Risiko Sistemik Itu – Datang tidak Diundang Pergi tidak Diusir

Assalammu’alaikum wr. wb.

Sepertinya istilah systemic risk (risiko sistemik) yang sedang popular di dunia perbankan, kini menjadi jargon acuan dan menunjukkan taringnya kembali di tahun baru ini. Bisnis perbankan adalah bisnis yang berisiko tinggi, karena perbankan utamanya adalah berbisnis duit. Bank tidak boleh kebanyakan duit nganggur karena biayanya tinggi dan di lain pihak harus punya likuiditas cukup untuk melayani nasabahnya.  Untuk menanggulangi risiko, pemain harus memiliki teman bermain untuk mengurangi risiko kalah dalam permainan, misalnya sewaktu-waktu butuh bantuan ada yang membantu.  Yang jadi masalah dalam bisnis keuangan, payung atau bantuan yang disediakan oleh rekan-rekan kita biasanya terjadi di musim kemarau ketika institusi tersebut tidak terlalu butuh bantuan, namun ketika musim hujan lebat datang menghampiri , payung tadi ditarik, bila institusi tadi menghadapi badai keuangan besar  tidak akan ada seorang teman pun yang sudi memberikan bantuan. Barangkali hal ini pernah juga terjadi pada Anda, misalnya saat ini anda punya pabrik tekstil dan butuh bantuan untuk menjalankan roda usaha anda, sedangkan saat ini industri tekstil sedang terancam oleh masuknya produk impor dari China, nah tadinya bank-bank yang tadinya menawarkan kredit relatif mudah, namun saat ini mereka tidak bersedia menambah line credit anda.  Karena hal ini sangat berlaku institusi itu bersifat individu yang mengalami kesulitan likuiditas untuk memenuhi kewajibannya, sebagai contoh kasus bank-bank kecil yang ditutup di Indonesia atau diambil alih oleh pemerintah.

Namun ketika ada gangguan eksternal seperti krisis ekonomi global, perubahan nilai saham yang sangat berfluktuatif di pasar modal, sampai dengan masalah external fraud (baca: risiko kriminal dari luar system) seperti ATM/EDC/Internet Banking/SMS Banking skimming, dunia perbankan benar-benar dibuat kalang kabut untuk mengatasi risiko-risiko credit, market dan operasional seperti ini yang bisa merusak image perbankan dan pada akhirnya faktor psychology yang berkembang cepat dalam waktu yang cukup singkat bisa menggoncang industri suka atau tidak suka.

Risiko-risiko di luar (credit dan market risk) ini tentunya bisa jadi tidak seluruhnya dapat diukur melalui ukurun-ukuran keuangan, data statistik, maupun financial indicator lainnya atau menunggu undang-undang untuk disahkan karena kejadian kegagalan proses internal, system dan sumber daya manusia belangsung sangat cepat dan dalam waktu yang relatif sangat pendek. risiko operasional adalah risiko yang tidak bisa dihindari dari fungsi sebuah bisnis, dalam hal ini industri perbankan.  Memang ada pendekatan atau semacam kerangka kerja yang bisa dilakukan seperti identifikasi, pengukuran, monitoring, kontrol, reporting, dan mitigasi.  Mungkin metode ini efektif untuk mengatasi internal fraud tapi bagaimana dengan ancaman yang sifatnya eksternal. Kolaborasi diantara para perilaku industri dan regulator dibutuhkan untuk memitigasi atau meminimalkan risiko-risiko tersebut yang dapat timbul sewaktu-waktu.

Perbankan mau tidak mau dan suka tidak suka harus berkoordinasi karena risiko apapun dapat dengan mudah menyebar seperti pandemik yang pada akhirnya dapat meruntuhkan industri perbankan itu sendiri apabila kepercayaan publik akan dunia perbankan runtuh yang menyebabkan moral hazard misalnya melalui penarikan cash (fund withdrawal in a significant scale) atau perpindahan dana besar-besaran dari industri perbankan yang tentunya akan menyebabkan lost & chaos, walaupun kita masih berharap banyak bahwa kondisi makro di tahun 2010 akan jauh lebih membaik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.  Jangan biarkan risiko-risiko di atas mengambil alih kondisi yang sudah memberikan kepastian bagi ekonomi Indonesia.  Saatnya bagi industri perbankan untuk bahu membahu dan saling bertukar informasi maupun pengalaman dalam mengatasi fraud terutama fraud terkait Information Technology dan sumber daya manusia di dalamnya.

