Puasa Mencapai Ketaqwaan (Taqwa Way)

Assalammu’alaikum wr. wb.

ramadhanSetelah Berpuasa melewati 15 hari, hal yang menjadi pertanyaan mendasar bagi kita adalah apakah sudah terjadi perubahan pada diri kita?  Atau apabila ternyata selama 15 hari pertama berpuasa tidak banyak ada perubahan berarti ada kesalahan mendasar pada puasa kita, hanya mendapatkan rasa dahaga dan lapar.   Seperti dalam sholat yang sudah pernah penulis kupas di waktu yang lalu (lihat: Khusyu’ Dalam Kehidupan)untuk mencapai kekhusukan penulis telah membahas megenai sholat dengan menggunakan kacamata sholat.  Maka dalam berpuasa juga harus menggunakan kacamata berpuasa agar dapat berpuasa dengan baik.

Paradigma orang bertaqwa dalam berpuasa sangatlah penting agar kita tidak salah arah. الصيام (berpuasa) yang berarti memelihara atau menjaga atau menahan diri. Takutlah kamu pada hari kamu akan dikembalikan, QS 10: Yunus: 23. Puasa bisa juga diartikan sebagai rem pada benda yang bergerak, misalnya ambil contoh kalau di arab biasanya seekor kuda, ketika majikan menyuruh untuk berlari kuda tersebut menahan diri, maka orang arab sering memanggil kuda tersebut ‘kuda yang sedang berpuasa’. Rem tidak diperlukan untuk benda yang tidak bergerak.  Sebentar lagi kita akan menelaah inti dari puasa dan taqwa yang menjadi tujuan dari puasa.

Seperti pada surat Asy-Syams ayat 9: Sungguh beruntung orang yang mensucikan di dalam dirinya karena di dalam tiap-tiap diri manusia ada yang disebut dengan kedurhakaan (Fujuuroha).

Paradigma dalam berpuasa adalah taqwa. Taqwa itu ada grade-gradenya dan dapat diukur, apakah grade di tahun lalu lebih rendah, sama atau lebih tinggi dibandingkan tahun ini?    Salah satu poin yang penting dalam bertaqwa adalah beriman dengan yang ghaib.  Karena kita memiliki kecenderungan untuk tidak percaya dengan yang ghaib.  Ghaib dalam hal ini bukanlah magic, hantu, pocong, atau uka-uka yang seringkali dikaitkan dengan dunia ghaib dalam budaya kita.  Ghaib tentunya di sini adalah Allah Azza Wa Jalla.

Dialah yang mengatur hukum kausalitas, hukum sebab akibat.  Semua yang ada di bumi dan langit adalah milik Allah Swt. Yang menghidupan yang mati dan Yang mematikan yang hidup, QS 10: Yunus: 31,  tubuh kita milik Allah Swt. itu berarti bahwa ketika kita merasakan rasa kantuk itu semua adalah karena Allah Swt. bukan karena bagian dari rutinitas tidur, dan Allah Swt -lah yang memberikan nikmat tidur di malam hari, begitu juga dengan saat kita melakukan rutinitas lain seperti makan, minum, ke kamar mandi buang air, berkendaraan, bekerja, dsb.  Paradigma kausalitas adalah ketika kita merasa seolah-olah semua milik kita, apapun yang saya lakukan adalah hak saya, mau itu berbuat kezaliman atau kedurhakan itu adalah hak Saya, karena Saya ini adalah milik Saya, tubuh saya adalah milik Saya.  Puasa berfungsi untuk menghancurkan paradigma kausalitas.  Allah Swt. yang memiliki segalanya, tubuh kita ini hanya titipan, ada hak dan kewajiban kepada Allah Swt.  Misalnya berbuat kebaikan, santun kepada istri dan anak bagi suami begitu pula sebaliknya, peduli lingkungan, menjaga kesehatan sehingga tubuh terpelihara karena hanya titipan, maka hal ini adalah indikasi kita tunduk kepada Allah Swt. melaksanakan apa yang diwajibkan oleh Allah Swt. begitu juga ketika tubuh ini menderita sebentar ketika tidak minum dan makan serta menahan diri dari berhubungan dengan istri di siang hari.  Sebagai seorang manusia kita harus sabar, dan dalam proses berpuasa kita merasakan ketidaksempurnaan kehidupan di dunia ini, dan hanya Allah Swt. yang menghilangkan lapar dan dahaga bukan makanan atau minuman yang setiap hari kita makan.

