//
you're reading...
economcis, kapitalisme, macro economics, neoliberalisme

Sebuah Konsekuensi Sosial Pertumbuhan Ekonomi (Bagian II)

Assalammu’alaikum wr. wb.

Kemenangan Adalah Pada Pendapatan

‘Statistik GDP ternyata sangat menyesatkan.  Mereka tidak mengukur sebaik apa Negara bekerja atau seberapa baik rakyatnya menjadi makmur!’

Bureaucracy_CartoonDalam bukunya Friedman banyak berbicara topik-topik yang luas, dengan sebuah analisa tentang kebijakan apa yang Amerika Serikat terapkan untuk mencapai visinya mengenai pertumbuhan yang lebih bermoral.  Diskusi ini secara bersamaan bersifat optimis dan pesimis.  Kebijakan yang diambil secara jelas masih dalam genggaman kita.  Namun kebijakan tersebut masih jauh dari kebijakan yang diambil oleh amerika serikat pada tahun-tahun belakangan ini. Yang menyebabkan kemunduran besar, secara bersamaan , menyebabkan pertumbuhan menjadi mandeg (konsekuensi terburuk yang akan berlangsung bertahun-tahun ke depan) dan membangun sebuah masyarakat yang ditandai dengan ketidak adilan sosial yang lebih besar.
Dibandingkan dengan Negara-negara maju lainnya Amerika Serikat telah melakukan pekerjaan dengan sangat baik dalam hal pendapatan, atau Anda mungkin mengasumsi jika Anda fokus secara eksklusif pada GDP.  Statistik GDP ternyata sangat menyesatkan.  Mereka tidak mengukur sebaik apa Negara bekerja atau seberapa baik rakyatnya menjadi makmur!
Tidak ada seorangpun yang melihat hanya omset penjualan sebuah perusahaan untuk melihat seberapa bagus perusahaan bekerja.  Jauh lebih relevan adalah melihat buku besarnya (balance sheet) yaitu bagaimana antara asset dan kewajibannya.  Hal ini juga berlaku terhadap sebuah Negara.  Argentina telah bertumbuh sangat cepat di awal tahun 1990 yang utamanya merupakan hasil dari konsumsi berlebihan yang didanai oleh pinjaman luar negeri.  Akan tetapi pertumbuhan ini tidak akan berlangsung lama dan tidak akan berkesinambungan  atau dapat dibuat menjadi berkesinambungan.  Mirip dengan Amerika serikat yang meminjam berlebihan dari luar negeri pada rasio USD 2 Miliar per hari.  Akan menjadi lain apabila pinjaman ini dipergunakan untuk investasi yang memiliki produktif tinggi.  Pada kenyataannya, pinjaman ini digunakan untuk menandai peningkatan konsumsi dan pengurangan pajak kepada warga amerika yang kaya.
Pertimbangkan contoh berikut:  Ketika anda dapat memilih Negara mana Anda dapat hidup tapi akan diberikan pendapatan yang sifatnya acak dari distribusi pendapatan Negara tersebut, apakah anda akan memilih Negara dengan GDP per kapita paling tinggi? Jawabannya adalah tidak.  Yang lebih relevan terhadap pengambilan keputusan adalah median pendapatan ( level pendapatan dimana 50% dari populasi di bawah dan 50% di atas).  Ketika distribusi pendapatan menjadi lebih terdistorsi (skew), dimana median menjadi bertambah turun di bawah mean.  Inilah mengapa walaupuan GDP per kapita meningkat di Amerika Serikat tetapi median pendapatan rumah tangga sebenarnya menurun.
Ada alasan lain mengapa seseorang belum tentu ingin melihat hanya kepada GDP per kapita.  Seseorang mungkin khawatir terhadap rasa amannya.  Bagaimana kalau dia sakit? Atau kehilangan pekerjaannya?  Bagaimana ketika dia harus pensiun? Mungkin dia juga khawatir terhadap tindak kejahatan.  Dia juga khawatir terhadap kualitas sekolah anak2nya.  Bagaimana anak2nya berkompetisi dengan yang lain yang dapat membayar sekolah terbaik atau dengan negara2 seperti S’pore yang memberikan fasilitas publik terbaik untuk pendidikan? Dia mungkin juga khawatir terhadap lingkungan.  Apakah regulasi pemerintah melarang kadar arsenik dalam air?
Ketika kita melihat melalui lensa-lensa ini maka Amerika Serikat tidak terlihat lebih baik.  Beberapa dimensi yang lebih buruk dibandingkan dengan yang lain sebagai contoh Amerika Serikat memiliki 5 s/d 10 kali populasi penjara per kapita dibandingkan dengan Negara-negara industri lainnya dan bekerja lebih lama dalam seminggu.  Amerika serikat juga memiliki keamanan pekerjaan lebih jelek, asuransi pengangguran yang lebih buruk dan lebih sedikit orang yang dapat dilindungi asuransi kesehatan.
Pastinya mimpi-mimpi orang amerika masih menarik bagi jutaan orang di seluruh dunia.  Namun mimpi-mimpi itu bisa saja hanya berdasarkan pada mitos  pada kenaikan status di Amerika Serika dan pernghargaan yang minimal terhadap kesulitan yang dialami oleh orang miskin.  Walaupun tidak ada standar yang dapat membandingkan antara standar kehidupan di Amerika Serikat dengan negara-negara miskin, dan hal ini memang bukan pijakan yang dapat dijadikan sandaran.

