Assalammu’alaikum wr wb
Kasihan saja rasanya mengingat bangsaku yang mati-matian mencapai kejayaan kalian, hanya untuk menemukan bahwa kalian berhenti, berbalik begitu saja setelah mencapainya
Dalam dapur kayu penuh warna dan dekorasi, diantara foto-foto keluarga dan teman-teman yang menempel pada dinding samping meja makan, aku bertanya tentang beberapa tindakan tak logis.
“Tunggu, jadi maksudmu, kamu akan menolak beli baju GAP walaupun itu yang termurah di pasar? Kamu akan menolak masuk perusahaan Shell walau mereka memberimu gaji paling tinggi? Kamu lebih memilih menaiki kereta DB yang 100 euro daripada pesawat Ryan Air yang 28 Euro? Dan kamu lebih mendukung negaramu yang berinvestasi pada kincir-kincir angin daripada sumber energi lain yang dapat lebih menghasilkan bagi negaramu?”
“Ya,” jawab Sara singkat sambil menikmati memotong-motong roti sarapan dengan pisau besar, yang juga adalah roti organik, jauh lebih mahal dari roti biasa.
“Bantu aku memahami semua keputusan yang tampak kontra pembangunan atau hukum ekonomi itu…”
Sara mengantar piring besar berisi roti-roti itu ke meja makan, “Kami tidak harus membangun lagi, we are developed…Bagi kami kini saatnya menghentikan dan membereskan segala asap polusi yang sudah kami keluarkan dari segala kegiatan dulu.”
Aku memotong beberapa apel, “Kasihan saja rasanya mengingat bangsaku yang mati-matian mencapai kejayaan kalian, hanya untuk menemukan bahwa kalian berhenti, berbalik begitu saja setelah mencapainya. Haruskah kita menghalangi perusahaan minyak sumber jutaan dolar bagi negara kami, hanya karena ia mengeksploitasi lingkungan? Haruskah aku lebih memilih kereta DB yang mahal itu hanya karena semua jaringannya menggunakan listrik? Haruskah kita tidak membeli GAP yang paling murah di pasar, hanya karena ia hasil eksploitasi buruh murah negara dunia ketiga? Bagi yang masih developing, prinsip ‘terbesar untuk pengeluaran terkecil’ masih berlaku.”
Sara, mahasiswa tingkat dua teknik lingungan itu, hanya bisa tersenyum dari balik kacamata beningnya,”Kami tidak berbalik, atau berhenti. kami hanya menyadari bahwa pertumbuhan hanya dapat berlanjut jika kita memperhitungkan segala sisi. Tentunya terserah masing-masing jika ingin memikirkan keuntungan sendiri, hanya saja nasib buruknya, kita semua saling berkaitan. Dan tidak ada pertumbuhan sesungguhnya sebelum kita menyadari bahwa kita semua berhubungan.”
Ia duduk mempersiapkan piring-piring,”Tinggal tunggu kerusuhan-kerusuhan di negara dunia ketiga jika kita, negara-negara kaya, terus mengeksploitasi mereka. Tinggal tunggu beberapa pulau tenggelam jika kita terus menggunakan BBM tanpa perhitungan. Tinggal tunggu kota-kota banjir jika hutan-nutan tropis terus ditebangi tanpa perasaan. Seberapa banyakpun jutaan dolar yang mereka hasilkan bagi kita pada awalnya…”
Aku tidak dapat “menerima” bagaimana mahasiswa yang tiga tahun lebih muda dariku, dapat berpikir sejauh itu.
“What goes around comes around,” lanjutnya, “Dan sebagaimana kata para hippies tahun 60-an dulu, yang sedikit banyak memulai titik balik ini, ‘Mess with Mother Earth, you just mess with yourself.’” 
Wallahua’lam bi showaab
Disadur dari jurnal “Titik Balik” Berlin 10 Juni 2006 oleh Mrina Silvia K. dalam bukunya “Keliling Eropa 6 Bulan Hanya 1.000 Dolar!”
Diskusi
Belum ada komentar.