bangunan ekonomi kapitalisme sudah sangat kompleks seperti sekarang ini – lihat Principles of Economics-nya Marshall atau Ulasan Herbert Spencer terhadap tulisannya Adam Smith di Theory of Moral Sentiment.

Sementara itu Stiglitzian mengusung isu kerancuan peradigma keseimbangan umum ekonomi, bubble economics, greedy behavior dan inkonsistensi dalam penerapan teori-teori ekonomi. (meskipun ini (isu stiglitz) menjadi sangat usang kalo kita lihat tulisan-tulisan yang sudah dikeluarkan oleh ekonom Muslim seperti Umer Chapra).

Akan muncul mekanisme-mekanisme ekonomi (dan memang harus kita upayakan untuk muncul) yang inspirasinya dari Islam. akan muncul mekanisme keuangan/perbankan yang mengedepankan risk sharing instead of risk transfer (interest rate concept), akan muncul pajak yang berkarakteristik zakat yang definitif penggunannya untuk apa (meskipun namanya tetap pajak). akan muncul teori-teori filantropis yang mengedepankan isu ramah lingkungan dan sosial dengan nilai-nilai ukhuwah dan tausiyah (meskipun menggunakan nama CSR dan Humanity).

Tapi semua ini tergantung kesiapan jumlah manusia-manusia beriman (berilmu) dan sabar bukan?! Jadi mari kita wujudkan manusia-manusia itu dulu , di kelas-kelas yang kita pegang, di tempat kita bekerja, di forum-forum informal seperti taklim-taklim yang kita ada didalamnya, di keluarga-keluarga yang memang menjadi amanah kita. kita wujudkan manusia yang cerdas secara akal, ruhiyah dan fisiknya, meskipun boleh jadi kita bukanlah termasuk pasukan yang akan merasakan kemenangan yang kita dambakan nanti.

Wallahua’lam bi showaab

Disadur dari Berbagai Sumber

Ekonomi Neoliberalisme Sebuah ‘Kesalahkaprahan’ Pemahaman?

Assalammu’alaikum wr. wb.

Saya mendengar istilah neo liberal economist menjadi sangat santer baru-baru ini.  Opini publik polyp_cartoon_rich_poor_neoliberalseperti dengan mudah membentuk buruk sangka pada ekonom-ekonom Indonesia yang saya tahu sudah bekerja begitu keras menyelamatkan perekonomian Indonesia dari krisis global. Indikator-indikator seperti inflasi, valas, pengangguran, melepaskan diri dari jeratan IMF & pendiktean negara maju, kemudian berusaha vokal di forum global, termasuk menghindari kebijakan proteksionisme, serta selalu berkoordinasi untuk menjaga keseimbangan regional ekonomi bersama negara-negara tetangga dijalankan dengan sangat baik, bahkan nilai Rupiah menjadi terjaga tidak terjerembab lebih jauh.

Instrumen baru keuangan seperti sukuk, perbankan syariah, instrumen fiskal untuk mengawal penurunan kinerja ekonomi, pengurangan pajak, regulasi yang cukup ketat dan peran pemerintah dijalankan dengan serius. Di mana masa-masa sebelumnya ekonomi Indonesia sudah terlanjur liberal melalui deregulasi perbankan, privatisasi (penjualan perusahaan-perusahaan BUMN contohnya), pasar modal dan pasar valas sehingga eksposure global juga mengenai pasar modal, valas, dan perbankan kita.  Namun imbasnya lebih banyak mengenai spekulan-spekulan ditambah perusahaan atau pun perbankan yang menggunakan instrumen derivative (intrumen hasil rekayasa keuangan) misalnya untuk membiayai investasi jangka panjang dengan instrumen finansial jangka pendek yang sangat berisiko.

Sedikit melihat ke belakang dan membuka-buka sejarah ekonomi di masa lalu, kita dapat mengambil pelajaran dari Great Depression sebagai turbulensi dahsyat ekonomi di awal abad 20 telah membelah pemikiran ekonomi konvensional modern menjadi 2 madzhab besar, yaitu Klasik dan Keynesian. Meskipun pada perkembangannya kedua pemikiran ini menelurkan sekte-sekte yang mencampurkan dua pemikiran besar tersebut. Akan tetapi kedua gerbong pemikiran ini memiliki warna unik yang menjadi panduan para pengikut dan pengusungnya. Madzhab Klasik relative dikenali melalui keyakinannya pada kekuatan kompetisi pasar yang mampu menyeimbangkan perekonomian dalam jangka panjang. Jean Babtist Say terkenal dengan kalimatnya yang menggambarkan mekanisme ekonomi Klasik, yaitu “supply creates its own demand” (Say Law). Kebijakan ekonomi dari madzhab ini kental sekali dengan nuansa market mechanism.