Paradigma kausalitas hanya mengatur saya dan tubuh Saya atau Saya dan perbuatan Saya, sedangkan paradigma taqwa mengatur Saya, Allah Swt. dan tubuh Saya atau perbuatan Saya.  Allah Swt. yang memiliki tubuh Saya dan Saya hanya dititipin untuk menjaga dan melaksanakan perintah-Nya. Analoginya ketika kita bersilaturahmi ke seorang teman, dan kemudian kita melihat-lihat rumahnya melihat pemandangan letak perabotan yang kurang srek kemudian kita mengatur perabotan yang ada di rumah tersebut,  tentunya si empunya akan marah besar karena rumah itu adalah rumahnya.  Begitu juga dengan tubuh kita, Allah Swt telah menurunkan kitab Al-Quran dan Hadist melalui Rasulullah Saw. untuk mengatur kehidupan manusia agar sesuai dengan Sunatullah.  Maka puasa berfungsi sebagai rem paradigma kausalitas.  Janganlah kita terjebak dalam seremonial kausalistik dalam berpuasa atau terjebak dalam rutinitas.  Paradigma taqwa adalah semua ini baik apa-apa yang ada di dunia dan langit  adalah milik Allah Swt. maka kita tunduk kepada perintah-Nya.

Demikian itulah hakikat dari iman kepada yang ghaib yang terefleksikan di dalam kehidupan.  Semua apa yang kita lakukan, makan minum, ke toilet buang air atau setelah buang air, sebelum tidur setelah tidur, keluar rumah, di dalam kendaraan, dalam bekerja adalah semuanya karena Allah Swt.  untuk itulah kita berdoa minimal ketika akan memulai suatu pekerjaan atau aktivitas mengucapkan Bismillah dan selesai melakukan suatu pekerjaan atau aktivitas mengucapkan Alhamdulillah. Pada hari ini kita berpuasa juga karena Allah Swt. bukan karena rutinitas, kita tidak tahu kapan kita akan menghadap kepada-Nya,maka lakukanlah semua ini karena Allah Swt.

Wallahua’lam bishowaab

Disadur dari ceramah uztad Arifin Jayadiningrat

Makna Kemerdekaan

Assalammu’alaikum wr. wb.

Ketika sholat jum’at penulis mendengarkan khatib yang kebetulan pada waktu itu adalah Uztad Ahmad Satori Ismail, walaupun ceramah cukup singkat namun maknanya sangat dalam dan membekas di dalam diri penulis.  Barangkali ceramah seperti ini seharusnya sangat menginspirasi pemimpin dan rakyat negara tercinta ini untuk keluar dari keterpurukan dan menjadi bangsa yang besar dan terhormat.

benderaBeliau memaparkan sejarah (sirah)  kerasulan Muhammad Saw. dan mengatakan bahwa kemerdakaan adalah seharusnya dalam segala aspek, termasuk aspek politik dan ekonomi.  Bahkan ketika itu Rasulullah Saw. melihat masyarakat muslim pergi ke pasar yang ketika itu dikuasai oleh kaum Yahudi, kemudian Beliau memerintahkan untuk membangun pasarnya sendiri.

Pada suatu waktu ketika musim kemarau datang, air biasanya sulit untuk didapat dan ketika itu ada satu sumur di kota Madinah yang kebetulan juga milik kaum yahudi yang tidak pernah kering, sehingga masyarakat harus rela mengantre seperti mengantre BLT setiap hari dan harus membayar sejumlah uang kepada si pemilik.  Melihat kondisi seperti ini Rasulullah saw., prihatin dan beliau bersabda,”Wahai Saudara-Saudaraku barangsiapa yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu dan disumbangkan kepada umat maka akan mendapatkan surganya Allah Swt!”

Ketika para sahabat mendengar sabda itu yang pertama kali terhentak untuk bisa merebut sumur tersebut adalah sahabat Utsman bin Affan r.a. yang memang beliau adalah saudagar yang kaya dan cerdik.  Beliau langsung mendatangi orang yahudi tersebut dan karena yang ada dalam pikiran Utsman r.a. bahwa yang didapat adalah Surga maka beliau berniat membayar berapapun yang diminta oleh si pemilik dan akan memberikan kepada umat secara ‘gratis‘ karena seyogyanya air  memang gratis.

Singkat cerita, sang pemilik tidak mau menyerahkan propertinya karena sumur air tersebut merupakan sumber pendapatan hariannya.  Bahkan ketika Utsman r.a. menawar harga hingga 3(tiga) kali dari harga pasar, sama sekali hal tersebut tidak digubris oleh sang pemilik.  Terpaksalah pada hari itu sahabat Utsman r.a. pulang dengan tangan hampa.  Tetapi Sahabat yang cerdik ini hari berikutnya kembali lagi tentunya membawa proposal lainnya. Beliau berkata kepada sang pemilik “Bagaimana kalau Saya membeli separo sumur Anda? Dengan begitu Engkau masih memiliki sumber pendapatan dan mendapatkan uang yang banyak!” Sang pemilik berkata, “Bagaimana caranya membagi menjadi separo?”  Sahabat mengatakan,”Yang saya maksud dengan saparo adalah hari ini sumur ini milik Saya besok sumur ini milik Anda dan begitu seterusnya!” Sang pemilik berpikir sebentar dan akhirnya setuju atas proposal Utsman r.a.