Langkah Separo-Separo dan Salah Langkah

‘Rasa ketidakamanan dan suaranya yang tidak didengar juga merupakan bagian dari profil kemiskinan’

robin hoodDalam perdebatan imbas globalisasi pada kemiskinan.  Friedman mendukung padangan walaupun globalisasi telah diasosiakan dengan meningkatnya ketidakadilan di antara Negara-negara globalisasi dapat menurunkan kemiskinan dan ketidakadilan secara global.  Ada tiga yang secara fundamental memiliki kelemahan dalam analisasnya.  Yang pertama adalah definisi kemiskinan.  Bank Dunia telah menekankan pada banyak poin, bahwa kemiskinan tidak hanya masalah pendapatan, namun rasa ketidakamanan dan suaranya yang tidak didengar juga merupakan bagian dari profil kemiskinan.  Analisa Friedman mengabaikan penuh dimensi-dimensi lain daripada kemiskinan.
Kritikan kedua ada terkait dengan poin dengan yang penting adalah bukanlah globalisasi per se namun leibh kepda kebijakan yang spesifik yang terkait dengan globalisasi.  Liberalisasi pasar modal, sebagai contoh mendukung integrasi yang lebih dekat dengan pasar modal pada khususnya yaitu modal masuk dalam jangka waktu pendek.  Teori ekonomi modern dan analisa empiris menunjukkan bahwa adanya ketidaksempurnaan pasar modal bahwa integrasi seperti ini akan menyebabkan ketidakstabilan kepada ekonomi. Sebuah kesimpullan bahwa bahkan IMF sudah mendukungnya, dan tidak memiliki imbas yang siknifikan pada pertumbuhan.  Ada bukti lain bahwa si miskin harus menerima imbas dan beban terburuk dari naiknya ketidakstabilan ini.  Pendeknya, aspek pada integrasi ekonomi seperti ini sebenarnya meningkatkan kemikinan tanpa memberikan imbas pada pertumbuhan.