Sementara itu, madzhab Keynesian memiliki kecenderungan yang sedikit berlawanan, dimana madzhab ini percaya bahwa pasar tidak bisa dibiarkan begitu saja untuk mencari keseimbangannya (negara tidak dapat berlepas-tangan) . Keynesian tidak mempercayai waktu “jangka panjang” akan menentralisir setiap ekses dan anomaly ekonomi. Bahkan kalimat terkenal yang keluar dari Keynes menggambarkan sikap skeptis Keynesian terhadap keyakinan Klasik, yaitu “in the long run we are all dead”. Kebijakan Keynesian lebih terlihat pada kebijakan diskresi negara dalam perekonomian. Namun begitu, kedua madzhab besar ini “menari” berdasarkan irama yang sama, yaitu irama Kapitalisme.Dalam beberapa decade, setelah Breton Woods Agreement runtuh perekonomian dunia dalam pengembangannya terkesan lebih berpedoman pada madzhab Klasik (Neo-Klasik) . Hal ini terlihat dari kecenderungan perekonomian modern yang mengusung Globalisasi dengan program-program seperti WTO, freetrade zone, kebijakan liberalisasi dan privatisasi. Pengusung Klasik boleh berbangga dengan capaian itu semua, karena memang inspirasi utama dari fenomena itu adalah mereka.

cartoonTetapi, bagaimana dengan saat ini? Dengan munculnya krisis keuangan Amerika, Klasik harus menyiapkan banyak amunisi justifikasi dari apa yang dianggap saat ini sebagai kontribusi Klasik dalam krisis di pusat keuangan dunia. Sebaliknya krisis ini memberikan angin baru bagi Keynesian, karena opsi satu-satunya yang dilihat oleh para otoritas adalah kebijakan intervensi. Keynesian mungkin seolah-olah bernostalgia pada era Great Depression, dimana ketika itu krisis itulah yang membuat Keynesian muncul dan mampu dengan gagah memberikan solusi efektif bagi ekonomi untuk keluar dari jebakan under-consumption. Pertanyaannya apakah Keynesian mampu mengulang sejarah? Atau sesuatu yang baru akan muncul dalam ekonomi? Sesuatu yang kembali akan merubah wajah ekonomi. Kalaupun berubah apakah sekedar perubahan pada paradigma dan falsafah kebijakan saja, sementara iramanya masih menggunakan Kapitalisme? Atau sesuatu itu betul-betul menawarkan angin yang segar, sesuatu yang baru, benar-benar baru dari filosofi, paradigma hingga aplikasi ekonomi. Jawaban dari setumpuk penasaran ini saya yakin akan kita temukan dalam waktu tidak terlalu lama.

Wallahua’lam bi showaab

Insya Allah Bersambung

Disadur dari berbagai sumber

Ekonomi Kerakyatan? Sebuah Ide Mulia atau Gimmick Semata?

Assalammu’alaikum wr. wb. (Peace be upon thou all)

Sekarang ini istilah ekonomi kerakyatan tiba-tiba menjadi berita-berita di surat kabar dan televisi terutama ketika calon pemimpin baru akan dipilih oleh rakyat.  Rakyat disuguhi dengan konsep-konsep yang barangkali rakyat sendiri tidak begitu paham dan mengerti.  Calon pemimpin sepertinya menjual konsep yang akan membuat rakyat termagnet untuk memberikan suaranya pada pemilu mendatang.

Harus mulai dari mana?732_image_sewing_verticalB

Kecuali incumbent, pemimpin baru harus mulai dari mana, karena konsep pengentasan kemiskinan, atau sustainable development bukanlah hal yang mudah.  Banyak hal yang musti dipikirkan apakah pendekatan pertumbuhan ekonomi, atau Good Governance (tata kelola yang baik), penghapusan sebagian hutang, substitusi impor dengan produksi dalam negeri dan membangun industri ekspor, micro loan (pinjaman mikro), kepemilikan lahan, pemberdayaan wanita (terutama keluarga miskin), skema perdagangan yang tidak memihak (fair trade), bantuan untuk pengembangan (development aid).

Tidak ada salah dan benar untuk membuat program pengentasan kemiskinan atau ekonomi kerakyatan, namun tentunya ada imbas dalam setiap pengambilan keputusan di dalam sebuah pemerintahan, mengingat waktu yang diberikan hanya 5 tahun, dan menurut pengalaman pemerintah yang efektif hanya bisa berjalan sekitar 4 tahun, karena tahun ke-5 disibukkan dengan pesta demokrasi.

