Travelling ke Akhirat – Alam Barzah Bag. I

Assalammu’alaikum wr. wb.

Travelling terdengar menyenangkan di telinga kita, karena kata-kata tersebut sering berarti relaksasi dari rutinitas dan pekerjaan sehari-hari. Travelling memberikan waktu bagi kita untuk menikmati keindahan alam dan ganti suasana, mendapatkan teman2 baru yang barangkali sebelumnya tidak pernah bertemu dan bercakap-cakap mengenai pengalaman hidup sebelum pertemuan.

Biasanya ketika kita akan melakukan travelling, tentunya punya perencanaan dan akan menggunakan travelling agency, minimum sudah mengetahui kemana dan berapa lama kira-kira kita akan melakukan perjalanan.

Berbeda dengan travelling di hari libur, travelling ke akherat hanya one way trip tidak ada batasan waktu karena hanya Allah Swt. yang tau soal itu.Yang menjadi permasalahan adalah seringkali kita tidak pernah atau lupa mempersiapkan travelling yang mau tidak mau akan kita lalui.  Seringkali informasi mengenai Alam Barzah tidak pernah terlintas di benak kita, karena bisa jadi karena kekurangan ilmu mengenai hal ini, kita disibukkan oleh kegiatan dunia dan rutinitas sehingga ketika maut menjemput, kita tidak tahu musti bagaimana.

Mari kita simak surat Al-Imron (3) ayat  185:

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan (melupakan).”

Peringatan Allah Swt. di atas sering sekali kita lupakan

Fondasi dalam mengingat kematian (perjalanan ke akhirat) adalah bahwa dalam hidup kita memiliki orientasi atau skala prioritas dalam berbuat.  Yaitu menjauhi perbuatan dosa, selalu meminta ampunan-Nya (baca: istighfar), sehingga jiwa kita menjadi tenang dan kuat.

Kesalahan Pemahaman Dalam Mengingat Kematian

  1. Banyak sekali aliran-aliran yang berzuhud dari kehidupan dunia dengan meninggalkan urusan dunia.
  2. Melupakan tugas khilafah fil ardh.
  3. Melupakan bahwa dunia yang menciptakan Allah Swt. untuk diwariskan kepada orang yang bertaqwa.
  4. Melalaikan kewajiban Membangun kebahagiaan dunia untuk menggapai kebahagian akhirat.

Mari kita simak surat Al-Anfal (8) ayat  60:

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”

Dalam ayat ini menunjukkan kita Tidak Boleh Meninggalkan dunia, justru pengabdian kepada Allah adalah menggarap dunia untuk menggapai ridho-Nya Swt., mendapatkan kebahagiaan akhirat.

Kemudian kita simak surat Al-Qoshosh () ayat  77:

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Ayat ini menunjukkan bahwa kita tidak boleh meninggalkan dunia, kita harus berbuat baik seperti Allah Swt berbuat baik kepada kita, artinya: harus menguasai dunia agar produktif kepada manusia menuju bekal akhirat.

Bahkan menurut hadits riwayat Ahmad: “Rasulullah sallahu alaihi wasalam bersabda,” walaupun telah tiba kiamat terhadap salah satu diantara kalian dan ditangannya masih ada satu benih biji, maka tanamlah !”

Hadits ini menunjukkan bahwa kita wajib menjadi orang yang produktif membangun dunia, walaupun telah datang kiamat, bila masih mampu berbuat baik untuk bumi dan manusia, kita berbuat!

Kita hampir selalu setiap hari berdoa:

رَبَّنَآ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

artinya: Ya Allah berilah kepada kami kehidupan dunia yang baik dan kehidupan akhirat yang baik jauhkanlah kami dari api neraka.

Bumi diciptakan oleh Allah Swt., ajaran Islam dari Allah Swt., maka bumi dibangun untuk kita dalam mengabdikan diri kepada Allah Swt. Tidak boleh meninggalkan dunia!

Keseimbangan antara dunia dan akhirat harus terbangun karena sukses di dunia / menguasai dunia untuk menuju kehidupan akhirat yang abadi.

Surat An-Nisa (4) ayat 78:

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, Kendatipun kamu di dalam benteng yang Tinggi lagi kokoh.”

Ayat tersebut di atas menunjukkan bahwa manusia cenderung takut mati, maka mereka lari darinya, yang seharusnya tidak perlu lari, namun mempersiapkan diri untuk perbekalan kematian!

Kesalahan selama ini dalam pendidikan agama Islam menyebabkan melupakan kematian dan hari akhirat, Padahal itu adalah Rukun Iman.

Banyak sekali ayat yang berbicara mengenai hal ini:

Surat Az-Zumar  ayat 9: “Katakan wahai Muhammad, “apakah sama orang yang mengetahui ( berilmu ) dengan orang yang tidak mengetahui ?”

Surat Al-An’am ayat 50: “Katakan wahai Muhammad, apakah sama orang yang buta dan orang yang melihat, apakah kalian tidak berfikir ?”

Agama Islam mengajarkan agar kita “Iqro’” yaitu membaca, analisa, kemudian berpikir, meneliti, menyaksikan, dan melihat.  Ajaran agama lain biasanya tidak ada Iqro’ hanya doktrin tidak ada proses berpikir sehingga berbenturan dengan hukum alam. Dan seringkali ini yang terjadi

Setelah melalui proses pembelajaran di atas maka kita diharapkan untuk yakin/percaya/iman

Kemudian di dalam Islam diajarkan menyerahkan diri, kepasrahan, tunduk patuh kepada keputusan Allah Swt.

Ajaran Islam = hukum alam, karena satu sumber yaitu dari Allah Swt., namun bisa jadi umat Muslim menggunakan metode agama lain untuk memahami Islam.

Hal ini juga bisa berakibat dalam kehidupan sehari-hari manusia Lupa adanya kepastian kematian!

Metode Iqro adalah menggunakan deep thinking dalam membaca alam di sekitar kita, sehingga membuat kita beriman kepada hari akhirat -> tidak lupa akan kematian walau sehari pun!

Insya Allah Bersambung…

Ditulis kembali  dari presentasi Uztad Arifin Jayadiningrat

Tulis sebuah Komentar