Assalammu’alaikum wr. wb.
Saya mendengar istilah neo liberal economist menjadi sangat santer baru-baru ini. Opini publik
seperti dengan mudah membentuk buruk sangka pada ekonom-ekonom Indonesia yang saya tahu sudah bekerja begitu keras menyelamatkan perekonomian Indonesia dari krisis global. Indikator-indikator seperti inflasi, valas, pengangguran, melepaskan diri dari jeratan IMF & pendiktean negara maju, kemudian berusaha vokal di forum global, termasuk menghindari kebijakan proteksionisme, serta selalu berkoordinasi untuk menjaga keseimbangan regional ekonomi bersama negara-negara tetangga dijalankan dengan sangat baik, bahkan nilai Rupiah menjadi terjaga tidak terjerembab lebih jauh.
Instrumen baru keuangan seperti sukuk, perbankan syariah, instrumen fiskal untuk mengawal penurunan kinerja ekonomi, pengurangan pajak, regulasi yang cukup ketat dan peran pemerintah dijalankan dengan serius. Di mana masa-masa sebelumnya ekonomi Indonesia sudah terlanjur liberal melalui deregulasi perbankan, privatisasi (penjualan perusahaan-perusahaan BUMN contohnya), pasar modal dan pasar valas sehingga eksposure global juga mengenai pasar modal, valas, dan perbankan kita. Namun imbasnya lebih banyak mengenai spekulan-spekulan ditambah perusahaan atau pun perbankan yang menggunakan instrumen derivative (intrumen hasil rekayasa keuangan) misalnya untuk membiayai investasi jangka panjang dengan instrumen finansial jangka pendek yang sangat berisiko.
Sedikit melihat ke belakang dan membuka-buka sejarah ekonomi di masa lalu, kita dapat mengambil pelajaran dari Great Depression sebagai turbulensi dahsyat ekonomi di awal abad 20 telah membelah pemikiran ekonomi konvensional modern menjadi 2 madzhab besar, yaitu Klasik dan Keynesian. Meskipun pada perkembangannya kedua pemikiran ini menelurkan sekte-sekte yang mencampurkan dua pemikiran besar tersebut. Akan tetapi kedua gerbong pemikiran ini memiliki warna unik yang menjadi panduan para pengikut dan pengusungnya. Madzhab Klasik relative dikenali melalui keyakinannya pada kekuatan kompetisi pasar yang mampu menyeimbangkan perekonomian dalam jangka panjang. Jean Babtist Say terkenal dengan kalimatnya yang menggambarkan mekanisme ekonomi Klasik, yaitu “supply creates its own demand” (Say Law). Kebijakan ekonomi dari madzhab ini kental sekali dengan nuansa market mechanism.
Sementara itu, madzhab Keynesian memiliki kecenderungan yang sedikit berlawanan, dimana madzhab ini percaya bahwa pasar tidak bisa dibiarkan begitu saja untuk mencari keseimbangannya (negara tidak dapat berlepas-tangan) . Keynesian tidak mempercayai waktu “jangka panjang” akan menentralisir setiap ekses dan anomaly ekonomi. Bahkan kalimat terkenal yang keluar dari Keynes menggambarkan sikap skeptis Keynesian terhadap keyakinan Klasik, yaitu “in the long run we are all dead”. Kebijakan Keynesian lebih terlihat pada kebijakan diskresi negara dalam perekonomian. Namun begitu, kedua madzhab besar ini “menari” berdasarkan irama yang sama, yaitu irama Kapitalisme.Dalam beberapa decade, setelah Breton Woods Agreement runtuh perekonomian dunia dalam pengembangannya terkesan lebih berpedoman pada madzhab Klasik (Neo-Klasik) . Hal ini terlihat dari kecenderungan perekonomian modern yang mengusung Globalisasi dengan program-program seperti WTO, freetrade zone, kebijakan liberalisasi dan privatisasi. Pengusung Klasik boleh berbangga dengan capaian itu semua, karena memang inspirasi utama dari fenomena itu adalah mereka.
Tetapi, bagaimana dengan saat ini? Dengan munculnya krisis keuangan Amerika, Klasik harus menyiapkan banyak amunisi justifikasi dari apa yang dianggap saat ini sebagai kontribusi Klasik dalam krisis di pusat keuangan dunia. Sebaliknya krisis ini memberikan angin baru bagi Keynesian, karena opsi satu-satunya yang dilihat oleh para otoritas adalah kebijakan intervensi. Keynesian mungkin seolah-olah bernostalgia pada era Great Depression, dimana ketika itu krisis itulah yang membuat Keynesian muncul dan mampu dengan gagah memberikan solusi efektif bagi ekonomi untuk keluar dari jebakan under-consumption. Pertanyaannya apakah Keynesian mampu mengulang sejarah? Atau sesuatu yang baru akan muncul dalam ekonomi? Sesuatu yang kembali akan merubah wajah ekonomi. Kalaupun berubah apakah sekedar perubahan pada paradigma dan falsafah kebijakan saja, sementara iramanya masih menggunakan Kapitalisme? Atau sesuatu itu betul-betul menawarkan angin yang segar, sesuatu yang baru, benar-benar baru dari filosofi, paradigma hingga aplikasi ekonomi. Jawaban dari setumpuk penasaran ini saya yakin akan kita temukan dalam waktu tidak terlalu lama.
Wallahua’lam bi showaab
Insya Allah Bersambung
Disadur dari berbagai sumber
Paham Neoliberalisme intinya adalah pasar bebas dan perdagangan bebas. Masalahnya belum ada satu negarapun yang memberlakukan neoliberalisme murni, bahkan Amerika, yang baru-baru ini memproteksi rokok lokalnya dengan larangan impor rokok.
“Salahkaprah”-nya kan mengaitkan orang atau pemerintah dengan paham neoliberalisme. Karena kenyataannya sebagai negara berkembang Indonesia tidak akan bisa serta merta, terlepas dari negara lain, ataupun membiarkan rakyatnya tidak terlindungi.
Posted by Yuda | Mei 22, 2009, 9:22 amDear Yuda, tentunya tidak ada yang murni namun kebijakan utama negara AS adalah memang mengusung ekonomi neo klasik dan meminimalisasi peran pemerintah (ini ciri khas neo klasik), mereka masih punya safety net (untuk asuransi kesehatan, dan pengangguran) seperti pelajaran finance/ekonomi yang sudah pernah kita pelajari, bahwa ekses ekonomi akan normal dalam jangka panjang (isu sentral neo klasik).
Indonesia juga tidak murni kapitalis misalnya subsidi minyak, beras & listrik untuk keperluan public safety net.
Demokrasi sendiri juga merupakan resep yang sangat penting pada sistem kapitalisme kalau sistem tersebut diharapkan langgeng.
wallahua’lam bi showaab
Posted by ghifi | Mei 22, 2009, 10:14 aminvestasi pasarvalas memang menjanjikan bos. main juga ke blog saya ya di http://infopasarvalas.blogspot.com
Posted by saefull2007 | Februari 3, 2010, 9:43 am