Tentunya pemerintah dalam mengambil keputusan akan memilih solusi yang paling efektif dalam mengentaskan kemiskinan.  Pemerintah incumbent sudah punya modal yaitu melalui good governance, karena bisa jadi good governance merupakan modal dasar yang memungkinkan ekonomi trickle down (ekonomi berbasiskan pertumbuhan) bisa berjalan (model ekonomi yang dijadikan pijakan oleh partai Republikan di Amerika Serikat, dan mungkin di Indonesia oleh salah satu partai besar pemenang pemilu 2009).

Membahas mengenai program pengentasan kemiskinan memang sangat menarik, karena banyak cara bisa ditempuh, seperti salama ini melalui pembiayaan mikro, namun apakah skema yang selama ini berlaku di Indonesia apakah sudah berhasil mengentaskan kemiskinan di Indonesia? Masih menjadi pertanyaan besar.  Atau program lain seperti skema grameen bank yang berlaku di Bangladesh yang notabene memberdayakan perempuan miskin?  Apakah berhasil mengentaskan kemiskinan atau malah menimbulkan ketergantungan terhadap pinjaman ini? Bisa saja skema pinjaman mikro malah menggantikan dana-dana sosial (public safety net) yang seharusnya digunakan untuk pendidikan, kesehatan sekarang diarahkan menjadi pinjaman mikro.

Seperti sudah penulis tandaskan di depan, tidak ada pilihan yang benar dan salah, yang ada adalah imbas terhadap pilihan yang diambil karena bisa jadi pemimpin mengambil jalan pintas untuk mengentaskan kemiskinan guna mengakali angka-angka statistik semata.Microcredit_Timoho-fertilizing-method-workshop

Kita lihat ke depan apakah pemimpin baru atau pemimpin incumbent yang terpilih kembali akan merubah konsep berpikir dalam menyelamatkan ekonomi melalui pengentasan kemiskinan?  Bagaimana menurut Anda?

Wallahua’lam bi showaab

Insya Allah Bersambung

Reaching Out Life

Assalammu’alaikum Wr. Wb. (Peace be upon Thou all)

This present day, I guess I have arrived @ a time in my life, a rosier (or even bleak in opposite, I hope not)  time I’ve never even thought that I could be part of, before.  I’ve been becoming a member of my family for quite sometimes, a small family I would say, and even though it has been my own for quite sometimes, more than 6 years from my weeding ceremony, it was like yesterday. Would “yesterday” be good or bad thing, I’d rather keep it personal.

I was beginning to realize that on every wedding of my member of so called “my big family” I attended, always thinking that every moment in my life, I felt the life path on ward isn’t going always to be easy.  Every time I walk thru that path, it seems that I was feeling unfamiliar to it, it’s like I had never been there before. It’s like I’m lost thru that path of time, a precious one I’d rather say.

I’ve heard one guru mentioned there was a big different between “winners” and “losers”.  Losers are likely to complain on bad things happened surrounding their lives, but the opposites are also true, these people are striving to make their goals to be fulfilled, the most desired one in their lives.  There is no short cut or special prescription on life, it is only what we have chosen to do or not do.

I was definitely aware that the past would never return to us in any way, but sometimes I forgot (overwhelmed by it) that the future is awaiting. I believe that I, with all my insight’s limitation, can do much better, to achieve something in my life, something about happiness, and I believe on doing it

I also heard that the biggest defeat in my life is whenever I put aside the most precious asset  I only have.  The precious asset would be The Qur’an,  the holy book I should always refer to, The only one I always rely on as the book of prayer & the source of ultimate knowledge.

I saw the great people from the past, I witnessed  good people in the present, but I hope I’ll be one of them  someday.

My biggest enemy, perhaps, would be myself, cause  every time I would rather do or not do is because I wanted to, not because what others had to say about it.  May be, I was not strong enough to realize that life is all about what I chose doing or not doing.  I was too afraid of the consequences, afraid that people I love will leave me, and never got a chance to apologize of what I’ve done wrong.

Perhaps, I’m too weak or too dull to understand what the good things I’m supposed to do or follow, or even worse, too ungrateful for others done to me.  I don’t have a very good recollection but I think I may just try my best of my ability to be thankful to the God since He, the only one, has given me so much in this life.  If I was given more chances (or being smarter on realizing them) perhaps I would ‘ve done more and be thankful even more.

I ponder I should make more efforts on my daily prayer so I can be more thoughtful of my life. sholat

I predict my path to happiness is not even close to simple, it’s full with bad enticement, covered by obstacles, and more importantly fooled by self laziness. To be honest, it’s not what I paid to myself that makes me happy but what we have given up to others, so than others are happy, eventually it will make me happy.