Begitu sudah sepakat dan kontrak pembelian ditandatangani segera saja sahabat Utsman r.a. mengumumkan kepada umat muslim bahwa Beliau sudah membeli separo dari sumur, dan masyarakat bisa mengambil air gratis tetapi karena baru separo, sahabat Utsman r.a. mengatakan bahwa kalau bisa pada saat sumur tersebut menjadi menjadi miliknya sebisa mungkin mengambil air untuk persediaan dua hari sehingga masyarakat tidak perlu membayar untuk hari berikutnya.  Sehingga begitulah akhirnya, masyarakat mengambil air untuk persediaan dua hari.  Dan ketika giliran pemilik yang separo lagi, orang yahudi tersebut langsung bingung mengapa orang Muslim yang biasanya mengantre, hari tersebut tidak terlihat ada yang mengambil air, dan setelah berlangsung selama sebulan maka kembali datanglah Ustman bin Affan r.a. untuk menawarkan pembelian separuh properti orang Yahudi tersebut dari pada dia tidak mendapatkan uang sama sekali.  Dan akhir cerita sahabat Ustman berhasil membebaskan ketergantungan umat dari air.

Sejarah tersebut seharusnya juga menginspirasi kita untuk mendapatkan kebebasan umat secara ekonomi, politik dan sosial.  Negara ini masih sangat tergantung dari pihak-pihak luar padahal sumber daya begitu kaya dan jumlah penduduk begitu potensial.  Tentunya hal ini tidak bisa disalahkan pada pemimpin di masa lalu saja, bisa jadi pemimpin kita juga memiliki keterbatasan, namun di luar itu semua dari kita harus berpikiran bahwa keuntungan jangka panjang dapat diraih bersama ketika “keuntungan” ini adalah kemasalahatan jangka panjang, dan bukan keuntungan jangka pendek (baca: bottom line).

Bangsa ini memerankan peranan yang luar biasa penting, beberapa kali Presiden Barack Obama menyatakan ingin berkunjung ke Indonesia di bulan November 2009 ini karena Beliau membaca bahwa Indonesia yang memiliki jumlah populasi muslim terbesar di dunia dan terkenal dengan Muslim yang moderat serta dapat menghargai serta sangat toleran dengan agama lain, bisa menjadi contoh bagi dunia terutama karena dunia ini sedang dilanda oleh konflik civilization yang besar khususnya dunia Muslim dan barat, terutama di bidang sosial, politik dan ekonomi.  Presiden Barack Obama melihat bahwa kekayaan seni budaya baik yang tradisional maupun kontemporer bisa membawa kedekatan antara dua budaya yang sedang berkonflik (sumber: project syndicate)

Mudah-mudahan kemerdekaan bangsa ini mendapatkan keberkahan dari Allah Swt. dan rakyatnya terbuka matanya untuk memahami makna hakiki dari kemerdekaan yaitu kemerdakaan dalam segala hal, dan pada akhirnya diri Kita sendirilah yang menentukan arah kemana bangsa ini akan pergi dan posisi bangsa ini ketika berdiri dan bersanding sejajar serta mendapatkan kehormatan dari bangsa-bangsa lain karena budaya toleran dan saling menghargai yang merupakan  fondasi utama karakter bangsa ini, dan bisa jadi salah satu modal kekuatan untuk mandiri dan memberikan kontribusinya kepada dunia.

Merdeka!!!

Wallahua’lam bishowaab

Bagaimana Raksasa Dunia Jatuh, dan Bagaimana Dia Menolak untuk Menyerah!

Assalammu’alaikum wr. wb.

Melihat, mendengar dan membaca review buku ‘How the Mighty Fall‘ yang ditulis oleh Jim Collins, yang bercerita mengenai perusahaan-perusahaan besar jatuh, mengingatkan penulis bahwa dalam waktu dekat akan ada suksesi kepemimpinan di republik ini, baik pemimpin baru maupun pemimpin lama yang mungkin terpilih dan diangkat kembali. Penulis tidak akan berdebat siapa pemimpin yang akan terpilih, karena hal itu tidak penting, yang lebih penting adalah  bagaimana raksasa tersebut, bisa dalam bentuk perusahaan, industri, masyarakat, institusi, bahkan negara tidak terperosok kedalam siklus kehidupan.

Paling mudah adalah belajar dari sejarah kehidupan, kejayaan perusahaan dan negara-negara di masa lalu, kenapa mereka bisa besar lalu jatuh dan hilang ditelan waktu! Pelajaran yang sangat berharga karena proses tersebut tidak berlangsung dalam waktu semalam, namun melalui fase-fase, terutama kaitannya dalam hal ini adalah fase-fase kejatuhan.