Yang ketiga adalah bahwa Friedman terlalu mengandalkan hasil karya Xavier Sala-i-Martin (The Disturbing “Rise” of Global Income Inequality) dan Surjit Bhalla (Imagine There’s No Country: Poverty, Inequality, and Growth in the Era of globalization) yang menjadi subjek kritikan besar, tanpa mengingatkan kepada pembaca mengenai perdebatan mengenai angka-angka tersebut.  Dapat dikatanan bahwa memiliki artikel yang dipublikasikan dalam jurnal yang mendapatkan review dari rekannya dan memiliki kesimpulan yang diimitasi di dalam media tidak sacara otomatis secara implicit memiliki validitas).  Masalah adalah mudah untuk dibeberkan namun susah untuk diperbaiki, penelitian mengenai ketidakadilan dan kemiskinan adalah berdasarkan dari survey pendapatan dan pengeluraran rumah tanga, namun angka-angka itu dapat dikumpulkan dari penelitian-penelitian itu menjadi tidak konsisten dengan akun pendapatan nasional, sebuah outcome yang melansir adanya kurangnya laporan pada survey rumah tangga.  Satu solusi yan gmudah kepada discrepancy (ketidaksamaan ) ini  adalah pendekatan yang dgunakan oleh Sala-i-Martin dan bhalla, yang membesar-besarkan angka dari survey rumah tangga.  Ketika rata-rata pendapatan dilaporkan adalah USD 3000 dan akun pendapatan nasional menunjukkan rata2 pendapatan rumah tangga sebesar USD4000, adanya peningkatan laporan pendapatan individu sebesar 1/3.  Hal ini secara langsung berdampak mengurangi angka jumlah orang yang hidup di dalam kemiskinan.
Namun pendekatan yang lebih canggih mengobservasi bahwa individu dengan pendapatan tinggi lebih takut dan khawatir kepada petugas pajak dibandingkan dengan si miskin.  Dalam sudut pandang ini, ketidakbenaran pada laporan ini dihitung oleh orang-orang dengan pendapatan besar, dan jumlah orang2 yang dilaporakan hidup dalam kemiskinan sesuai dengan survey rumah tangga sepertinya cukup akurat.  Penilikan pada kesalahan di laporan mendukung pandangan ini, sebuah  pandangan yang mengatakan bahwa dunia masih jauh dalam mencapai tujuan mengurangi kemiskinan menjadi 50% sebelum tahun 2015 (Untuk melihat perdebatan kedua belah pihak mengenai isukemiskinan, lihatlah perdebatan pada pengukuran kemiskinan, sebuah buku yang diproduksi oleh initiative for Policy Dialogue, dimana saya melakukan edit bersama dengan Paul Segal dan Sudhir Ananda).
Kemudian pendapat Friedman mengenai pertumbuhan dapat membawa sebuah kesempurnaan moral mengenai keterbukan yang lebih besar dan toleransi mengundang pertanyaan yaitu apakah Amerika Serikat, ketika menjadi lebih kaya, menjadi lebih terbuka den toleran? Apakah keterbukan dan toleransi memastikan titik berat yang sama di ilmu sains modern dibandingkan dengan pandangan masa kegelapan (pre-enlightment)?
Namun demikian Friedman juga benar dengan argumentasinya yaitu demokrasi relatif lemah untuk bertahan di Negara-negara miskin.  Sehingga jika Bush serius mengenai komitmenya untuk memperluas demokrasi, Dia akan melakukan investasi lebih di Negara-negara ini sebagai bagian dari development,  melaksanakan kesepakatan yang sudah disetujui oleh negara2 maju untuk memberikan komitmennya sebesar 0,7 % dari GDPnya untuk memberikan batuan kepada Negara-negara miskin.  Uang tesebut akan memberikan perbedaan yang besar baik untuk kualitas Negara-negara berkembang dan prospek demokrasi di sana.  Tentunya hal yang lebih besar dari uang juga dibutuhkan, tidak ada yang lebih meyakinkan sebagai contoh yang sukses dari pada masyarakat yang lebih terbuka dan lebih toleransi yang mampu membawa buah dari pertumbuhan dan demokrasi kepada masyarakatnya.  Bagaimana amerika serikat dapat mengklaim dapat memberikan fasilitas seperti contoh di atas apabila dia sendiri tidak peduli dengan dirinya sendiri?

Mitos Invisible Hand

‘Alasan bahwa Invisible Handnya Adam Smith adalah invisible yaitu karena sebenarnya Invisible Hand tidak pernah ada’

Para ekonom amerika memiliki tendensi yang kuat untuk tidak melibatkan pemerintah dalam invisible-hand-wmmelakukan intervensi terhadap ekonomi.  Asumsinya adalah seringkali pasar bekerja secara umum dengan sendirinya dan hanya pada saat tertentu saja peran pemerintah dibutuhkan untuk mengkoreksi kegagalan pasar; kebijakan ekonomi pemerintah harus hanya membatasi intervensi untuk memastikan efisiensi pada ekonomi.
Fondasi intelektual untuk mendukung asumsi ini sangatlah lemah.  Pada ekonomi pasar dengan ketidaksempurnaan dan ketidaksimetrisan informasi dan pasar yang tidak penuh, yaitu ingin dikatakan bahwa setiap ekonomi pasar, alasan bahwa Invisible handnya Adam Smith adalah invisible yaitu karena sebenarnya tidak ada. Para ekonomi yang tidak efisien pada dirinya sendiri.  Pemikiran seperti ini memberikan kesimpulan bahwa sebenarnya adanya peranan pemerintah yang lebih siknifikan.
Friedman memulai diskusinya dengan memperhatikan kepada pembatasan umum, mengidentifikasikan externality yang menggaransi interfensi pemerintah. Dia menandaskan pentingnya investasi, baik fisikal dan sumber daya manusia, dan memperhatikan bahwa defisit APBN (tidak menabung) akan melukai investasi-investasi itu.  Ekonom pasar sempurna akan tidak menganggap hal ini: private saving pada akhirnya bertambah untuk mengimbangi saving pemerintah yang negatif, dan jika warga negaranya ingin mengkonsumsi lebih dan menyimpan sedikit, tidak berarti bahwa mereka dibolehkan untuk memaksakan keinginannya pada kita.  Ekonom seperti itu akan berkata bahwa saving domestik lebih penting di dalam dunia globalisasi, bukan keseimbangan global supply dan demand untuk dana.
Adalah penting untuk dapat mengetahui alasan mengapa prediksi model market sempurna mengalami kegagalan, kegagalan market terjadi jauh diluar externality.  Memahami keterbatasan ini pasar menyebabkan pentingnya peranan pemerintah untuk mempromosikan pertumbuhan dan memastikan bahwa peranan tersebut adalah peranan yang tepat.
Ada sebuah contoh ketika peranan yang lebih besar dari pemerintah dalam mempromosikan ilmu dan teknologi lebih besar dibandingkan dari Friedman yang rekomendasikan.  Sebuah laporan oleh Council Advisor Ekonomi (ketika saya menjadi ketuanya) menemukan bahwa tingkat pengembalian dari investasi publik pada ilmu dan teknologi jauh lebih besar dibandingkan investasi di bidang swasta pada area ini dibandingkan dengan investasi konvensional dalam pabrik dan peralatan.  Dengan pendidikan terutama pada waktu dimana kualitas sekolah Amerika dan terutama pendidikan keluarga dengan pendapatan rendah. Voucher, sejumlah tertentu diberikan kepada privatisasi parsial pada sekolah dasar dan menengah pada sistem pendidikan telah dikedepankan sebagai bagian dari solusi pasar bebas menyebabkan kualitas pendidikan yang menurun.  Namun advokasi voucher tidak pernah memberikan kasus yang kuat bahwa mereka didesain untuk mempromosikan kualitas pendidikan yang lebih baik dan integrasi rasial yang lebih besar pada system pendidikan dibandingkan dengan mereka yang menerima voucher.
Buku Friedman merupakan vaksin yang penting terutama bagi pandangan popular gerakan anti pertumbuhan, dan kepada para ekonom pasar bebas yang mengatakan bahwa pasar bebas adalah satu-satunya yang kita butuhkan.  Adanya seruan bersama untuk melakukan perubahan arak kebijakan ekonomi di Amerika Serikat untuk mencapai pertumbuhan yang lebih kuat dan berkesinambungan.  Apakah anda setuju atau tidak dengan saran kebijakan yang diberikan oleh Friedman, ini adalah analisa yang sangat beralasan yang sangat dibutuhkan oleh Amerika serikat untuk kembali ke track yang benar.