Well, I imagine that I am in process of learning and listening to others what they got to say about reaching a goal in life.  In short, I still got time and it’s better to use it wisely cause it’ll certainly will run out.

So cheers, and enjoy my life I guess…

wallahua’lam bishowab

Micro Blogging Vs. E-mail Korporasi? Media Social Networking akan menggantikan E-mail?

twitter1

Assalammu’alaikum wr. wb.

CEO Socialcast mengatakan ini:

Email akan menemukan ajalnya.  Jika perusahaan Anda masih mengandalkan pada email untuk berkomunikasi dan berkolaborasi, perusahaan Anda telah menemui ajalnya di fase baru sebuah ekonomi. Barangkali dia berkata seperti ini karena dia adalah CEO Socialcast namun perkataannya tersebut lebih baik kebenarannya daripada salahnya.

Lalu apa yang membuat Microblogging bisa menggantikan Email? Ini disebabkan oleh interaksi di dalam komunikasi dapat terjadi secara langsung (tanpa penundaan waktu) pada media aplikasi yang Anda gunakan!

Menurut CEO Google Eric Schmidt situs seperti twitter seperti “poor man’s email system” kerena menurutnya micro blogging memiliki aspek-aspek sistem email namun tidak selengkap sistem email.  Mungkin malah sistem email di masa depan memiliki fitur-fitur yang dimiliki micro blogging.  Begitu juga Dia berkata karena sekilas dia tidak dapat menangkap ide dibelakang twitter, namun Dia juga memiliki wawasan tersendiri dan barangkali Dia sedang mempersiapkan sesuatu.

Saya sendiri belum banyak  menggunakan fitur-fitur microblogging (untuk menggantikan email) seperti yang ditawarkan oleh yammer, socialcast, Present.ly, atau Social Text Signals, walaupun sudah mulai mendaftar.  Beberapa teman-teman internet saya sudah mulai menggunakannya dan mulai sedikit demi sedikit menggantikan fungsi email tradisional berlisensi.  Sayangnya belum banyak teman-teman kantor yang memahami hal ini, mungkin kerena trend FB & BB yang masih berlangsung…:), bahkan nama organisasi saya saja belum terdaftar di twitter, sekarang ini kalau saya ingin mengetahui update (RSS feed) mengenai perusahaan tertentu saya sudah mulai menggunakan twitter terutama yang berkaitan dengan produk-produk yang saya pakai (baik pribadi maupun yang ada di kantor) dan yang akan saya pakai atau beli di waktu yang akan datang.

microblogging-marginalizes-email2

Vendor-vendor besar seperti Microsoft (baca: MS Exchange) dan Lotus (baca: Lotus Notes) akan berusaha keras meningkatkan fitur-fitur yang ada pada email mereka sesuai dengan permintaan dari user-user korporasi besar mereka, yang artinya fitur semakin kompleks, harga software akan meningkat serta keuntungan vendorvendor baru untuk dapat menawarkan produk dengan harga yang jauh lebih terjangkau yang sering disebut sebagai innovator dilemma. Terminologi ini diciptakan oleh Clayton Cristensen sedangkan di wikipedia disebut dengan destructive technology.   Beberapa fitur yang bisa kita dapat dari Micro blogging yaitu serperti: public notes, @replies, DMs (baca: Direct Messages), Groups, Private Groups, File Attachments, Favorite (Bookmarking), Tagging, Conversation Threading, Unlimited character length (contoh: lebih dari 140 karakter),  Search, dan Instalasi di belakang Firewall.

Kelemahan yang paling kentara adalah ketika  kita memiliki folder di email kita, sangat mirip dengan Google tagging, sepertinyainnovators-dilemma-disruption-graph merupakan fitur yang akan harus dikembangkan di masa yang akan datang. Lalu apa yang membuat Microblogging bisa menggantikan Email? Ini disebabkan oleh interaksi di dalam komunikasi dapat terjadi secara langsung (tanpa penundaan waktu) pada media aplikasi yang Anda gunakan! Dan kita bisa gunakan aplikasi ini bersamaan dengan email, dan di masa depan kemudahan pemakaian juga akan membuat aplikasi Microblogging menjadi lebih menarik.  Walaupun email memiliki fitur seperti notifikasi dan eksternal komunikasi, dan generasi yang lebih tua akan masih menyukai aplikasi email serta aplikasi Microblogging masih tergolong muda.  Namun demikian Innovator’s Dilema akan bermain di waktu yang tidak lama, mari kita lihat trennya?  Bagaimana menurut pendapat Anda?

Wallahub’alam bisshowaab


Is Twitter Transforming How YOU Communicate?