Raditio Ghifiardi

Koprol.com Microblogging / Social Networking Made In Indonesia – Sudah Saatnya?

Assalammu’alaikum wr. wb.

Sudah saatnya Indonesia memiliki social network sendiri yang kontennya adalah konten lokal.  Penulis melihat koprol mirip-mirip dengan twitter yang juga melakukan update dengan jumlah karakter 140 dan tampilan yang sederhana.  Memang ada perbedaan yaitu dia menerapkan yang disebut dengan location based social network sama seperti brightkite dengan penambahan komentar mengenai lokasi yang kita kunjungi dan lokasi tersebut ada di Indonesia karena memang konten dan konteksnya adalah lokal.

Versi koprol masih beta dan anggotanya masih berdasarkan invitation, cukup banyak sudah anggota koprol di jakarta saja penulis lihat sekitar 4800-an member yang terlihat.  Social network yang seperti ini memang lebih dinamis, dan sepertinya bisnis social network di Indonesia sudah visible.  Memang penulis masih melihat ke depan koprol kemungkinan akan mengambil pendapatan dari iklan-iklan di merchant yang mungkin tidak memiliki banyak budget untuk beriklan atau pilihan untuk beriklan online belum visible, karena sering kali hasilnya tidak dapat diukur.

Menurut Chris Anderson dalam bukunya the long tail :

Theory Long Tail pada budaya dan ekonomi makin memungkinkan ‘shifting’ yang sifatnya menjauhi fokus terhadap produk-produk dan pasar utama yang sering disebut dengan ‘blockbuster’ yang bertindak sebagai kepada demand  curve pada kurva demand, menuju sejumlah besar produk-produk niche pada ‘tail’ kurva demand.  Hal ini dimungkinkan karena biaya produksi dan distribusi mengalami penurunan, terutama internet, sehingga kebutuhan untuk promosi one fit all dalam satu wadah makin berkurang. Pada era dimana keterbatasan fisik seperti ketersediaan tempat dan rintangan lainnya pada sistem distribusi, produk-produk atau jasa yang ditargetkan pada konsumen tertentu secara ekonomis sudah menarik sama seperti produk dan jasa utama.

Bisa jadi bisnis menengah dan kecil yang tidak mungkin bisa beriklan, sekarang melalui social network dimungkinkan untuk beriklan dan promosi yang ditujukan kepada nasabah atau calon nasabah tertentu spesifik (seperti di facebook banyak invitation menjadi anggota group)atau yang kebetulan lokasinya  sedang berada di lokasi dekat merchant-merchant tersebut (koprol).  Produk-produk atau jasa yang disebut chris anderson ditargetkan kepada pelanggan tertentu sudah menarik dan masuk akal untuk ditawarkan.

Penulis berpendapat niche market yang tidak memiliki budget untuk promosi bisa menggunakan media social network lokal untuk melakukan kegiatan promosinya.  Tentunya hal ini juga ada persaingannya terutama akan datang dari provider cellular yang juga menawarkan promosi serupa ketika kita berada di mall atau temat tertentu melalui mobile solution seperti messaging (baca: sms) berbasiskan BTS atau GPS, walaupun berbicara persaingan akan menjadi topik lain pembicaraan.

Yang menarik adalah kita akan (mudah-mudahan kalau social network degan konten atau konteks lokal bisa bertahan) melihat bagaimana social network seperti koprol dapat melakukan kapitalisasi pada pasar yang sudah cukup jenuh ini melalui ide-ide baru yang dimungkinkan karena keberadaan internet dan diperkuat dengan akses koneksi broadband di tanah air ini yang makin meluas.

Teknologi yang dimiliki oleh koprol juga cukup canggih yang memungkinkan hal-hal tersebut di atas bakal bisa terjadi. Sesuai dengan pembicaraan podcast dari para  pendiri koprol.

Sumber: koprol.com & berbagai blog lainnya.

Wallahua’lam bishowaab

Cloud Computing? Apakah Menjadi Sebuah Solusi Efisien Teknologi Informasi Bagi Dunia Bisnis di Indonesia

cloud-computing-kitchen-sink1Assalammu’alaikum wr. wb.