Mungkin Allah Swt. memiliki cara-Nya sendiri dalam berkomunikasi melalui ayat-ayat-Nya, dan penulis menemukannya dalam ayat-ayat-Nyagreatness by jim collins yang begitu mulia.  Penulis sendiri kebetulan sedang membaca Al-Qur’an dan kebetulan berada di ayat-ayat pertengahan di Surat Al-Anfal (Surat ke-8) di sana penulis melihat pada ayat-ayat 47-54, seperti merefleksikan keadaan sebuah masyarakat besar yang angkuh seperti jaman Pharaoh (Mesir kuno) salah satunya dimana di dalam review buku tersebut disebut sebagai “Hubris born of Success” yang berarti adalah kesombongan karena kesuksesan dan menurut Al-Quran ini adalah hasil bisikan setan yang membuat organisasi atau masyarakat tersebut berpendapat,:”Tidak ada yang dapat mengalahkan Kami pada hari ini”

Menurut buku tersebut ini merupakan fase/stage I (pertama) dari sebuah kejatuhan. Namun dalam hal ini bukanlah jawaban yang sebenarnya kita cari, melainkan pertanyaan yang sangat mendasar, yaitu,”Apakah kita termasuk dalam fase tersebut?Atau” Ah tidak…, kita adalah orang-orang yang sedang mengejar kebesaran menjadi besar dan terhormat.”  Tentunya akan mudah membedakan sebuah institusi atau masyarakat yang mengejar kebesaran dibandingkan dengan institusi atau masyarakat yang dalam sedang fase kejatuhan.  Insitusi atau organisasi, bahkan negara yang memiliki orang-orang yang tepat, mendiskusikan berbagai masalah dan fakta-fakta yang ada yang kemudian bertindak serius untuk mencari dan memberikan solusi, dan dari waktu ke waktu mengambil keputusan yang serius.  Semua ini  adalah tanda-tanda institusi atau organisasi tersebut sedang menuju kebesaran (greatness).  Berbeda dengan sebuah institusi, organisasi, dan negara atau generasi yang sedang dalam fase kejatuhan, yaitu ketika memasuki fase berikutnya dikenal dengan “Ketidakdisiplinan untuk Mendapatkan Lebih” atau lebih mudah diartikan sebagai ‘greed‘ atau ketamakan yang merupakan saudara dekat kesombongan.  Kita bisa melihat kejatuhan industri-industri besar seperti Citigroup, Bank of America, AIG, GM, Chrysler, New York Times, atau bahkan negara seperti Dinasti Chou, Athena, Romawi, bahkan kerajaan Inggris Raya dimana 100 tahun lalu menjadi super power , mereka merasa besar dan ingin bertumbuh cepat sehingga mengambil keputusan-keputusan berdasarkan ‘greed‘ (bisikan setan) yang menyebabkan mereka memasuki fase berikutnya yaitu fase yang disebut dengan “pengingkaran akan risiko dan bahaya kegagalan”.

Ketika perusahaan besar melakukan aktivitas M&A (merger & akuisisi) secara membabi buta hanya untuk mengejar kebesaran yang sifatnya tidak ‘sustainable (bertahan lama)‘, atau memilih seorang pemimpin karismatik sebagai juru selamat dan menganggap pemimpin tersebut dapat menyelesaikan segalanya padahal sebenarnya organisasi atau institusi tersebut sudah memasuki fase kejatuhan atau kemunduran. Hingga mereka memasuki fase keempat yaitu “grasping for salvation” yang memiliki arti “ketidaksabaran akan langkah penyelamatan”

Dan pada fase ini, institusi, dan organisasi, atau negara bisa diartikan dalam keadaan krisis apabila tidak melakukan langkah-langkah dengan benar maka dia akan terperosok pada fase terakhir yaitu fase penyerahan diri terhadap kematian atau ketidakrelevanan dengan jaman seperti yang terjadi dengan kerajaan Mesir kuno, atau Romawi, atau bahkan kerajaan Inggris Raya.

Menurut Anda apakah negara republik ini tercinta atau organisasi kita pada scope yang lebih kecil termasuk di dalam satu dari fase di atas? Hmmm… sepertinya jawabannya tidak semudah yang dibayangkan atau barangkali  lebih mudah bagaimana kita memberikan pertanyaan yang bagus seperti “Apakah negara atau organisasi kita ini sedang menuju ke sebuah kebesaran (greatness) atau tanpa kita sadari sedang memasuki sebuah fase kehidupan seperti fase hubris born of success (kesombongan) atau undiciplined pursuit of more (ketamakan)?”

Wallahua’lam bi showaab