Inquiry Based-Learning (Pengembangan Active Learning)

Assalammu’alaikum wr. wb.

Saya & istri saya sangat berbahagia ketika anak kami satu-satunya lulus dari kelas TK B dan sudah diterima di SD yang sama.  Walaupun umur Anak saya ini masih tergolong kurang, yaitu  5 tahun 10 bulan, untuk dapat diterima di sekolah SD terutama SD negeri, namun Alhamdulillah menurut hasil assessment dan rapor dari guru TKnya perkembangan anak saya cukup memuaskan.

SD anak saya ini termasuk baru sehingga baru memiliki 2 kelas untuk Kelas 1. Masing-masing kelas terdiri dari 20 murid. Sekolah ini memiliki 2 lantai, di lantai 1 terdapat dua kelas, kolam renang tidak terlalu luas namun mencukupi, dan sedikit halaman untuk bermain anak-anak (mirip sebuah rumah).  Lantai 2 terdapat ruang gamelan, komputer, dan perpustakaan.  Sekolah SD ini adalah menggunakan sistem bilingual & menitikberatkan pada pelajaran akhlak berbasikan agama Islam.

Satu hal yang pernah dipresentasikan oleh Ibu Kepala sekolah bahwa SD anak saya akan menggunakan metoda pembelajaran yang disebut dengan Inquiry Based-Learning dimana sistem pembelajaran harus didasarkan kepada pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para murid, dan guru pada sistem ini memiliki tugas tidak memberikan pengetahuan namun dia memfasilitasi anak untuk dapat menemukan pengetahuan itu sendiri.  Sehingga guru menjadi seorang fasilitator dibandingkan sebagai sumber pengetahuan.

Metoda ini dikembangkan sejak tahun 1960, dan dikembangkan karena adanya kegagalan metode lama dimana seorang murid harus banyak menghafal materi-materi yang diberikan.  Inquiry based-learning merupakan metode belajar aktif dan murid akan diassess seberapa kemajuan yang dicapai oleh seorang murid dalam hal kemampuan eksperimen dan analisisnya dibandingkan daripada seberapa banyak ilmu pengetahuan yang dimiliki.

Salah satu komponen yang penting pada inquiry based-learning adalah open learning, yaitu tidak ada target atau pencapaian tertentu yang harus dicapai oleh seorang murid.  Seorang murid tidak diberitahukan hasil dari sebuah eksperimen dan murid melakukan eksperimen untuk melakukan konfirmasi, namun seorang murid dibiarkan untuk melakukan penemuan oleh mereka sendiri mengenai eksperimen yang dilakukan, atau bisa saja guru memberikan semacam petunjuk untuk mendapatkan hasil yang diinginkan tanpa harus secara eksplisit memberitahukannya kepada anak didik.  Open learning sangat penting akan tetapi skill open learning cukup sulit untuk dipelajari oleh seorang pendidik.

Beberapa keuntungan open learning, yang berarti bahwa murid-murid tidak melakukan eksperimen yang sifatnya rutin, namun ada ruang untuk melakukan analisa hasil yang mereka dapatkan dan maksud apa yang mereka dapat.  Pada proses pembelajaran tradisional murid-murid memiliki tendensi bahwa eksperimen ’salah’ ketika memberikan hasil yang berbeda dengan hasil yang diinginkan oleh si pendidik.  Dalam open learning tidak ada hasil yang salah, murid akan melakukan evaluasi kekuatan dan kelemahan hasil yang mereka dapat dan mempertimbangkan nilainya kepada mereka.  Dalam hal ini rute yang ditempuh oleh open learning tidak pasti, dan lebih menarik dan tidak mudah diprediksi dibandingkan metoda pembelajaran tradisional.

Kesimpulan

  • IBL menekankan ide-ide konstruktif dalam belajar, ilmu pengetahuan dibangun dalam bentuk step-step, sangat cocok untuk pembelajaran dalam bentuk grup.
  • Pendidik (guru) tidak memberikan ilmu pengetahuan, namun berfungsi sebagai fasilitator untuk membantu murid-murid belajar sendiri.
  • Topik, permasalahan untuk pembelajaran, dan solusi terhadap permasalahan ditentukan oleh para murid bukan oleh pendidik.

Wallahua’lam bisshowaab

Sumber: wikipedia

1 Komentar

  1. rollerfebaybe berkata,

    Juli 18, 2009 pada 4:29 am

    Hey

    I like Your site. It is interesting. Do You have RSS I want to add to my favorites.
    Let me know when it will be ready. Kee it UP.
    See You O Szczecin Hotele


Tulis sebuah Komentar