Wallahua’lam bi showaab

Pembahasan Buku: “The Moral Consequences of Economic Growth,” Pengarang Benjamin M. Friedman tahun 2005 Oleh Joseph E. Stiglitz

Moral Consequences

Tentang ghifi

I am glad that I have wonderful friends around me who always make me smile and accept me with warm heart. But my family is the reason that I am here, My wife and my daughter are the most important people in my life. I hope that friends will make me rich in life and they are always there for me when I need them.

Diskusi

4 Tanggapan to “Sebuah Konsekuensi Sosial Pertumbuhan Ekonomi (Bagian II)”

  1. Hai Ghifi, thanks to share the notes. Tapi rasanya sistem Amerika itu ga cocok diterapkan di Indonesia. Simply, apakah 5 tahun sekarang lebih baik dr 5 th sblmnya?? Apakah hidup makin enak, lebih mudah menyekolahkan anak, dpt kerja lebih gampang, kesejahteraan meningkat? Mudah2an siapapun pemimpin nasional kita benar2 mampu menyelesaikan pmasalahan bangsa n dibukakan mata dan hati untuk mencintai negara kita tercinta ini.

    Posted by Dian Milani Hakim | Juni 17, 2009, 8:45 am
  2. Dear Dian, saya di sini sebenarnya pengen melihat pendapat dari rekan-rekan yang mengenai pertumbuhan ekonomi (btw: 3 capres/cawapres kita khan mengusung isu ini), bisa saja konsep dari kapitalisme, social market, islam dan lain-lain, namun demikian harus melihat inti masalah secara jeli. Sehingga perubahan yang diharapkan juga pada akhirnya dapat tergapai.

    Demikian dari saya
    cheers,

    Posted by ghifi | Juni 17, 2009, 1:32 pm
  3. wah… serujuga baca blog nya…
    success yah….

    Posted by ivenxadytia | Juli 17, 2009, 6:18 pm
  4. saya sepakat, bahwa kebijakan ekonomi indonesia dewasa ini memang sudah by desain yang bertujuan untuk menyenangkan para pemilik modal. Apalagi, negara secara bertahap semakin berkurang keterlibatannya dalam perekonomian makro. Sejak era G30S/PKI, bangsa indonesia seolah-olah dibutakan oleh skenario sejarah bahwa sistem ekonomi yang paling baik untuk memajukan bangsa adalah Neoliberalisme. Sejak zaman Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati bahkan SBYpun tidak bisa lepas dari pola kebijakan yang tidak pro-rakyat. Ironisnya, sekali kebijakan pro-rakyat yang diterapkan, justru menjadi komoditas politik yang sangat empuk dan layak jual. Kemajuan bangsa ke depan, tidak ditentukan oleh siapa presidennya, tetapi siapa menteri keuangan, perdagangan, dan Gubernur BI. Sekali lagi, di luar sana ada kekuatan yang lebih besar yang mempengaruhi kebijakan dalam negeri.nuwun

    Posted by Ariful Amar | April 5, 2010, 9:51 pm

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

Gravatar
WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.