Hari ini Teknologi Informasi benar-benar telah menjadi tulang punggung bisnis dan bukan merupakan sesuatu yang nice to have (baca: life style) tetapi sudah menjadi business enabler (baca: memungkinkan sebuah bisnis bisa berjalan dan bertumbuh).  Tanpa TI, bisnis tidak akan bisa berkembang, inovasi juga akan mandek, konsumen yang menginginkan perbaikan kualitas maupun terobosan menjadi kesal karena bisnis tidak memberikan solusi yang diinginkan, yaitu layanan inovatif, prima dan terjangkau serta kaya dengan fitur.

Para pengguna juga dapat mengakses sumber daya aplikasi tersebut di mana saja dia berada dan tidak perlu harus duduk dikantor asalkan dia memiliki web browser, yang terinstal misalnya di mobile phone . Contoh cloud computing dalam kehidupan kita sehari-hari seperti aplikasi social networking: facebook,  aplikasi peer-to-peer: skype, bittorent, SaaS: Google apps.

Saya sempat berbicara dengan salah satu teman saya mengenai bisnisnya.  Dia termasuk dalam kategori bisnis UMKM dan dia ingin sekali agar bisnisnya tersebut bisa maju.  Namun karena masih belum memiliki solusi TI yang sesuai maka dari sisi operasional sehari-hari saja sudah kelabakan, bagaimana bisa memikirkan bisnisnya dapat berkembang?

Solusi Information Technology tidaklah harus mahal dan rumit, walaupun bisnis model saat ini adalah ketika kita berbicara mengenai salah satu solusi berbasiskan aplikasi, biasanya user terikat dengan berbagai kontrak semacam End User License Agreement, Software maintenance, ongoing operations, patches, dan lain sebagainya.

Bisnis menginginkan on-demand license yang fleksibel dan terjangkau, daripada TI menjadi fixed cost lebih baik menjadi variable cost (pay as you really grow) dan bisa diminimalisasi terhadap lisensi yang memang dibutuhkan, serta ketika bisnis berkembang dia bisa menambah license yang dibutuhkan atau bahkan ketika aplikasi tidak relevan maka bisa saja kontrak diterminasi sewaktu-waktu250px-cloud_computing_economicssvg

Dari sisi provider (baca: applications service hosting/provider) mereka juga terbantu dari sisi kontrol, pemakaian atau utilisasi melalui multi tenancy, dan distribusi lisensi software, bahkan mereka dapat melakukan deployment software di banyak organisasi tanpa harus melakukan pre-install fisik di organisasi tersebut.

Model di atas sering disebut sebagai SaaS (Software as a Service)  atau per-use service-based-model yang merupakan bagian dari Cloud Computing.  Namun, solusi cloud computing tidak terbatas pada aplikasi tertentu, bisa saja untuk aplikasi umum seperti corporate email, dimana user tidak lagi harus melakukan investasi infrastruktur email corporate (server, hard disk) dan  lisensi secara fisik.

Memang solusi untuk email corporate ini membutuhkan sistem keamanan yang terjamin, dan data confidential tidak bocor kepada pihak-pihak yang tidak memiliki hak.  Namun solusi ini memiliki kekuatannya kekuatannya apalagi sekarang ini konsumer sudah memiliki device-device seperti telepon selular (iphone, android, windows mobile) yang mampu memfasilitasi teknologi ini.

Performa bisnis di dalam korporasi akan menjadi lebih baik dengan aplikasi yang berjalan di cloud, karena mereka tidak lagi memikirkan risiko-risiko seperti return on investment sehingga ROA (baca: return on asset) juga lebih baik, tidak perlu lagi investasi sumber daya manusia yang spesifik, dan dengan mudah membuat kontrak di atas kesepatan akan service level agreement, sehingga mendapatkan layanan ketersediaan dan kehandalan sistem yang terjamin, alhasil bisnis intinya bisa berjalan dengan lebih baik karena biaya TI bisa ditekan menjadi jauh lebih efisien.

Konsep Green Computing sudah menjadi bagian dari cloud computing karena sistem menjadi lebih efisien dan seperti yang sudah diketahui yaitu pemakaian  komputer dan infrastruktur pendukungnya memakan sumber daya energi listrik yang sangat besar.  Para pengguna juga dapat mengakses sumber daya aplikasi tersebut di mana saja dia berada dan tidak perlu harus duduk dikantor asalkan dia memiliki web browser, yang terinstal misalnya di mobile phone . Contoh cloud computing dalam kehidupan kita sehari-hari seperti aplikasi social networking: facebook,  aplikasi peer-to-peer: skype, bittorent, SaaS: Google apps.

Wallahu ‘alam bi showab